Susah Melupakan Seseorang Pasca Putus Ini Penjelasan Ilmiah dan Solusinya

2 Juli 2026, 08:20 WIB

Menghilangkan pikiran tentang mantan sering kali menjadi tantangan emosional yang berat bagi banyak orang setelah berakhirnya sebuah hubungan asmara. Pertanyaan mengenai "kenapa putus cinta rasanya sakit banget" sering muncul di benak mereka yang sedang berjuang melewati masa-masa sulit ini. Secara ilmiah, rasa sakit akibat perpisahan bukan sekadar respons emosional biasa, melainkan melibatkan mekanisme biologis yang kompleks di dalam tubuh manusia.

Konsultasikan dengan profesional medis sebelum mengambil tindakan jika kesedihan akibat putus cinta mengganggu aktivitas sehari-hari secara signifikan.

Ketika seseorang mengalami perpisahan, tubuh dan otak mengalami perubahan drastis yang memengaruhi kondisi psikologis serta fisik secara langsung. Dilansir dari Halodoc, otak manusia ternyata memproses penolakan sosial atau kehilangan emosional di area yang sama dengan rasa sakit fisik.

Bagian otak yang bertanggung jawab atas fenomena ini adalah korteks singulata anterior, yang aktif saat seseorang merasakan penderitaan mendalam.

Mekanisme biologis ini menjelaskan mengapa patah hati sering kali disertai dengan gejala fisik yang nyata, seperti dada terasa sesak atau tubuh lemas.

Selain pengaktifan area rasa sakit, terjadi ketidakseimbangan hormon yang signifikan di dalam tubuh saat kita kehilangan sosok yang dicintai.

Terjadi penurunan drastis pada hormon dopamin dan oksitosin yang merupakan hormon kebahagiaan, bersamaan dengan peningkatan tajam pada kadar kortisol.

Kadar kortisol atau hormon stres yang melonjak tinggi inilah yang memicu perasaan cemas, gelisah, dan stres berkepanjangan setelah putus.

Fenomena Kecanduan Emosional Pasca Perpisahan

Secara neurosains, mencintai seseorang dapat menciptakan pola ketergantungan yang mekanismenya menyerupai kecanduan zat tertentu pada manusia.

Ketika hubungan asmara berakhir secara mendadak, tubuh akan mengalami fase adaptasi kimiawi yang sangat mirip dengan gejala putus zat atau sakau.

Kondisi ini memicu keinginan obsesif untuk menghubungi mantan pasangan atau dorongan kuat untuk terus memeriksa aktivitas media sosial miliknya.

Alasan Psikologis Mengapa Mantan Sulit Dilupakan

Berdasarkan studi ilmiah yang mengamati perilaku pasca perpisahan, ada beberapa alasan utama mengapa seseorang susah melupakan seseorang yang pernah ada di hidupnya. Pertama, adanya kenangan indah yang terekam kuat di dalam memori jangka panjang sering kali muncul kembali tanpa diduga. Kedua, seseorang cenderung fokus pada hal-hal positif masa lalu dan secara tidak sadar mengabaikan tanda bahaya atau red flag yang pernah terjadi.

Ketria, masih adanya rasa tertarik secara fisik maupun emosional, serta kebiasaan membayangkan sosok mantan di masa sebelum hubungan mereka putus.

Berikut adalah tabel ringkasan mengenai perubahan biologis dan psikologis yang terjadi saat seseorang mengalami patah hati:

Perubahan Biologis dan Psikologis Akibat Patah Hati
Aspek yang Terpengaruh Kondisi Saat Berhubungan Perubahan Setelah Putus Cinta
Korteks Singulata Anterior Tidak aktif/normal Sangat aktif memproses rasa sakit
Hormon Dopamin Tinggi (bahagia) Mengalami penurunan drastis
Hormon Oksitosin Tinggi (kedekatan) Mengalami penurunan drastis
Hormon Kortisol Stabil/normal Mengalami peningkatan tajam
Pola Perilaku emosional Stabil Memicu gejala kecanduan emosional

Tips Melupakan Mantan Berdasarkan Rekomendasi Ahli

Menghadapi fase emosional yang berat memerlukan strategi yang tepat agar seseorang tidak terjebak dalam kesedihan yang berlarut-larut.

Para profesional di bidang kesehatan mental telah merumuskan beberapa langkah konkret sebagai tips melupakan mantan secara sehat dan efektif.

Ikhsan Bella Persada, M.Psi., seorang Psikolog, menyatakan bahwa rasa rindu atau teringat kembali dengan pasangan yang sudah menyakiti adalah hal yang wajar.

"Wajar jika kita merasa sedih, cemas atau emosi lainnya. Kita perlu terima emosi tersebut, namun tetap perlu diingat kembali bahwa keputusan yang diambil (putus) memang sudah melalui banyak pertimbangan."

Menerima emosi negatif tanpa menghakiminya adalah langkah awal yang sangat krusial dalam proses pemulihan luka batin setelah berpisah.

Batasi Interaksi dan Terapkan Pembatasan Diri

Langkah taktis selanjutnya yang sangat disarankan oleh para ahli psikologi adalah memutus rantai komunikasi dengan mantan pasangan untuk sementara waktu.

Ikhsan Bella Persada, M.Psi. menambahkan poin penting mengenai pentingnya menjaga jarak demi kestabilan emosi diri sendiri.

"Batasi diri untuk terkontak atau terhubung dengan mantan. Tujuannya untuk mengurangi munculnya perasaan yang tidak bisa kita duga atau kontrol."

Langkah ini selaras dengan konsep mereduksi pemicu yang dapat mengaktifkan kembali memori kecanduan emosional di dalam jaringan otak kita.

Gunakan Perspektif Sahabat bagi Diri Sendiri

Pandangan mengenai bagaimana kita memperlakukan diri sendiri setelah putus cinta juga disampaikan oleh pakar psikoterapi internasional.

Jennice Vilhauer, selaku Direktur Adult Outpatient Psychotherapy Program di Emory University, menyatakan bahwa mempertahankan mantan dalam hidup bukanlah tanda kedewasaan. Menurutnya, menjadi sahabat bagi diri sendiri dengan tidak menempatkan diri dalam situasi yang tidak nyaman adalah hal terpenting saat putus cinta.

Jennice Vilhauer menjelaskan bagaimana memori manusia sering kali menipu kita saat sedang berada dalam fase merindukan seseorang.

"Pikiran kita berusaha menyembuhkan hati kita, kenangan menyakitkan seringkali tergeser ke latar dan kita mendapati diri kita mengingat dan merindukan saat-saat indah. Kita lupa siapa dia sebenarnya."

Oleh karena itu, para ahli menyarankan untuk secara sengaja mengingat kembali perbuatan buruk atau ketidakcocokan yang pernah dilakukan oleh mantan pasangan.

Langkah ini efektif untuk menyeimbangkan memori romantis yang terdistorsi dan membantu mengalihkan pikiran ke berbagai kegiatan positif yang disenangi.

Cara Gampang Move On | Kelas Cinta

Strategi Pengalihan Pikiran dan Pemulihan Fokus

Melakukan aktivitas baru secara konsisten dapat membantu membangun ulang jalur saraf di otak agar tidak terus terfokus pada masa lalu.

Berikut adalah beberapa aktivitas konstruktif yang direkomendasikan untuk membantu proses pemulihan emosional:

  • Melakukan olahraga rutin secara terjadwal untuk memicu kembali produksi hormon endorfin dan dopamin alami tubuh.
  • Berkumpul dan berbagi cerita dengan teman-teman atau keluarga yang memberikan dukungan emosional positif.
  • Menekuni hobi lama yang sempat terabaikan atau mempelajari keterampilan baru yang menantang fokus pikiran.
  • Menulis jurnal ekspresif untuk menuangkan segala bentuk emosi yang mengganjal di dalam dada secara jujur.

Melalui kombinasi pemahaman biologis dan penerapan langkah psikologis yang tepat, proses pemulihan batin dapat berjalan dengan lebih optimal.

Menghilangkan pikiran tentang mantan memang membutuhkan waktu, namun dengan komitmen menjaga batasan diri, keseimbangan emosional pasti akan kembali terwujud.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang