Ibu Rentan Membentak Anak Remaja, Ini Cara Meredam Emosi yang Tepat Menurut Pakar

30 Juni 2026, 08:28 WIB

Menghadapi perubahan perilaku buah hati sering kali memicu tekanan emosional yang besar bagi orang tua, sehingga penting untuk memahami cara menahan emosi pada anak agar tidak berdampak buruk pada psikologis mereka.

Banyak orang tua yang merasa frustrasi saat anak mulai menunjukkan sikap membangkang. Tekanan dari tugas sehari-hari sering kali membuat seorang ibu atau ayah kehilangan kendali diri.

Namun, mengekspresikan kemarahan secara meledak-ledak bukanlah solusi yang bijak. Berdasarkan perspektif jurnalistik berbasis bukti, emosi yang tidak terkontrol justru dapat merusak ikatan emosional antara orang tua dan anak.

Pertanyaan seperti "kenapa orang tua sering marah?" menjadi salah satu topik yang paling sering muncul dalam diskusi mengenai pola asuh anak di era modern ini.

Menurut psikolog Sri Juwita Kusumawardhani M.Psi, seorang ibu yang marah bukan berarti tidak sayang kepada buah hatinya. Kondisi ini sering kali dipicu oleh rasa tertekan akibat akumulasi tugas sehari-hari yang menguras energi dan pikiran.

Ketika tubuh dan pikiran berada dalam kondisi lelah, toleransi terhadap stres akan menurun drastis. Akibatnya, respons terhadap perilaku anak yang dinilai mengganggu menjadi lebih agresif dan sulit dikendalikan.

Perubahan fase tumbuh kembang anak juga memegang peranan penting dalam dinamika emosi orang tua. Respons orang tua biasanya akan berubah mengikuti dinamika usia anak.

Perubahan Sikap Seiring Pertumbuhan Anak

Berdasarkan penelitian yang diterbitkan di jurnal Child Development, seorang ibu cenderung mengubah cara mendisiplinkan anak ketika buah hatinya tumbuh remaja. Fase ini sering kali diiringi dengan perubahan sikap anak menjadi lebih mudah marah dan lebih kasar.

Perubahan perilaku remaja ini sering kali memicu benturan ego antara orang tua dan anak. Orang tua yang belum siap menghadapi perubahan ini cenderung merespons dengan otoritas yang lebih keras.

Dampak Nyata Memarahi dan Membentak Anak bagi Psikologisnya

Sering kali orang tua tidak menyadari bahwa tindakan meluapkan amarah secara verbal memiliki konsekuensi jangka panjang yang sangat serius bagi perkembangan mental anak.

Banyak ahli yang mengingatkan bahwa pola komunikasi yang agresif dapat membentuk kepribadian anak menjadi buruk di masa depan. Anak-anak adalah peniru yang ulung terhadap apa yang mereka lihat dan dengar.

Memarahi atau memukul anak ada baiknya dihindari karena bisa menyebabkan gangguan kesehatan mental serta menyebabkan anak memiliki jiwa yang kurang empati di kemudian hari.

Pernyataan tegas di atas disampaikan oleh psikolog Matthew McKay, PhD. Tindakan kekerasan verbal maupun fisik tidak akan menyelesaikan masalah, melainkan menanamkan trauma mendalam.

Risiko Perilaku Emosional Saat Dewasa

Menurut penelitian di jurnal Child Development, ibu yang memarahi sampai membentak anak sejak mereka berusia 13 tahun atau kurang membuat anak berisiko besar memiliki perilaku emosional saat tumbuh dewasa.

Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh bentakan cenderung mengadopsi cara tersebut sebagai metode penyelesaian masalah. Mereka akan kesulitan mengelola emosi mereka sendiri saat menghadapi konflik di kemudian hari.

Agar Anak Tidak Terdampak Marah Orang Tua | Kata Dokter

Strategi Efektif Meredam Emosi Menurut Para Ahli

Mengelola amarah membutuhkan latihan yang konsisten dan kesadaran penuh dari orang tua saat situasi mulai memanas di rumah.

Para profesional di bidang kesehatan mental telah merumuskan beberapa metode praktis yang dapat diterapkan oleh orang tua untuk menahan diri sebelum amarah meledak.

Melansir dari informasi medis yang ditinjau oleh dr. Damar Upahita dan ditulis oleh Indah Fitrah Yani di Halodoc, mengelola emosi di depan anak adalah keterampilan yang wajib dikuasai demi menjaga keharmonisan keluarga.

Pentingnya Menenangkan Diri Terlebih Dahulu

Psikolog Laura J. Petracek, PhD menyatakan bahwa kunci menghadapi anak adalah menenangkan diri dulu agar bisa lebih memahami anak. Jangan merespons tindakan anak saat detak jantung Anda masih berdegup kencang akibat marah.

Skenario penanganan emosi yang tepat juga dipaparkan oleh dr. Kevin Adrian. Beliau menyatakan bahwa seorang ibu sebaiknya menenangkan diri dulu sebelum berkata apapun, baru kemudian mengekspresikan marah dengan tegas tanpa bahasa kasar.

Langkah penanganan ini didukung oleh Maheen Fatima, seorang ahli psikologi anak dari Dubai. Melalui artikelnya yang berjudul How to Handle Your Anger at Your Child, ia memberikan tips menahan emosi pada anak melalui jeda waktu atau time-out bagi orang tua.

Metode Visualisasi Masa Bayi

Metode unik lainnya disarankan oleh Sandra Thomas, PhD, seorang profesor dari Universitas Tennessee. Ia menyarankan ibu untuk memvisualisasikan anak-anak kembali menjadi bayi agar emosi reda dan bisa berpikiran lebih baik.

Membayangkan anak saat masih bayi yang rapuh dan membutuhkan kasih sayang dapat memicu respons empati di dalam otak orang tua. Hal ini secara instan dapat menurunkan intensitas amarah yang sedang bergejolak.

Langkah yang Harus Dilakukan Setelah Terlanjur Marah

Jika orang tua terlanjur kehilangan kendali dan membentak anak, ada langkah-langkah pemulihan yang harus segera dilakukan untuk memperbaiki mental anak.

Menghindari sikap gengsi dan mau mengakui kesalahan di depan anak adalah modal utama dalam memulihkan hubungan yang sempat tegang akibat ego orang tua.

Berikut adalah beberapa tindakan penting yang dapat dilakukan orang tua sebagai bagian dari cara mengatasi anak rewel tanpa marah di kemudian hari:

  • Meminta maaf secara tulus kepada anak atas respons emosional yang berlebihan.
  • Menjelaskan alasan kemarahan dengan kalimat yang tenang, objektif, dan mudah dipahami.
  • Memberikan pelukan hangat untuk mengembalikan rasa aman dan kenyamanan emosional anak.
  • Mengajak anak berdiskusi bersama mengenai solusi dari permasalahan yang memicu konflik.
  • Melakukan me time atau waktu luang bagi orang tua untuk menyegarkan pikiran saat merasa tegang atau cemas.

Konsultasikan dengan profesional medis atau psikolog sebelum mengambil tindakan lebih lanjut jika Anda merasa kesulitan mengontrol amarah yang intens secara mandiri.

Sebagai referensi tambahan, berikut adalah ringkasan pandangan para ahli mengenai durasi, dampak, dan metode penanganan emosi terhadap anak yang dirangkum dari berbagai studi klinis.

Pandangan Pakar Terkait Manajemen Emosi Orang Tua dan Dampaknya pada Anak
Nama Ahli / Sumber Jurnal Fokus Dampak atau Metode Rekomendasi / Hasil Studi
Matthew McKay, PhD Gangguan mental & empati anak Hindari memarahi dan memukul anak
Jurnal Child Development Anak usia 13 tahun atau kurang Beresiko memicu perilaku emosional saat dewasa
Sandra Thomas, PhD Metode Visualisasi Visualisasikan anak kembali menjadi bayi
Laura J. Petracek, PhD Manajemen Respons Tenangkan diri dulu sebelum memahami anak
dr. Kevin Adrian Teknik Komunikasi Ekspresikan marah dengan tegas tanpa bahasa kasar
Sri Juwita Kusumawardhani M.Psi Kondisi Psikologis Ibu Ibu butuh me time saat tegang atau cemas

Menjaga kesehatan mental anak membutuhkan komitmen besar dari orang tua untuk terus belajar mengendalikan diri dalam segala situasi. Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang stabil secara emosional akan memiliki fondasi karakter yang kuat dan penuh empati saat dewasa nanti.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang