Badminton World Federation (BWF) bersama Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) mempertegas komitmen mereka dalam memperkuat regulasi serta tata kelola olahraga bulu tangkis pada Selasa (4/8/2026). Langkah ini diambil guna memastikan pembinaan atlet dan penyelenggaraan kompetisi tingkat global maupun nasional tetap berjalan optimal di tengah persaingan olahraga internasional yang kian kompetitif.
Sebagai induk organisasi bulu tangkis dunia, BWF memegang peran sentral dalam merumuskan aturan permainan, mengelola kalender kejuaraan dunia, serta memperluas jangkauan keanggotaan di berbagai belahan benua. Di tingkat domestik, PBSI bertindak sebagai perpanjangan tangan yang menyelaraskan program pembinaan nasional dengan standar yang telah ditetapkan federasi global tersebut.
Bagi yang ingin memahami "apa itu BWF bulu tangkis", lembaga ini merupakan otoritas tertinggi olahraga tepok bulu tingkat global. BWF didirikan pada 5 Juli 1934 di London, Inggris, dengan inisiatif awal dari sembilan negara pelopor, yaitu Inggris, Belanda, Prancis, Kanada, Denmark, Irlandia, Selandia Baru, Skotlandia, dan Wales.
Perubahan Nama IBF Menjadi BWF
Pada awal berdirinya, badan ini bernama International Badminton Federation (IBF). Perkembangan pesat bulu tangkis di tingkat global memicu perubahan besar dalam struktur organisasi. Pada tahun 2006, dalam pertemuan resmi di Madrid, Spanyol, sebanyak 206 delegasi sepakat mengubah nama IBF menjadi Badminton World Federation (BWF). Saat ini, BWF bermarkas di Kuala Lumpur, Malaysia, dan menaungi sekitar 196 anggota di seluruh dunia.
Peran BWF dalam Bulu Tangkis Internasional
Sebagai pengawas tertinggi, peran BWF dalam bulu tangkis internasional mencakup regulasi teknis permainan, standarisasi alat, hingga pengawasan integritas kompetisi. Selain itu, BWF bertanggung jawab penuh atas penyelenggaraan berbagai kejuaraan beregu maupun individu tingkat dunia.
| Nama Turnamen | Kategori | Format Pertandingan |
|---|---|---|
| Piala Thomas & Uber | Kejuaraan Beregu Dunia | Putra (Thomas) & Putri (Uber) |
| Piala Sudirman | Kejuaraan Beregu Campuran | Campuran (Putra & Putri) |
| BWF World Championships | Kejuaraan Individu | Tunggal & Ganda |
| BWF World Tour | Sirkuit Turnamen Komersial | Individu (Super 100 hingga 1000) |
Perjalanan PBSI dan Sejarah Bulu Tangkis di Indonesia
Di Indonesia, olahraga ini memiliki sejarah panjang yang telah ada sejak era kolonial. Olahraga bulu tangkis sendiri berasal dari Inggris dan mulai dikenal secara luas sejak tahun 1854, sebelum aturan formalnya disusun oleh klub Badminton Bath di London pada tahun 1877. Di tanah air, bulu tangkis bahkan sudah diperpertandingkan sejak Pekan Olahraga Nasional (PON) pertama di Solo pada tahun 1948.
Mengenal Sejarah PBSI di Indonesia
Guna mewadahi klub-klub yang tersebar di wilayah Nusantara, sejarah PBSI di Indonesia resmi dimulai pada 5 Mei 1951 di Bandung. Pada pembentukan awal tersebut, A. Rochdi Partaatmadja terpilih sebagai ketua umum pertama PBSI. Organisasi ini bertugas memimpin tata kelola olahraga bulu tangkis di tanah air serta menghubungkan atlet nasional ke panggung internasional.
Ekspansi Organisasi dan Afiliasi Internasional
Setelah berdiri kukuh di dalam negeri, Indonesia resmi diterima menjadi anggota IBF (sekarang BWF) pada tahun 1954. Perkembangan struktur organisasi PBSI melaju sangat pesat di tingkat daerah. Berdasarkan data sejarah hingga Agustus 1977, PBSI telah membawahi 26 Pengurus Daerah (Pengda) dan 224 Pengurus Cabang (Pengcab), serta menaungi sekitar 2.000 perkumpulan bulu tangkis di seluruh Indonesia. Saat ini, PBSI terhubung erat dengan BWF dan Badminton Asia.
Sistem Pembinaan dan Tradisi Emas Olimpaide
Sistem pembinaan berjenjang yang diterapkan PBSI dari tingkat daerah hingga pusat berhasil melahirkan deretan legenda olahraga nasional. Banyak warga yang penasaran dengan pertanyaan seperti "siapa atlet bulu tangkis Indonesia yang juara Olimpiade?" dalam sejarah panggung olahraga terbesar dunia tersebut.
Jalur Seleksi dan Keanggotaan PBSI
Mengenai pertanyaan publik tentang "bagaimana cara bergabung PBSI", calon atlet harus memulai pembinaan dari perkumpulan atau klub lokal yang terdaftar resmi. Para atlet potensial kemudian mengikuti jenjang seleksi bertahap di tingkat kabupaten/kota (Pengcab) dan provinsi (Pengda) sebelum berkesempatan menembus Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas).
- Bergabung dengan klub atau perkumpulan bulu tangkis resmi lokal.
- Mengikuti kejuaraan daerah yang diselenggarakan oleh Pengcab dan Pengda.
- Mengikuti Seleksi Nasional (Seleknas) PBSI untuk menembus skuad Pelatnas.
Tradisi Medali Emas Olimpiade
Puncak kejayaan pembinaan bulu tangkis Indonesia terukir manis di panggung Olimpiade. Salah satu tonggak sejarah terbesar dicapai oleh Susy Susanti yang berhasil meraih medali emas nomor Tunggal Putri pada Olimpiade Barcelona 1992, yang menjadi emas Olimpiade pertama bagi Indonesia di cabang olahraga ini.
Hingga saat ini, sinergi antara regulasi BWF di tingkat global dan pembinaan PBSI di tingkat nasional terus menjadi fondasi utama bagi keberlangsungan prestasi bulu tangkis Indonesia di kancah dunia.






