Candi Mendut di Kabupaten Magelang ditutup total untuk kunjungan umum mulai 5 Agustus 2026 hingga 5 Agustus 2027 guna menjalani pemugaran tahap kedua. Langkah pelestarian ini ditargetkan rampung sebelum perayaan Waisak 2027, sebagaimana dilansir dari Detik Travel.
Proses rehabilitasi dilakukan untuk memperbaiki bagian atap candi yang masih mengalami kebocoran serta membenahi struktur dinding yang tampak agak menggembung. Selama masa penutupan, pengelola memasang perancah dan membongkar konstruksi semen pada atap agar pekerjaan perbaikan batu asli berjalan optimal.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah, Riris Purbasari, mengonfirmasi penanganan kebocoran tersebut harus dimulai dari bagian atas candi.
"Tujuan pemugaran ini untuk mengatasi hal-hal tersebut," kata Riris Purbasari, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah.
Ia menambahkan bahwa pengerjaan diusahakan selesai lebih cepat agar tempat ibadah tersebut siap dipakai saat hari raya umat Buddha.
"Sehingga penanganannya kita harus dari atas. Ternyata konstruksi atap itu sudah disemen, jadi harus membongkar semen-semen. Batu-batu asli masih banyak (sebelah utara) tahap satu telah mempersiapkan bentuk atap," kata Riris Purbasari, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah.
Demi menjaga keamanan para pengunjung dan pekerja, seluruh kawasan candi dinyatakan tertutup sepenuhnya bagi kegiatan umum maupun peribadatan selama pemugaran.
"(Waktu pemugaran) Kalau waktu kita diberi satu tahun. Tapi, kami upayakan nanti Waisak sudah bisa digunakan kembali. (Mei bisa digunakan) Insyaallah, semoga, minta doa restu dari seluruh masyarakat pekerjaan bisa berjalan lancar, tidak ada kendala jadi nanti Waisak sudah bisa digunakan kembali," kata Riris Purbasari, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah.
Riris menegaskan keputusan penutupan area tersebut merupakan langkah mutlak.
"Jadi sebaiknya ya kita tutup seratus persen untuk pemanfaatan supaya kami bisa bekerja dengan optimal. Iya (clear area)," kata Riris Purbasari, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah.
Pihak pengelola juga menambah jam kerja hingga malam hari agar durasi pengerjaan tidak melebihi target yang telah ditetapkan.
"Memang dikejar sampai malam supaya durasi kurang dari satu tahun bisa terwujud. Sehingga nanti Waisak sudah bisa selesai dan bisa dipakai untuk ibadah," kata Wiwit Kasiyati, Kepala Sub Koordinator Museum dan Cagar Budaya Unit Warisan Dunia Borobudur.
Wiwit menilai penyelesaian perbaikan sebelum Waisak sangat krusial bagi perekonomian warga lokal.
"Karena Waisak ini terasa banget di masyarakat sekitar Mendut manfaat ekonominya," kata Wiwit Kasiyati, Kepala Sub Koordinator Museum dan Cagar Budaya Unit Warisan Dunia Borobudur.
Setelah restorasi selesai, bangunan candi akan dipasangi stupa atas dan penampil depan yang telah ditemukan kembali lewat susun coba.
"Karena stupa di atas akan terpasang. Teman-teman telah melakukan susun coba ternyata ditemukan dan bagian penampil depan (ditemukan) sehingga akan tampak lebih cantik," kata Wiwit Kasiyati, Kepala Sub Koordinator Museum dan Cagar Budaya Unit Warisan Dunia Borobudur.
Pengelola berencana mengoptimalkan daya tarik malam hari dengan dukungan fasilitas pencahayaan yang baru.
"Setelah (selesai) akan kita manfaatkan bersama dengan Dinas Pariwisata. Insyaallah kunjungan sampai malam hari akan kami siapkan. Karena kami sudah punya instalasi lampu (diperbaiki)," kata Wiwit Kasiyati, Kepala Sub Koordinator Museum dan Cagar Budaya Unit Warisan Dunia Borobudur.
Pemerintah Kabupaten Magelang memberikan dukungan penuh terhadap proyek rehabilitasi cagar budaya tingkat nasional dan warisan dunia ini.
"Pemkab Magelang mendukung rencana rehabilitasi Candi Mendut tahap 2 sebagai upaya pelestarian cagar budaya tingkat nasional dan warisan dunia," kata Farnia Berliani Sri Tulodho, Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Magelang.
Pemerintah daerah berharap pemugaran bentuk asli candi dapat mendongkrak angka kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara.
"Rencana rehabilitasi Candi Mendut tahap 2 tersebut diharapkan akan mendukung pariwisata di Kabupaten Magelang sebagai tujuan wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara. Karena dalam rencana Candi Mendut akan dipugar sesuai bentuk aslinya antara lain dengan melengkapi beberapa bagian yang selama ini belum ada misalnya atap candi," kata Farnia Berliani Sri Tulodho, Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Magelang.
Kawasan sekitar candi mulai dipasangi pengumuman penutupan, sementara para pelaku usaha lokal berharap hasil pemugaran akan membawa keberkahan ekonomi meski harus menghadapi ketidakpastian selama penutupan.
"Suatu saat nanti kalau jadi bagus kan kita juga yang senang. Siapa tahu ke depannya semakin ramai. Tapi di sisi lain, selama 1 tahun itu nasib pedagang gimana," kata Siti Khotimah, pedagang suvenir di Candi Mendut.
Siti menyebut sosialisasi penutupan sudah diterima warga, termasuk informasi mengenai percepatan durasi pengerjaan.
"Nggih, (ditutup) selama 1 tahun. Awalnya 2 tahun (informasi awal), tapi ada percepatan," kata Siti Khotimah, pedagang suvenir di Candi Mendut.
Sosialisasi mengenai proyek rehabilitasi dan skema kompensasi bagi pihak terdampak telah dimusyawarahkan bersama paguyuban pedagang.
"Sudah dapat reng-rengan (besaran), tapi ya belum deal banget, masih mengambang. Jadi masih diteruskan. Untuk wacananya itu yang diutamakan yang punya kios-kios itu," kata Sugiyo, juru parkir di Candi Mendut.
Sugiyo menambahkan bahwa aspirasi para pedagang terus dibahas demi mencapai kesepakatan bersama.
"Ya jelas (sosialisasi). Kita yang tahap dua ini memang benar-benar peduli dengan yang terdampak di sini. Jadi apa yang dikarepke (dihendaki) paguyuban dimusyawarahkan," kata Sugiyo, juru parkir di Candi Mendut.






