Kualitas Pendidikan Indonesia Rendah, Ini 5 Langkah Memperbaikinya

22 Juni 2026, 01:03 WIB

Cara mengatasi pendidikan yang rendah memerlukan langkah taktis yang menyeluruh agar kualitas proses belajar-mengajar di Indonesia dapat meningkat secara merata. Masalah mutu pembelajaran ini menjadi sorotan tajam setelah data worldtop.org pada tahun 2023 menempatkan Indonesia di peringkat ke-67 dari 209 negara di dunia. Bahkan, badan dunia UNESCO mengategorikan Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki kualitas pendidikan yang rendah.

Kondisi ini tentu membutuhkan penanganan serius dari seluruh lapisan ekosistem pendidikan guna mendongkrak mutu SDM nasional secara signifikan.

Langkah awal untuk menyelesaikan sengkarut ini adalah dengan memahami titik lemah yang terjadi di lapangan secara objektif. Pemerintah sendiri telah berupaya melakukan evaluasi mendalam melalui kebijakan baru yang menyasar akar masalah di tingkat satuan pendidikan.

Menilai Hasil Belajar Lewat Evaluasi Nasional

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mengambil langkah konkret dengan membentuk Asesmen Nasional pada tahun 2023.

Kegiatan evaluasi ini dirancang untuk mengukur hasil pembelajaran luar dalam peserta didik, bukan sekadar nilai angka di atas kertas.

Dari pengalaman saya mengamati dinamika sekolah, hasil Asesmen Nasional sering kali membuka mata para kepala sekolah bahwa literasi dan numerasi siswa masih memerlukan intervensi mendalam.

Asesmen Nasional memotret kondisi riil kualitas pembelajaran di setiap satuan pendidikan secara komprehensif.

Melalui pemetaan yang akurat ini, sekolah tidak lagi meraba-raba dalam menentukan aspek mana yang harus diperbaiki terlebih dahulu.

Menyeimbangkan Aspek Kognitif dan Karakter

Kesalahan umum yang sering saya lihat di lapangan adalah fokus yang terlalu besar pada nilai ujian kognitif semata. Padahal, pembentukan manusia seutuhnya melibatkan dimensi yang jauh lebih luas daripada sekadar menghafal materi pelajaran.

Maulido, et al (2024) menyatakan bahwa pendidikan tidak sebatas memperkuat aspek kognitif, tetapi juga aspek afektif dan spiritual dalam pembentukan individu secara menyeluruh. Oleh karena itu, strategi perbaikan harus menyentuh sisi karakter, etika, dan spiritualitas siswa agar hasil didikan menjadi lebih seimbang.

5 Langkah Taktis Mengatasi Rendahnya Kualitas Pendidikan

Untuk mengubah kondisi ini, kita membutuhkan panduan instruksional yang jelas dan dapat dieksekusi secara nyata oleh para pemangku kepentingan.

Berikut adalah urutan langkah strategis yang harus diterapkan untuk mendongkrak mutu pendidikan di tingkat lokal maupun nasional:

  1. Mengoptimalkan Implementasi Kurikulum Merdeka: Sekolah harus menerapkan kurikulum terbaru ini secara konsisten untuk memberikan ruang belajar yang lebih fleksibel.
  2. Memanfaatkan Teknologi Pembelajaran: Integrasikan gawai dan platform digital dalam sistem belajar-mengajar, media interaktif, hingga manajemen pengumpulan tugas harian.
  3. Meningkatkan Akses Fasilitas Sejak Dini: Membuka keterbatasan akses sekolah di berbagai wilayah agar anak-anak usia dini mendapatkan hak belajar yang setara.
  4. Melakukan Pembenahan Mutu Guru: Melatih tenaga pendidik agar mampu memfasilitasi diskusi dua arah dan berpikir kritis, bukan sekadar mendikte materi.
  5. Mengevaluasi Rapor Pendidikan Secara Berkala: Menggunakan data hasil evaluasi resmi untuk menyusun program kerja sekolah yang berbasis bukti nyata.

Penerapan langkah-langkah di atas harus dilakukan secara simultan agar dampak perbaikan bisa dirasakan langsung oleh peserta didik di kelas.

Fondasi Keropos Pendidikan Indonesia | LENSA PENDIDIKAN ID

Memaksimalkan Kurikulum Merdeka dan Teknologi

Kurikulum Merdeka merupakan kurikulum terbaru yang diimplementasikan di Indonesia untuk menggantikan pola pembelajaran lama yang kaku.

Kurikulum ini secara khusus memanfaatkan teknologi dalam media pembelajaran, sistem belajar-mengajar di kelas, hingga pengumpulan tugas mandiri. Dalam kasus yang sering saya temui, pemanfaatan platform digital secara tepat mampu memicu rasa ingin tahu siswa secara luar biasa. Teknologi bertindak sebagai jembatan yang memperkecil jarak pengetahuan antara siswa di kota besar dan siswa di daerah pelosok.

Mengatasi Ketimpangan Akses dan Fasilitas Sekolah

Kualitas pendidikan yang baik tidak akan pernah terwujud jika akses terhadap fasilitas sekolah masih timpang dan sulit dijangkau.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 sebenarnya telah mengatur tentang Sistem Pendidikan Nasional sebagai jaminan kesempatan mendapatkan kualitas pendidikan yang merata. Lestari Moerdijat selaku Wakil Ketua MPR RI juga mendorong peningkatan kualitas pendidikan demi pemerataan hak setiap warga negara untuk mendapatkan pendidikan yang baik dan layak.

Beliau menyatakan bahwa kemudahan akses sejak dini adalah langkah strategis membuka peluang potensi warga negara.

Menata Sistem Penerimaan Siswa Baru

Salah satu upaya pemerintah dalam memeratakan kualitas sekolah adalah dengan merombak total sistem seleksi masuk sekolah negeri.

Perubahan regulasi ini dimaksudkan agar tidak ada lagi kasta sekolah favorit yang hanya menampung siswa berkemampuan tinggi.

  • Sistem Sebelum 2017: Seleksi penerimaan siswa baru di SMP negeri didasarkan pada nilai ujian akhir kelas 6 yang diselenggarakan oleh pemerintah provinsi.
  • Kebijakan Tahun 2017: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengubah peraturan penerimaan menjadi kebijakan zonasi sekolah yang mengutamakan jarak rumah siswa ke sekolah.

Kebijakan zonasi ini bertujuan agar sebaran siswa berprestasi dan fasilitas pendidikan dapat tersebar lebih adil di setiap wilayah.

Menghadapi Keterbatasan Kapasitas Daya Tampung

Meskipun niat dari kebijakan zonasi sangat baik, tantangan besar muncul pada kapasitas infrastruktur fisik sekolah negeri yang ada saat ini.

Pemerintah daerah sering kali kewalahan menampung ledakan jumlah calon peserta didik baru yang mendaftar setiap tahunnya.

Data historis menunjukkan adanya gap yang cukup lebar antara jumlah lulusan sekolah dasar dengan ketersediaan bangku di sekolah negeri.

Kondisi Akses dan Partisipasi Pendidikan Menengah Pertama di Indonesia
Indikator Pendidikan Capaian atau Kapasitas
Angka Partisipasi Murni SD (2019) 98%
Angka Partisipasi Murni SMP (2019) 79%
Kapasitas Tampung SMP Negeri Gratis 70%

Berdasarkan data di atas, jumlah SMP negeri favorit yang gratis hanya mampu menampung sekitar 70% murid di seluruh Indonesia.

Sisa murid yang tidak tertampung terpaksa harus beralih ke sekolah swasta yang sering kali membutuhkan biaya tidak sedikit.

Kondisi ini menunjukkan bahwa memperbanyak pembangunan ruang kelas baru dan meningkatkan mutu sekolah swasta adalah solusi mutlak.

Strategi Keberlanjutan Mutu Pendidikan

Peningkatan mutu pendidikan bukan merupakan proyek satu malam, melainkan sebuah ikhtiar jangka panjang yang membutuhkan konsistensi. Dukungan anggaran yang tepat sasaran harus diarahkan langsung pada peningkatan kompetensi guru di tingkat lokal. Sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat menjadi penentu utama apakah peringkat pendidikan kita akan naik kelas atau tetap jalan di tempat.

Perubahan nyata dimulai dari ruang kelas kecil, di mana guru mengajar dengan hati dan siswa belajar dengan penuh rasa ingin tahu.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang