Bingung Atur Stok? Ini Cara Mengerjakan Metode FIFO untuk Dongkrak Laba

4 Juli 2026, 09:35 WIB

Cara mengerjakan metode fifo ternyata tidak sekeluarga atau serumit yang dibayangkan jika Anda memahami struktur alur logikanya sejak awal. Sebagai praktisi yang sering mengulas sistem manajemen keuangan, saya melihat banyak pelaku usaha terjebak dalam kekacauan pencatatan akibat salah menentukan urutan barang keluar.

Metode First In First Out (FIFO) memastikan bahwa barang yang pertama kali masuk ke gudang adalah barang yang harus pertama kali dijual atau dikeluarkan. Prinsip dasar ini sangat krusial, terutama saat bisnis Anda menghadapi situasi fluktuasi harga atau inflasi di pasar.

Melalui artikel ini, saya akan membedah secara kritis dan mendalam mengenai langkah nyata dalam menyelesaikan perhitungan persediaan dengan metode ini. Kita akan menggunakan data riil dari ilustrasi transaksi PT BMX untuk melihat bagaimana metode ini bekerja secara optimal.

Berdasarkan pengamatan saya terhadap berbagai sistem akuntansi, FIFO menawarkan kestabilan yang luar biasa dalam mencerminkan nilai persediaan terkini. Ketika harga barang di pasar cenderung naik, metode ini akan menghasilkan nilai persediaan akhir yang lebih tinggi di laporan keuangan.

Hal ini terjadi karena barang yang tersisa di gudang adalah barang-barang yang dibeli belakangan dengan harga yang lebih baru dan biasanya lebih tinggi. Pendekatan ini sangat logis dan mencerminkan kondisi fisik barang yang sebenarnya di gudang penyimpanan.

Metode FIFO memberikan gambaran logis dalam manajemen sediaan, di mana barang lama tidak dibiarkan menumpuk hingga kedaluwarsa atau rusak akibat terlalu lama disimpan di gudang.

Namun, Anda juga harus memahami bahwa metode ini langsung berdampak pada perhitungan Harga Pokok Penjualan (HPP) yang lebih rendah. Dampak langsung dari HPP yang rendah ini adalah laporan laba bersih perusahaan yang akan terlihat jauh lebih besar.

Cara Menghitung Persediaan FIFO dengan Mudah | Rian Boltok

Cara Mengerjakan Metode FIFO Langkah Demi Langkah pada PT BMX

Untuk memahami cara kerja metode ini secara utuh, mari kita bedah ilustrasi transaksi satu bulan dari PT BMX secara mendalam. Kita akan melihat bagaimana pergerakan stok awal, pembelian, hingga proses terjadinya penjualan barang.

Menghitung Nilai Persediaan Awal dan Pembelian Barang

Langkah pertama dalam cara mengerjakan metode fifo adalah mengidentifikasi seluruh stok awal yang sudah tersedia di gudang beserta harganya. PT BMX tercatat memiliki persediaan awal sebanyak 100 unit dengan harga Rp9.000 per unit, sehingga total nilai awalnya adalah Rp900.000.

Dalam perjalanan operasionalnya selama satu bulan, perusahaan kemudian melakukan dua kali transaksi pembelian untuk menambah stok. Pembelian pertama dilakukan sebanyak 100 unit dengan tingkat harga sebesar Rp12.000 per unit.

Tidak berhenti di sana, PT BMX kembali melakukan pembelian kedua sebanyak 100 unit dengan harga Rp11.250 per unit. Jika kita total secara keseluruhan, maka nilai dari total pembelian yang dilakukan tersebut menyentuh angka Rp2.450.000.

Dengan menjumlahkan persediaan awal dan total pembelian, kita mendapatkan nilai Barang Tersedia Dijual (BTUD). Untuk kasus PT BMX ini, nilai total barang yang siap untuk dijual kepada konsumen berada di angka Rp3.350.000.

Mencatat Penjualan dan Alur Keluar Barang

Langkah kedua yang paling krusial adalah mencatat bagaimana barang tersebut keluar dari gudang saat terjadi transaksi penjualan. PT BMX mencatatkan dua kali transaksi penjualan selama periode berjalan, yaitu Penjualan 1 dan Penjualan 2.

Pada Penjualan 1, perusahaan berhasil menjual barang sebanyak 100 unit dengan harga jual sebesar Rp15.000 per unit. Kemudian pada Penjualan 2, PT BMX kembali melepaskan produk sebanyak 100 unit dengan harga yang sama, yaitu Rp15.000 per unit.

Dari kedua transaksi tersebut, total penjualan yang berhasil dibukukan oleh perusahaan mencapai angka Rp3.000.000. Ingat, harga jual Rp15.000 ini adalah harga pasar untuk konsumen, bukan biaya pokok yang digunakan untuk menghitung sisa sediaan.

Menentukan Persediaan Akhir dengan Rumus FIFO

Sekarang, mari kita hitung sisa unit yang ada di gudang menggunakan rumus persediaan akhir yang tepat. Rumus matematisnya didasarkan pada perhitungan: 100 unit stok awal ditambah 200 unit total pembelian, kemudian dikurangi 200 unit yang terjual.

Berdasarkan perhitungan tersebut, maka jumlah stok fisik yang tersisa di dalam gudang PT BMX adalah sebanyak 100 unit. Pertanyaan berikutnya yang sering membingungkan adalah: berapa nilai uang dari 100 unit yang tersisa tersebut jika menggunakan FIFO?

Karena menggunakan prinsip First In First Out, maka 200 unit yang terjual dianggap berasal dari stok tertua terlebih dahulu. Jadi, 100 unit dari persediaan awal dan 100 unit dari pembelian pertama dianggap sudah habis terjual seluruhnya.

Artinya, 100 unit sisa persediaan akhir tersebut adalah murni berasal dari barang yang dibeli pada transaksi pembelian kedua. Dengan demikian, nilai persediaan akhir PT BMX menurut perhitungan FIFO adalah 100 unit dikali Rp11.250, yaitu sebesar Rp1.250.000.

Perbandingan Dampak Finansial Metode FIFO vs Metode Lainnya

Menurut saya, bagian paling menarik dari analisis akuntansi adalah melihat bagaimana pilihan metode pencatatan memengaruhi angka laba bersih. Setiap metode memiliki algoritma penilaian yang berbeda secara signifikan terhadap komponen laporan keuangan Anda.

Dilansir dari Ginee, terdapat perbedaan hasil yang sangat mencolok ketika data transaksi keuangan milik PT BMX dihitung menggunakan metode yang berbeda. Perbedaan ini mencakup nilai akhir sediaan, HPP, hingga keuntungan bersih yang diperoleh.

Untuk memberikan gambaran yang lebih transparan dan mudah dipahami, saya telah menyusun data perbandingan hasil tersebut dalam format yang sistematis. Mari kita cermati datanya pada ringkasan di bawah ini.

Perbandingan Nilai Persediaan Akhir HPP dan Laba PT BMX Berdasarkan Metode Akuntansi
Metode Akuntansi Persediaan Akhir HPP Laba Bersih
Metode FIFO Rp1.250.000 Rp2.100.000 Rp900.000
Metode Average Rp1.075.000 Rp2.275.000 Rp725.000
Metode LIFO Rp900.000 Rp2.450.000 Rp550.000

Jika kita perhatikan data di atas secara kritis, metode FIFO menghasilkan angka laba bersih yang paling tinggi, yaitu Rp900.000. Sementara itu, Metode Average berada di posisi tengah, dan Metode LIFO menghasilkan laba paling rendah di angka Rp550.000.

Kekurangan Metode FIFO yang Harus Anda Waspadai

Meskipun terlihat sangat menguntungkan karena mampu menghasilkan laba yang tinggi, Anda tidak boleh melihat metode FIFO ini hanya dari sudut pandang positif saja. Review yang jujur harus berani membongkar sisi kelemahan dari sistem ini.

Kekurangan terbesar dari penerapan FIFO adalah munculnya fenomena yang sering disebut sebagai laba semu atau phantom profit. Ketika harga beli barang di pasar melonjak tajam, gap antara harga beli stok lama dan harga jual saat ini menjadi sangat lebar.

Kondisi ini membuat laba operasional Anda di atas kertas terlihat sangat melonjak tinggi dan menggiurkan. Namun, Anda harus ingat bahwa sebagian besar dari keuntungan tersebut sebenarnya harus segera dialokasikan kembali untuk membeli stok baru yang harganya sudah jauh lebih mahal.

Selain itu, dampak dari tingginya laba bersih yang dilaporkan berbanding lurus dengan besarnya beban pajak penghajilan perusahaan yang harus Anda bayarkan. Hal ini tentu dapat memperketat kondisi arus kas riil di dalam perusahaan Anda jika tidak dikelola dengan bijak.

Rekomendasi Penerapan FIFO Secara Optimal

Penerapan cara mengerjakan metode fifo ini akan berjalan sangat optimal jika didukung oleh sistem perangkat lunak akuntansi yang andal atau integrasi POS modern. Mengandalkan pencatatan manual di era sekarang berisiko tinggi menimbulkan kesalahan hitung pada kartu persediaan.

Metode ini sangat cocok diterapkan bagi Anda yang bergerak di industri retail pangan, fesyen, maupun bisnis yang menjual produk dengan masa kedaluwarsa cepat. Akurasi dalam menentukan harga pokok akan menjaga kesehatan keuangan usaha dalam jangka panjang.

Pastikan tim keuangan Anda melakukan opname stok secara berkala untuk mencocokkan jumlah fisik di gudang dengan catatan di sistem komputer. Langkah disiplin ini akan meminimalkan selisih angka dan menjaga kualitas keandalan data laporan keuangan Anda secara konsisten.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang