Banjir Mengancam Lagi Kenapa Selokan Rumah Kita Justru Jadi Biang Kerok

29 Juni 2026, 10:09 WIB

Banjir masih menjadi momok menakutkan yang terus mengintai pemukiman kita setiap kali musim hujan tiba. Saya sering melihat banyak orang hanya bisa pasrah atau menyalahkan infrastruktur kota saat air mulai masuk ke dalam rumah mereka.

Padahal, kunci utama untuk menjaga lingkungan agar tidak banjir sebenarnya dimulai dari halaman rumah kita sendiri. Menjaga lingkungan bukan sekadar wacana hijau yang indah didengar, melainkan tindakan nyata yang harus dilakukan secara konsisten setiap hari.

Saya mengamati bahwa kesadaran masyarakat dalam merawat area sekitar tempat tinggal masih sangat rendah. Banyak yang mengira bahwa membuang sampah pada tempatnya sudah cukup untuk menghalau genangan air yang tinggi.

Kita perlu melihat masalah ini dari sudut pandang yang lebih luas dan objektif. Wilayah pemukiman modern saat ini semakin padat dan kehilangan karakteristik alaminya dalam menyerap air hujan yang turun dari langit.

Faktor Minimnya Area Resapan Menurut Lembaga Resmi

Berdasarkan informasi resmi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB, genangan air yang parah terjadi di suatu wilayah jika wilayah tersebut kekurangan area resapan dan saluran air yang memadai.

Saya sepakat dengan pernyataan dari lembaga tersebut karena realitanya banyak tanah terbuka yang kini ditutup semen. Halaman rumah yang semestinya menjadi tempat meresapnya air justru disemen total demi kenyamanan parkir kendaraan pribadi.

Ketika air hujan tidak menemukan jalan untuk masuk ke dalam tanah, air tersebut akan berkumpul di permukaan. Beban saluran drainase pun menjadi berkali-kali lipat lebih berat daripada kapasitas normal yang seharusnya ditampung.

Belajar dari Kasus Cuaca Ekstrem Global

Kita tidak boleh menutup mata terhadap perubahan iklim dunia yang semakin nyata terjadi di sekitar kita. Fenomena alam ini memicu curah hujan yang jauh lebih tinggi dan tidak menentu dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Sebagai contoh nyata, pernah terjadi cuaca ekstrem yang memicu bencana banjir besar di Seoul, Korea Selatan, serta di negara Pakistan pada bulan Agustus tahun 2022 lalu.

Bencana global tersebut menjadi peringatan keras bagi kita semua bahwa sistem pertahanan lingkungan tradisional sudah tidak lagi mampu menahan debit air yang meledak secara mendadak.

Melalui data observasi dari stasiun Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau BMKG, pos hujan kerja sama, dan satelit Global Satellite Mapping of Precipitation, analisis cuaca terus diperbarui untuk meningkatkan kewaspadaan kita.

Bahkan dalam catatan historis seperti Buletin Hujan Bulanan BMKG edisi November, sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami puncak musim hujan pada akhir tahun 2022 dan awal tahun 2023.

Melihat rentetan data tersebut, saya merasa aneh jika masih ada warga yang santai dan tidak melakukan persiapan apa pun di lingkungan rumah mereka.

Menjaga Lingkungan dari Banjir | hikmah anak

Langkah Nyata Menata Saluran Air dan Drainase Rumah

Sistem drainase yang buruk adalah musuh utama bagi sebuah pemukiman yang sehat. Saya selalu menekankan bahwa saluran air yang lancar merupakan urat nadi keselamatan lingkungan dari ancaman air bah.

Rutinitas Pembersihan Selokan yang Sering Diabaikan

Satu hal yang paling sering saya kritik dari perilaku masyarakat adalah kemalasan dalam merawat kebersihan selokan di depan rumah. Banyak orang menunggu selokan mampet total baru bergerak untuk membersihkannya.

Pembersihan lumpur pada selokan sangat disarankan untuk dilakukan setidaknya setiap satu atau dua bulan sekali secara rutin. Langkah ini efektif untuk menjaga kedalaman fungsi saluran air tersebut.

Namun, saat curah hujan sedang tinggi, intensitas pembersihan selokan perlu dirutinkan sebanyak satu atau dua kali seminggu. Menurut saya, aturan ini sering dilanggar karena dianggap terlalu merepotkan bagi sebagian warga.

Padahal, tumpukan lumpur dan sampah organik yang dibiarkan seminggu saja saat musim hujan bisa langsung menyumbat aliran air. Efek domino dari kelalaian kecil ini sangat fatal bagi seluruh area pemukiman.

Panduan Pembuatan Saluran Ideal ala Kementerian Pertahanan

Kita bisa mencontoh panduan resmi yang pernah diterbitkan oleh lembaga negara terkait mitigasi bencana pemukiman. Panduan ini memberikan dasar teknis yang sangat baik untuk diterapkan.

Kementerian Pertahanan Republik Indonesia atau Kemhan RI pernah menerbitkan Bahan Ajar dan Mitigasi pada tahun 2016 lalu. Dokumen tersebut memuat langkah pencegahan dan penanganan banjir yang komprehensif.

Langkah pencegahan tersebut dimulai dari pembuatan saluran air yang benar secara teknis dan berkelanjutan. Saluran air tidak boleh dibuat asal ada, melainkan harus memperhitungkan kemiringan dan volume air maksimum.

Saya melihat banyak pengembang perumahan mengabaikan prinsip dasar ini demi menghemat biaya konstruksi awal. Akibatnya, saluran air di pemukiman baru justru sering kali membuat air menjadi mandek dan tidak mengalir ke sungai utama.

Dampak Buruk Lingkungan Kotor Selain Banjir Bandang

Kerugian akibat mengabaikan kebersihan lingkungan tidak hanya berhenti pada barang-barang rumah tangga yang rusak terendam air. Ada bahaya laten yang jauh lebih mengancam keselamatan jiwa keluarga kita.

Ancaman Penyakit yang Mengintai Keluarga

Lingkungan yang tidak terjaga dengan baik dapat memicu berbagai penyakit berbahaya seperti diare, demam berdarah atau DBD, ISPA, hingga infeksi kulit yang mengganggu kenyamanan hidup.

Penyakit-penyakit ini muncul karena air yang tergenang menjadi tempat berkembang biak yang paling disukai oleh kuman dan bakteri patogen. Saya sering melihat anak-anak bermain di air genangan tanpa menyadari risiko kesehatan ini.

Kondisi ini tentu diperparah jika sistem sanitasi rumah tangga bercampur dengan aliran air hujan akibat konstruksi drainase yang buruk. Penyakit ISPA dan infeksi kulit pun menjadi langganan bagi warga setelah genangan air surut.

Masalah Estetika dan Gangguan Hama Lingkungan

Selain masalah kesehatan medis yang serius, kelalaian dalam menjaga kebersihan lingkungan sekitar juga meningkatkan jumlah serangga secara drastis. Nyamuk, lalat, dan kecoak akan berpesta di area yang kotor.

Kondisi lingkungan yang buruk tersebut juga memicu bau tidak sedap yang menusuk hidung dan mengganggu kenyamanan bertempat tinggal. Saya rasa tidak ada orang yang betah tinggal di lingkungan dengan aroma sampah membusuk.

Bau tidak sedap ini juga menjadi indikator kuat bahwa ada pembusukan material organik yang tertahan di dalam selokan rumah Anda. Hal ini harus segera diatasi sebelum curah hujan ekstrem datang melanda.

Evaluasi Kritis Sistem Drainase Mandiri di Pemukiman Kita

Untuk mempermudah pemahaman mengenai tindakan pencegahan yang efektif, saya menyusun perbandingan langkah mitigasi berdasarkan tingkat urgensi kondisi cuaca yang sedang dihadapi di lapangan.

Panduan Frekuensi Tindakan Mitigasi Saluran Air Berdasarkan Kondisi Cuaca
Kondisi Cuaca Tindakan Utama Frekuensi Minimal
Kemarau Normal Pembersihan lumpur selokan 1-2 bulan sekali
Hujan Ringan Pemeriksaan sumbatan sampah 2 minggu sekali
Curah Hujan Tinggi Pembersihan total selokan 1-2 kali seminggu
Pasca Banjir Pengerukan sedimen dan disinfeksi Segera setelah surut

Tabel di atas menunjukkan bahwa pendekatan kita terhadap lingkungan harus adaptif dan tidak boleh monoton. Saya melihat kelemahan terbesar kita adalah memperlakukan selokan dengan cara yang sama sepanjang tahun.

Kekurangan dari sistem pengelolaan lingkungan secara mandiri ini adalah ketergantungan yang sangat tinggi pada kesadaran masing-masing individu. Jika ada satu tetangga yang malas membersihkan selokan di depan rumahnya, maka seluruh blok perumahan akan menerima getah buruknya.

Sistem ini tidak akan berjalan optimal tanpa adanya sanksi sosial atau pengawasan yang ketat dari pengurus rukun tetangga setempat. Sifat egois sebagian warga sering kali menjadi penghambat utama dalam mewujudkan lingkungan yang bebas dari bencana tahunan.

Langkah terbaik yang bisa Anda lakukan sekarang adalah memulai dari area sejengkal di depan pagar rumah sendiri tanpa harus menunggu aksi bersama dari warga lain. Pengurasan lumpur selokan secara mandiri dan pembuatan lubang biopori di halaman adalah investasi terbaik untuk melindungi aset berharga Anda dari kerusakan akibat terjangan air bersih maupun kotor.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang