Menulis karya ilmiah sering kali menghadapkan kita pada situasi pelik ketika sumber asli tidak dapat diakses, sehingga kita terpaksa mencari tahu cara menulis kutipan yang diambil dari sumber sekunder. Situasi ini sering memicu kebingungan mengenai bagaimana cara menulis kutipan dalam kutipan agar tetap dinilai kredibel dan terhindar dari indikasi plagiarisme. Dari pengalaman saya mendampingi mahasiswa menulis draf akademis, kesalahan fatal yang paling sering muncul adalah langsung menyalin kutipan tanpa mencantumkan rantai sumbernya secara lengkap dan transparan.
Mari kita bedah langkah demi langkah mekanismenya agar tulisan Anda aman secara metodologi dan kaidah sitasi.
—
Memahami Logika Dasar Kutipan Sekunder
Mengutip sebuah kutipan, atau dikenal sebagai kutipan sekunder, terjadi ketika Anda menemukan pernyataan ahli di dalam buku atau jurnal milik orang lain.
Secara ideal, Anda wajib melacak dokumen asli untuk memastikan konteksnya tidak bergeser dari maksud awal sang penulis pertama.
Namun, jika dokumen orisinal tersebut sudah tidak diterbitkan atau sulit dijangkau, barulah metode kutipan dalam kutipan ini sah untuk digunakan.
Prinsip utama dari cara nulis sumber kutipan yang benar pada sumber sekunder adalah kejujuran akademik, di mana pembaca mengetahui secara persis dokumen mana yang sebenarnya Anda pegang dan baca langsung.
Dalam dunia akademik, terdapat klasifikasi mendasar mengenai format pengambilan teks yang wajib dipahami sebelum kita menyusun sitasi sekunder.
Bedanya Kutipan Langsung dan Tidak Langsung
Memahami bedanya kutipan langsung dan tidak langsung akan menentukan bagaimana Anda menyusun tanda baca serta format teks di dalam paragraf. Kutipan langsung pendek memiliki jumlah kata di bawah 40 kata, dan jumlah barisnya tidak mencapai 3 baris di dalam lembar kerja Anda.
Sebaliknya, untuk kutipan langsung panjang berisikan 40 kata atau lebih, dan bisa memakan waktu atau tempat hingga 3 baris dari satu paragraf. Kutipan panjang ini wajib ditulis dalam blok teks tersendiri dengan indensi yang menjorok ke dalam tanpa tanda petik.
Sementara itu, cara membuat kutipan tidak langsung mengharuskan Anda melakukan parafrase total menggunakan gaya bahasa sendiri tanpa mengubah esensi ide aslinya.
—
Panduan Langkah demi Langkah Menulis Kutipan dalam Kutipan
Berikut adalah urutan taktis yang bisa Anda eksekusi langsung saat menyusun sitasi sekunder dalam draf karya tulis ilmiah.
- Identifikasi Penulis Pertama: Temukan nama ilmuwan atau tokoh yang mengeluarkan pernyataan asli beserta tahun publikasinya jika ada.
- Catat Penulis Kedua: Ambil identitas pemilik jurnal atau buku yang saat ini sedang Anda baca secara fisik atau digital.
- Gunakan Frasa Penghubung: Sisipkan kata kunci penanda seperti "dalam" atau "dikutip dalam" untuk memperjelas rantai kutipan tersebut.
- Tuliskan Teks Kutipan: Masukkan kalimat yang ingin dikutip sesuai dengan aturan panjang pendeknya kata.
- Sertakan Halaman Spesifik: Selalu cantumkan nomor halaman dari sumber kedua tempat Anda menemukan kalimat tersebut untuk akurasi data.
Kesalahan umum yang saya lihat adalah penulis mencantumkan nama penulis pertama di daftar pustaka, padahal mereka tidak pernah membaca dokumen aslinya secara langsung.
Ingat, dalam daftar pustaka, Anda hanya boleh mencantumkan dokumen yang benar-benar Anda buka dan baca sendiri.
—
Format Penerapan Berdasarkan Gaya Sitasi Populer
Setiap institusi atau jurnal ilmiah memiliki preferensi gaya penulisan yang berbeda-beda untuk mengatur cara mengutip dari jurnal maupun buku.
Mari kita bedah contoh konkret penerapan kutipan sekunder ini menggunakan gaya APA (American Psychological Association) yang sangat populer di ranah akademik.
Aplikasi Gaya APA dalam Teks dan Daftar Referensi
Berdasarkan panduan baku, jika Anda menggunakan format Amerika ini, Anda wajib memberikan penanda khusus dalam kurung pada teks berjalan.
Sebagai contoh kutipan langsung dalam teks gaya APA: Menurut Smith (2010), "Teori ini menekankan pentingnya kerjasama dalam pembangunan proyek besar" (hal. 45). Jika Anda menemukan pernyataan Smith tersebut di dalam buku milik penulismu yang bernama Alatas (2020), maka penulisannya menjadi: Menurut Smith (2010, seperti dikutip dalam Alatas, 2020)… Selanjutnya, mari beralih ke bagian akhir dokumen untuk menyusun daftar pustaka agar pembaca dapat melacak kebenaran data tersebut.
Perhatikan struktur baku untuk menyusun contoh daftar referensi buku gaya APA: Smith, J. (2010). Collaboration in Large-Scale Project Development. Publisher.
Jika dokumen sekunder Anda berupa artikel ilmiah, gunakan format contoh daftar referensi artikel jurnal gaya APA: Smith, J. (2010). Collaboration and Innovation in Engineering Projects. Journal of Engineering, 25(2), 40-55.
Format Catatan Kaki (Footnote)
Beberapa rumpun ilmu humaniora atau hukum lebih menyukai penggunaan catatan kaki di bagian bawah halaman ketimbang menggunakan bodynote. Mari kita pelajari contoh catatan kaki kutipan tidak langsung yang rapi: "Diplomasi publik dapat memperbaiki hubungan antarnegara dalam situasi konflik apabila dilakukan dengan jangka waktu yang panjang dan berfokus kepada individu di negara asing." diikuti penulisan nomor footnote dan detail sumber: John H. Brown “American Public Diplomacy in the Cold War”.
Georgetown Journal of International Affairs. Vol,6 No, 1. (Winter 2005). 129.
Gaya penulisan catatan kaki seperti di atas memastikan pembaca mendapatkan informasi volume, nomor jurnal, hingga halaman secara transparan dalam satu pandangan mata. Untuk memudahkan pemahaman Anda mengenai perbedaan karakteristik penulisan ini, mari perhatikan rangkuman struktur data berikut.
| Jenis Kutipan | Batasan Jumlah Kata | Penggunaan Tanda Petik | Penulisan di Daftar Pustaka |
|---|---|---|---|
| Kutipan Langsung Pendek | Di bawah 40 kata | Wajib digunakan | Sumber sekunder yang dibaca |
| Kutipan Langsung Panjang | 40 kata atau lebih | Tanpa tanda petik | Sumber sekunder yang dibaca |
| Kutipan Tidak Langsung | Bebas (Parafrase) | Tanpa tanda petik | Sumber sekunder yang dibaca |
—
Kriteria Memilih Jurnal Sekunder yang Kredibel
Ketika Anda memutuskan untuk menerapkan metode ini, pastikan artikel ilmiah yang Anda jadikan sebagai perantara memiliki reputasi yang teruji.
Sejak rilisnya artikel penting berjudul "Inilah 5 Cara Mengutip dari Jurnal yang Umum Digunakan" pada tanggal 26 May 2022, kesadaran peneliti terhadap validitas sitasi terus meningkat tajam. Periksa keaslian sitasi di dalam jurnal tersebut dan pastikan mereka tidak melakukan salah interpretasi terhadap pendapat ahli yang aslinya. Gunakan platform indeksasi resmi untuk memverifikasi rekam jejak penerbit agar draf penelitian Anda tidak ditolak oleh reviewer jurnal target.
Kutipan bertingkat yang disusun dengan cermat justru akan memperkuat landasan teori serta menunjukkan kedalaman penjelajahan literatur yang Anda lakukan selama proses riset berlangsung.






