Banyak Riset Gagal Ini 5 Cara Mengidentifikasi Masalah dengan Benar

21 Juni 2026, 14:57 WIB

Menyusun sebuah penelitian ilmiah atau skripsi sering kali menjadi momen yang membingungkan bagi banyak mahasiswa maupun peneliti pemula. Banyak orang terjebak pada fase awal karena kesulitan menentukan dari mana mereka harus memulai penyelidikan ilmiah mereka.

Masalah utama yang sering muncul adalah ketidakmampuan dalam merumuskan apa yang sebenarnya ingin diteliti secara jelas. Memahami arti identifikasi masalah dengan baik merupakan kunci utama agar riset tidak tersesat di tengah jalan dan memiliki arah yang jelas.

Artikel ini akan mengupas secara mendalam mengenai langkah-langkah terstruktur untuk memetakan fenomena di lapangan. Melalui panduan ini, Anda akan belajar bagaimana mengubah sebuah kendala umum menjadi rumusan riset yang spesifik, terukur, dan memiliki urgensi akademik tinggi.

Sebelum melangkah jauh pada urutan teknis, kita perlu menyamakan persepsi mengenai apa itu identifikasi masalah dalam penelitian. Secara mendasar, proses ini bukanlah sekadar mencari-cari kesalahan, melainkan sebuah upaya terstruktur untuk memetakan kesenjangan.

Berdasarkan pandangan Sugiyono (2018), identifikasi pada masalah adalah langkah awal dalam penelitian yang bertujuan menemukan permasalahan berdasarkan pengamatan dan data yang diperoleh. Tanpa adanya data dan pengamatan awal yang valid, sebuah isu tidak dapat diangkat menjadi topik riset yang kuat.

[Image of problem identification process diagram]

Sementara itu, Arikunto (2010) menjelaskan bahwa identifikasi pada masalah merupakan proses menentukan topik penelitian dengan menelaah berbagai faktor penyebab dan dampaknya terhadap fenomena yang diamati. Pandangan ini menegaskan bahwa kita harus jeli melihat hubungan sebab-akibat sejak awal riset.

Perspektif Penguasaan Masalah Menurut Para Ahli

Proses mendefinisikan masalah juga mendapat perhatian besar dari para pemikir metodologi lainnya. Suriasumantri menyatakan bahwa identifikasi masalah merupakan tahap permulaan dalam penguasaan masalah, di mana objek di dalam suatu jalinan tertentu bisa dikenali sebagai suatu masalah dan harus dicari solusi pemecahannya.

Lebih lanjut, Amien Silalahi mengartikan identifikasi masalah sebagai upaya untuk mendaftar sebanyak-banyaknya pertanyaan terhadap suatu masalah yang dianggap bisa ditemukan jawabannya melalui sebuah penelitian yang dilakukan secara ilmiah. Dari pendapat ini, kita tahu bahwa membuat daftar pertanyaan awal adalah hal yang lumrah.

Proses mengidentifikasi masalah merupakan tahap permulaan yang krusial untuk mengubah sebuah fenomena abstrak menjadi pertanyaan ilmiah yang terukur dan siap dicarikan solusinya.

Dalam kasus yang sering saya temui di lapangan, banyak peneliti pemula langsung melompat ke metode analisis sebelum memahami betul objek masalahnya. Kesalahan umum ini membuat hasil akhir riset menjadi dangkal dan tidak memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

Mengenal Ciri-Ciri Masalah Ilmiah yang Layak Diteliti

Tidak semua hambatan atau fenomena di dunia nyata bisa langsung dijadikan sebagai topik penelitian ilmiah. Anda harus bisa membedakan mana keluhan biasa dan mana yang memenuhi ciri ciri masalah ilmiah yang valid.

Secara umum, sebuah masalah dikatakan layak diteliti secara ilmiah jika memiliki sifat terukur atau measurable. Artinya, variabel-variabel yang terlibat di dalam fenomena tersebut dapat diuji dengan instrumen tertentu dan didukung oleh ketersediaan data di lapangan.

Selain itu, masalah tersebut harus bersifat spesifik dan tidak terlalu luas agar fokus penelitian tidak bias. Masalah ilmiah juga wajib memiliki kontribusi teoretis maupun praktis, sehingga solusi yang nantinya ditemukan benar-benar bermanfaat bagi masyarakat atau instansi terkait.

Tahapan Identifikasi Masalah Secara Sistematis

Untuk menghasilkan kualitas analisis yang tajam, Anda tidak bisa mengandalkan intuisi semata. Diperlukan tahapan identifikasi masalah yang runut agar setiap variabel dapat terpetakan dengan akurat dari awal hingga akhir.

Berikut adalah urutan langkah yang dapat Anda ikuti langsung saat memulai riset:

  1. Melakukan Pengamatan Awal secara Objektif: Turunlah ke lapangan atau pelajari studi literatur terdahulu untuk menangkap fenomena aneh atau kesenjangan yang sedang terjadi saat ini.
  2. Mengumpulkan Data Pendukung: Cari bukti digital, statistik resmi, atau laporan internal untuk memperkuat bahwa fenomena tersebut nyata dan bukan sekadar asumsi pribadi.
  3. Menelaah Faktor Penyebab dan Dampak: Analisis apa saja hal yang memicu munculnya fenomena tersebut serta bagaimana efek negatifnya jika dibiarkan tanpa solusi.
  4. Mendaftar Pertanyaan Penelitian: Susun daftar pertanyaan sebanyak mungkin secara kritis untuk membedah akar permasalahan dari berbagai sudut pandang ilmiah.
  5. Merumuskan Masalah Menjadi Spesifik: Kerucutkan daftar pertanyaan tersebut menjadi beberapa poin inti yang paling krusial, terukur, dan rasional untuk diselesaikan.

Dari pengalaman saya menangani berbagai proyek riset, tahapan mengumpulkan data pendukung sering kali dilewati oleh para peneliti karena terburu-buru. Padahal, data awal inilah yang menjadi tameng utama Anda ketika berdiskusi atau mempertahankan argumen di hadapan para penguji ilmiah.

Identifikasi Masalah Penelitian dalam Skripsi | Hendra Try Ardianto

Panduan Cara Membuat Identifikasi Masalah Skripsi

Bagi mahasiswa tingkat akhir, pertanyaan mengenai "bagaimana cara menentukan masalah penelitian" untuk tugas akhir sering kali memicu stres berkepanjangan. Kunci utamanya adalah kepekaan terhadap lingkungan sekitar dan pemahaman literatur yang kuat.

Untuk mempermudah proses ini, Anda bisa merujuk pada buku karangan Muji Setiyo & Budi Waluyo yang diterbitkan pada tahun 2025 berjudul "Metodologi Penelitian dan Perancangan Eksperimen" melalui Unimma Press. Buku tersebut memberikan landasan kuat mengenai metodologi eksperimental dan penyusunan desain riset modern.

Saat menerapkan cara membuat identifikasi masalah skripsi, pastikan Anda menuliskan poin-poin permasalahan dalam bentuk kalimat pernyataan yang tegas. Paparkan kesenjangan antara kondisi ideal yang diharapkan dengan kondisi nyata yang terjadi di lapangan secara gamblang.

Contoh Identifikasi Masalah dalam Praktik Riset

Agar mendapatkan gambaran yang lebih konkret, mari kita bedah sebuah contoh identifikasi masalah dalam konteks dunia pendidikan maupun manajemen operasional.

Misalkan Anda menemukan fenomena penurunan prestasi belajar siswa di sebuah sekolah selama pembelajaran jarak jauh. Isu tersebut masih terlalu luas dan harus diidentifikasi ke dalam poin-poin yang jauh lebih spesifik.

Anda dapat merincinya menjadi beberapa poin pernyataan berikut:

  • Keterbatasan akses perangkat teknologi dan jaringan internet yang stabil di rumah siswa.
  • Rendahnya tingkat interaksi aktif antara guru dan siswa selama sesi pemaparan materi daring.
  • Kurangnya kesiapan orang tua dalam mendampingi proses belajar anak secara intensif.
  • Belum optimalnya pemanfaatan media pembelajaran digital yang interaktif oleh tenaga pendidik.

Melalui rincian di atas, fokus penelitian Anda menjadi sangat jelas. Anda tidak lagi membahas penurunan prestasi secara umum, melainkan bisa memilih salah satu poin spesifik di atas untuk dijadikan variabel utama dalam analisis riset Anda.

Tabel Referensi Teori Identifikasi Masalah

Untuk memberikan gambaran teoretis yang kokoh, berikut adalah data pustaka mengenai konsep pemetaan masalah yang bersumber dari literatur metodologi terpercaya.

Daftar Buku dan Teori Identifikasi Masalah Berdasarkan Referensi Ilmiah
Nama Ahli atau Penulis Tahun Publikasi Fokus Teori atau Judul Buku
Arikunto 2010 Menelaah faktor penyebab dan dampak fenomena
Sugiyono 2018 Langkah awal menemukan permasalahan lewat pengamatan
Muji Setiyo & Budi Waluyo 2025 Metodologi Penelitian dan Perancangan Eksperimen

Strategi Menghindari Kesalahan Umum dalam Identifikasi Masalah

Melakukan identifikasi secara keliru di awal waktu akan berdaruh buruk pada seluruh tahapan riset selanjutnya. Salah satu kekeliruan yang paling sering dijumpai adalah mengangkat masalah yang solusinya sudah sangat jelas dan umum diketahui oleh publik.

Pastikan Anda selalu bersikap kritis dan tidak berasumsi tanpa dasar yang kuat. Gunakan triangulasi data—yaitu memadukan observasi lapangan, wawancara awal, dan studi pustaka dari situs edukasi seperti Gramedia atau portal akademik Sampoerna University—untuk memvalidasi kebenaran isu tersebut.

Memulai riset dengan fondasi masalah yang kuat, spesifik, serta didukung oleh data awal yang valid akan mempermudah Anda dalam menyusun hipotesis dan menentukan metode analisis yang tepat. Ketajaman sebuah penelitian tidak diukur dari seberapa tebal halamannya, melainkan dari seberapa jeli sang peneliti dalam melihat dan memecahkan akar permasalahan yang ada.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang