Pada 2 Agustus 2026, sejarah bulu tangkis kembali dikenang sebagai olahraga yang bermula di Inggris pada abad ke-19. Permainan ini pertama kali dikenal di Badminton House, rumah bangsawan Duke of Beaufort di Gloucestershire, yang kemudian memberi nama olahraga tersebut.
Bulu tangkis merupakan olahraga yang berkembang dari permainan tradisional India bernama Poona. Sekitar tahun 1850-an, permainan ini dibawa ke Inggris dan mulai dikenal luas di kalangan bangsawan. Permainan ini dimainkan dalam format tunggal, ganda, dan ganda campuran dengan peralatan khusus seperti raket dan kok yang memiliki standar tertentu.
Federasi Bulu Tangkis Dunia atau Badminton World Federation (BWF), yang sebelumnya bernama International Badminton Federation (IBF), didirikan pada 5 Juli 1934 oleh sembilan negara termasuk Inggris, Denmark, dan Prancis. Organisasi ini kini berkantor pusat di Kuala Lumpur, Malaysia, dan bertanggung jawab mengatur aturan serta perkembangan olahraga bulu tangkis di dunia.
Asal Usul dan Evolusi
Sejarah bulu tangkis bermula dari permainan Poona yang populer di India. Ketika dibawa ke Inggris, permainan ini mengalami modifikasi dan diadopsi secara resmi di Badminton House. Nama "badminton" sendiri berasal dari nama rumah bangsawan tersebut sebagai penghormatan terhadap tempat di mana olahraga ini pertama kali populer.
Perkembangan bulu tangkis semakin pesat dengan pembentukan IBF pada 1934, yang menetapkan standar aturan permainan serta peralatan. Raket bulu tangkis memiliki panjang maksimal 68 cm, lebar 22 cm, dan berat maksimal 150 gram, dengan kepala raket berukuran 28×22 cm. Kok terbuat dari 16 helai bulu yang menempel pada gabus berdiameter 25-28 mm dan berat 4,74-5,5 gram, sesuai standar internasional.
Pengakuan Internasional dan Olimpiade
Bulu tangkis mulai diakui sebagai cabang olahraga internasional dengan dimasukannya dalam Pekan Olahraga Dunia sejak 1981. Puncaknya, olahraga ini resmi menjadi cabang Olimpiade pada tahun 1992, menandai pengakuan global dan semakin menambah popularitasnya di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Menurut laporan Kompas, sejak masuk Olimpiade, bulu tangkis terus berkembang dengan standar aturan yang diperbarui dan peralatan yang semakin canggih untuk mendukung performa atlet. Sepatu khusus bulu tangkis juga menjadi bagian penting untuk mendukung kecepatan dan kelincahan pemain di lapangan.
Peralatan dan Aturan Dasar Bulu Tangkis
Permainan bulu tangkis menggunakan lapangan dengan jaring setinggi 1,55 meter berwarna gelap dengan bibir putih tebal 75 mm. Raket dan kok dengan ukuran dan berat tertentu menjadi alat utama dalam permainan ini. Para pemain juga menggunakan sepatu khusus yang dirancang untuk mendukung pergerakan cepat di lapangan.
| Peralatan | Spesifikasi |
|---|---|
| Raket | Panjang max 68 cm, lebar 22 cm, berat max 150 gram |
| Kok | 16 helai bulu, diameter gabus 25-28 mm, berat 4,74-5,5 gram |
| Jaring | Tinggi 1,55 meter, warna gelap dengan bibir putih 75 mm |
| Sepatu | Khusus untuk kecepatan gerak di lapangan |
Peran Federasi dan Dampak Global
Federasi Bulu Tangkis Dunia terus mengatur perkembangan olahraga ini dengan memperbaharui aturan dan menggelar turnamen internasional. Sejak perubahan nama dari IBF menjadi BWF pada 2006, organisasi ini berkantor pusat di Kuala Lumpur, Malaysia, dan mengawasi kompetisi di seluruh dunia.
Menurut laporan mediaindonesia.com, bulu tangkis kini menjadi salah satu olahraga paling populer dengan jutaan penggemar di Asia dan dunia. Keikutsertaan dalam Olimpiade semakin mengukuhkan posisi bulu tangkis sebagai olahraga yang mendunia.
"Permainan bulu tangkis yang berasal dari Inggris ini telah berkembang menjadi olahraga internasional yang diminati banyak negara," ujar pakar olahraga dari Universitas Olahraga Nasional.






