Serangan DDoS Melonjak 25 Persen, Ini Cara Menghilangkannya Sampai Tuntas

28 Juni 2026, 19:59 WIB

Cara menghilangkan serangan ddos menjadi fokus krusial bagi setiap pengelola platform digital guna memastikan layanan tetap berjalan tanpa gangguan. Serangan Distributed Denial of Service atau DDoS ini bekerja dengan cara membanjiri server menggunakan trafik palsu hingga sistem tumbang. Ketika server Anda lumpuh, pengguna sah sama sekali tidak bisa mengakses layanan Anda.

Ancaman ini bukan lagi masalah sepele yang bisa diabaikan begitu saja oleh pemilik situs web. Berdasarkan statistik serangan yang dirilis oleh para pakar siber, serangan DDoS meningkat hingga 25% pada kuartal pertama tahun 2020 jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Lonjakan ini menunjukkan bahwa intensitas dan frekuensi serangan terus berkembang dari waktu ke waktu.

Kerugian finansial akibat insiden keamanan ini juga sangat fatal bagi stabilitas organisasi. Biaya rata-rata yang harus ditanggung organisasi atas serangan DDoS yang berhasil adalah sekitar $100.000 untuk setiap jam serangan berlangsung, berdasarkan data perusahaan keamanan Cloudflare. Kehilangan nominal sebesar itu dalam waktu singkat tentu bisa melumpuhkan operasional bisnis skala menengah hingga besar.

Sebelum masuk ke langkah teknis penanganan, kita harus memahami bagaimana peretas melipatgandakan kekuatan serangan mereka. Teknik yang paling sering digunakan adalah metode amplifikasi, memanfaatkan protokol publik yang kurang aman. Dalam kasus yang sering saya temui, administrator sering mengabaikan konfigurasi DNS dan Memcached di server mereka sendiri.

Metode amplifikasi ini memungkinkan peretas mengirimkan permintaan kecil namun menghasilkan respons raksasa ke server korban. Parameter amplifikasi DNS contohnya, permintaan DNS sebesar 60 byte dapat menghasilkan respons sebesar 4.000 byte yang dikirim ke korban. Hal ini menghasilkan faktor amplifikasi sekitar 70 kali ukuran paket asli yang siap menyumbat pipa jaringan Anda.

Efek yang jauh lebih mengerikan terjadi pada parameter amplifikasi Memcached yang memanfaatkan server caching terbuka. Permintaan sebesar 15 byte saja dapat menghasilkan respons sebesar 750 kb, menghasilkan faktor amplifikasi lebih dari 50.000 kali ukuran paket asli. Serangan jenis inilah yang sempat mencetak rekor dunia dalam sejarah kejahatan siber.

Serangan amplifikasi memcached terbesar di dunia tercatat pernah menghantam salah satu platform repositori kode terbesar. Target atau korban dari serangan dahsyat ini adalah Github yang terjadi pada awal tahun 2018. Dampak atau volume serangan tersebut mencapai puncaknya pada 1,35 Tbps data yang menghantam server Github secara bersamaan.

Melalui gambaran data tersebut, mitigasi yang cepat dan terstruktur menjadi harga mati agar server tidak kolaps. Berikut adalah perbandingan efisiensi dan dampak dari kedua jenis metode amplifikasi yang wajib diwaspadai oleh administrator jaringan.

Perbandingan Parameter Efek Amplifikasi Serangan DDoS
Jenis Metode Amplifikasi Ukuran Permintaan Awal Ukuran Respons Korban Faktor Amplifikasi Paket
DNS Amplification 60 byte 4.000 byte 70 kali
Memcached Amplification 15 byte 750 kb 50.000 kali

Langkah Taktis Menghilangkan Serangan DDoS

Menghadapi serangan yang sedang berlangsung membutuhkan ketenangan dan urutan eksekusi perintah yang tepat. Dari pengalaman saya menangani server yang mendadak tidak bisa diakses, hal pertama yang harus dipastikan adalah mengidentifikasi jenis trafiknya. Jangan langsung melakukan restart server tanpa mengetahui pola paket data yang masuk.

Apa itu Serangan DDos dan cara Mengatasinya | IDCloudHost

Anda dapat menerapkan langkah-langkah terstruktur berikut untuk menghentikan banjir trafik palsu pada infrastruktur sistem Anda:

  1. Identifikasi Gejala Awal dan Periksa Log Server
    Periksa beban kerja CPU dan penggunaan bandwidth melalui terminal server Anda. Kesalahan umum yang saya lihat adalah administrator panik dan mengira server mengalami kerusakan hardware biasa, padahal log menunjukkan jutaan permintaan IP asing dari port yang tidak wajar.
  2. Aktifkan Fitur Perlindungan Cloudflare
    Hubungkan domain Anda ke Cloudflare untuk menyembunyikan IP asli server (IP Origin). Masuk ke dasbor, lalu aktifkan mode "Under Attack" untuk memaksa setiap pengunjung melewati proses verifikasi browser otomatis sebelum diizinkan mengakses konten halaman web Anda.
  3. Lakukan Pemblokiran IP Melalui Firewall
    Jika Anda melihat pola IP yang sama melakukan request berulang, segera blokir IP tersebut menggunakan iptables atau firewall bawaan sistem operasi. Langkah ini cukup efektif untuk meredam serangan jenis HTTP Flood berskala kecil hingga menengah.
  4. Hubungi Penyedia Layanan Hosting Anda
    Informasikan kondisi serangan kepada penyedia upstream atau data center tempat server Anda disewa. Perusahaan infrastruktur besar biasanya memiliki sistem scrubbing center untuk menyaring trafik kotor sebelum masuk ke jaringan lokal server Anda.

Opsi Proteksi Tambahan dan Konfigurasi Jaringan

Jika serangan yang dihadapi berskala sangat besar, metode pemblokiran manual via firewall lokal tidak akan mampu bertahan lama. Pipa bandwidth server Anda akan tetap penuh oleh antrean paket data palsu sebelum sempat diproses oleh sistem operasi. Oleh karena itu, Anda memerlukan opsi perlindungan berlapis di level jaringan terluar.

Beberapa prasyarat dan opsi konfigurasi aman yang bisa Anda terapkan antara lain:

  • Mengubah seluruh alamat IP publik server (IP Origin) setelah domain dilindungi oleh proxy guna mencegah peretas menembak langsung ke alamat IP lama.
  • Menutup port publik yang tidak digunakan seperti port 11211 untuk memitigasi celah eksploitasi Memcached dari luar.
  • Menerapkan pembatasan koneksi (rate limiting) pada web server nginx atau apache guna membatasi jumlah request per detik dari satu pengguna.
  • Menggunakan layanan hosting yang memiliki reputasi infrastruktur kuat dan berpengalaman dalam manajemen jaringan.

Pemilihan penyedia ekosistem web yang matang juga memengaruhi ketahanan sistem dalam jangka panjang. Sebagai contoh profil perusahaan di Indonesia, Rumahweb berdiri pada tahun 2002 di Yogyakarta dan saat ini menjadi salah satu perusahaan hosting terbesar yang tumbuh pesat. Memilih penyedia lokal yang memiliki jaringan stabil dan tim support responsif sangat membantu mitigasi darurat saat siber krisis melanda.

Strategi Pertahanan Jangka Panjang Setelah Serangan Mereda

Setelah situasi kembali normal dan trafik palsu berhasil dibersihkan, jangan langsung menurunkan tingkat kewaspadaan sistem keamanan Anda. Peretas sering kali melakukan uji coba serangan kecil terlebih dahulu sebelum meluncurkan serangan gelombang kedua yang jauh lebih masif beberapa hari kemudian. Evaluasi total terhadap arsitektur jaringan wajib dilakukan tanpa menunda waktu.

Langkah pertama pasca-serangan adalah menganalisis titik lemah yang berhasil ditembus oleh trafik banjir tersebut selama insiden berlangsung. Periksa apakah sistem keamanan upstream Anda sempat mengalami kegagalan fungsi atau keterlambatan dalam mendeteksi anomali paket data. Perbarui semua aturan deteksi pada Web Application Firewall (WAF) agar lebih sensitif terhadap pola paket manipulatif yang baru saja dihadapi.

Mengandalkan satu lapisan pertahanan saja sangat berisiko memicu kelumpuhan total saat biaya operasional akibat down-time terus membengkak. Mengintegrasikan teknologi mitigasi berbasis cloud pihak ketiga secara permanen jauh lebih efisien dibanding membangun infrastruktur scrubbing mandiri yang mahal. Pemantauan log secara real-time dan audit konfigurasi port server secara berkala merupakan investasi terbaik demi menjaga kelangsungan bisnis digital dari ancaman DDoS.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang