Susah Mengontrol Emosi Ini Cara Bersikap Dewasa dalam Menghadapi Masalah

30 Juni 2026, 22:38 WIB

Mengapa banyak orang yang usianya terus bertambah namun tetap kesulitan mengontrol emosi saat menghadapi masalah? Mengetahui cara bersikap dewasa menjadi kunci penting agar Anda tidak mudah terseret dalam konflik yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Sikap dewasa bukanlah sebuah hadiah otomatis yang datang bersamaan dengan tiupan lilin ulang tahun.

Kedewasaan merupakan hasil dari proses belajar, pembersihan hati, serta latihan kedisiplinan yang dilakukan secara sadar setiap hari. Banyak orang keliru menganggap bahwa pertambahan usia linear dengan kematangan sikap seseorang. Dalam realitas sosial yang sering kita temui, narasi ini sering kali patah oleh kenyataan lapangan.

Dilansir dari RRI Kediri, kajian Mutiara Pagi yang berlangsung pada Selasa, 23 Juni 2026, menegaskan bahwa menjadi tua dan dewasa adalah dua dimensi yang sepenuhnya berbeda. Menjadi tua merupakan proses biologis yang tidak dapat dihindari oleh makhluk hidup.

“Setiap manusia tidak ada yang bisa untuk melawan waktu dan takdir, setiap hari sejatinya kita bukan merayakan pertambahan umur kita namun merayakan semakin berkurangnya umur kita di dunia. Menjadi tua dengan dewasa merupakan hal yang berbeda. Banyak sekali contoh disekitar kita mereka sudah tua namun ada yang masih tidak memiliki sikap, cara pemikiran, cara pengambilan keputusannya masih belum dewasa.”

Kutipan dari Ustd Dr. Ahmad Fakhruddin F.I, M.Th.I, CDAI selaku Pengasuh PP Darul Qawa’id dan Dosen Prodi KPI UNHASY tersebut membedakan dengan jelas bahwa usia biologis tidak menjamin kematangan psikologis. Perbedaan orang tua dan orang dewasa terletak pada bagaimana seseorang mengendalikan diri dan mengambil keputusan.

Secara teologis, fase pertumbuhan manusia dari lemah, menjadi kuat, hingga kembali menua sebenarnya telah digambarkan secara presisi. Kitab suci Al-Qur'an Surat Ar-Rum ayat 54 menjelaskan siklus fisik tersebut sebagai takdir yang pasti terjadi pada setiap individu.

Namun, untuk urusan kematangan perilaku, Ustd Ahmad Fakhruddin menambahkan bahwa hal tersebut membutuhkan dimensi spiritual yang mendalam. Beliau menyatakan bahwa menjadi tua adalah ketetapan Allah SWT, tetapi menjadi dewasa merupakan pembersihan hati, pengendalian diri, dan perbaikan akhlak. Mengacu pada pesan Nabi Muhammad SAW, baik atau buruknya seluruh perilaku manusia sangat bergantung pada poros hatinya. Ketika hati bersih, maka respons terhadap ekosistem sekitar akan melahirkan tindakan yang bijaksana dan dewasa.

Langkah Praktis Melatih Kedewasaan dalam Bersikap

Melatih kedewasaan memerlukan panduan taktis yang bisa diterapkan dalam interaksi harian Anda. Berdasarkan pengalaman nyata dalam pendampingan karakter, perubahan tidak akan terjadi tanpa adanya struktur langkah yang konsisten.

Berikut adalah urutan langkah konkret yang dapat Anda lakukan untuk membentuk kedewasaan bersikap:

  1. Melakukan Introspeksi Diri secara Berkala: Sediakan waktu khusus setiap malam untuk mengevaluasi bagaimana Anda merespons dinamika sosial sepanjang hari. Kesalahan umum yang saya lihat adalah orang cenderung menyalahkan keadaan luar daripada memeriksa ego sendiri.
  2. Mengendalikan Impulsivitas Emosi: Saat menghadapi pemicu stres atau konflik, berikan jeda 5 hingga 10 detik sebelum berbicara atau mengambil tindakan. Langkah ini melatih otak rasional untuk mengambil alih kendali dari otak emosional Anda.
  3. Melihat Ujian sebagai Media Pembelajaran: Mengubah sudut pandang terhadap masalah hidup adalah tanda kematangan emosi yang sejati. Menurut Bapak Faiz Baddriduja, S.Si., M.A. selaku Dosen Mata Kuliah Agama, ujian hidup harus dilihat sebagai pelajaran berharga untuk memperbaiki akhlak dan melatih diri menjadi lebih dewasa.
  4. Memverifikasi Informasi Sebelum Merespons: Di era banjir informasi saat ini, orang dewasa tidak akan langsung menelan mentah-mentah berita yang beredar. Anda wajib memeriksa kebenaran data demi menjaga keharmonisan bersama.
Kedewasaan Dalam Pikiran | Henny Kristianus

Mengasah Toleransi dan Moderasi Beragama

Salah satu ujian terbesar dari kedewasaan bersikap adalah bagaimana cara menghargai perbedaan agama di tengah masyarakat yang majemuk. Menghargai perbedaan bukan sekadar slogan, melainkan tindakan nyata yang terukur. Tantangan terbesar dalam merawat kerukunan sering kali berakar dari pemahaman yang dangkal.

Buku berjudul Manajemen Kerukunan Umat Beragama (2021) pada halaman 95 memaparkan fakta bahwa toleransi beragama masih menjadi tantangan besar bagi sebagian masyarakat akibat pemahaman ajaran agama secara tekstual. Untuk mengatasi kendala tersebut, penerapan prinsip moderasi beragama adalah solusi mutlak yang tidak bisa ditawar lagi. Moderasi menuntut Anda untuk berdiri di posisi tengah, tidak ekstrem, dan tetap menghormati keyakinan kelompok lain.

Di era kontemporer ini, tantangan menjaga kerukunan bergeser ke ruang digital. Zuniar, seorang Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam sekaligus Mahasiswa Program Doktor Ekonomi Syariah UIN Ar-Raniry Banda Aceh, memberikan perspektif penting mengenai fenomena ini.

Menurut Zuniar, pada era digital saat ini, moderasi beragama dan literasi digital harus berjalan beriringan secara seimbang. Sinergi ini berfungsi sebagai benteng harmoni untuk memverifikasi informasi secara kritis guna melindungi masyarakat dari hoaks dan intoleransi. Berikut adalah beberapa tips menyikapi hoaks di media sosial yang bisa langsung Anda praktikkan sebagai wujud kedewasaan:

  • Sllu periksa sumber berita apakah berasal dari media massa resmi atau akun personal yang tidak jelas identitasnya.
  • Jangan menyebarkan berita yang mengandung unsur provokasi atau adu domba antarumat beragama.
  • Gunakan bahasa yang santun dan kepala dingin saat berdiskusi mengenai isu-isu sensitif di kolom komentar.

Menerapkan Kedisiplinan untuk Membentuk Karakter

Kedewasaan bersikap juga sangat dipengaruhi oleh tingkat kedisiplinan seseorang dalam mengelola hidupnya. Karakter yang kuat dan tangguh tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari latihan yang ketat dan konsisten.

Jika Anda mencari role model dalam pembentukan mental, cara melatih kedisiplinan seperti militer dapat menjadi referensi yang sangat baik. Melalui latihan yang terstruktur, ego pribadi ditekan demi kepentingan yang lebih besar. Sebagai contoh nyata pada tahun 2026, Resimen ke-24 dari Divisi ke-304 melaksanakan program pembinaan intensif. Mereka menerima dan melatih lebih dari 400 rekrutan baru yang berasal dari wilayah provinsi Lao Cai, Tuyen Quang, dan Phu Tho.

Proses transformasi karakter para rekrutan baru tersebut tidak terjadi secara instan. Durasi pelatihan militer yang berjalan selama 3 bulan terbukti mampu mengubah pola pikir dan membentuk ketahanan fisik serta mental yang luar biasa. Meskipun Anda tidak berada di barak militer, esensi dari latihan tersebut tetap bisa diadaptasi dalam kehidupan sipil. Kedisiplinan mengatur waktu tidur, menyelesaikan tanggung jawab pekerjaan tepat waktu, dan menepati janji adalah bentuk konkret kedewasaan.

Perbandingan Komponen Utama Kematangan Sikap Manusia
Komponen Karakter Aspek Pembentuk Indikator Kedewasaan
Spiritual Pembersihan hati Akhlak mulia dan ketenangan diri
Sosial Toleransi beragama Menghargai perbedaan tanpa konflik
Intelektual Literasi digital Mampu menyaring hoaks dengan kritis
Mental Kedisiplinan ketat Tanggung jawab penuh pada kewajiban

Pembentukan kedewasaan bersikap merupakan perjalanan seumur hidup yang melibatkan pembersihan hati, pengelolaan emosi yang matang, serta kedisiplinan yang konsisten. Ketika Anda mampu menghadapi perbedaan secara bijak dan menyaring informasi dengan kritis di era digital, saat itulah esensi kedewasaan sejati telah bekerja di dalam diri Anda.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang