Kekerasan Perempuan Tembus 27 Ribu Kasus, Ini Sikap Nyata Menghargai Pasangan

2 Juli 2026, 17:51 WIB

Jumlah kasus kekerasan terhadap kaum hawa di Indonesia yang menembus angka puluhan ribu menjadi alarm keras bagi kita semua bahwa cara menghargai perasaan wanita masih sering diabaikan dalam hubungan asmara. Saya melihat fenomena ini bukan lagi sekadar bumbu konflik biasa, melainkan masalah struktural yang bermula dari pudarnya rasa hormat paling mendasar terhadap pasangan. Saling menghormati dan menghargai merupakan pondasi atau landasan utama untuk memperkuat jalinan asmara serta menciptakan hubungan yang sehat dan harmonis.

Bila fondasi ini rapuh, dampaknya bisa sangat fatal bagi kelangsungan hubungan Anda.

Data lapangan menunjukkan situasi yang semakin mengkhawatirkan dari tahun ke tahun. Berdasarkan data Sistem Informasi Perlindungan Perempuan dan Anak (2024), tercatat terdapat total 31.947 kasus kekerasan di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 27.658 korbannya adalah perempuan, sedangkan korban laki-laki tercatat sebanyak 6.894 kasus.

Angka ini sangat mencengangkan dan membuktikan bahwa perempuan masih berada dalam posisi yang sangat rentan. Saya memandang potret buram ini sebagai akibat nyata dari akumulasi pembiaran terhadap tindakan-tindakan kecil yang tidak menghargai perasaan wanita sejak dini.

Kondisi ini diperparah oleh tren historis yang tidak kalah mengerikan. Berdasarkan Catatan Tahunan Komnas Perempuan 2019, pengaduan kasus kekerasan terhadap perempuan pada tahun 2018 mengalami peningkatan sebesar 14 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Bentuk kekerasan tersebut meliputi kekerasan di ranah privat (keluarga, kerabat, relasi intim), pemerkosaan dalam perkawinan (marital rape), dan inses (pemerkosaan oleh orang yang memiliki hubungan darah).

Data Komnas Perempuan dan Simfoni PPA memperlihatkan kekerasan domestik bukanlah mitos, melainkan ancaman nyata yang lahir ketika rasa hormat dicabut dari sebuah hubungan.

Melihat realita tersebut, menghargai pasangan jelas bukan lagi sekadar opsi atau tips cinta yang romantis.

Ini adalah kewajiban mutlak jika Anda tidak ingin menjadi bagian dari statistik mengerikan di atas.

Batasan Tegas Antara Menghargai vs Perilaku Kasar

Banyak pria yang merasa sudah menghargai pasangannya hanya karena masih memberikan nafkah atau hadiah, padahal ucapan sehari-harinya terus merongrong mental sang wanita.

Menghormati orang lain berarti menahan diri dari segala ucapan atau tindakan yang menyakiti, seperti menghina, meremehkan, mengabaikan, mengejek, mencemarkan nama baik, atau mempermalukan orang lain. Menurut analisis saya, banyak hubungan beracun bertahan lama hanya karena salah satu pihak menormalisasi ejekan kecil yang dianggap "bercanda". Padahal, dari situlah erosi rasa hormat dimulai.

Anda harus bisa membaca tanda-tanda merah dalam hubungan secara objektif.

Perilaku kasar (seperti mengeluarkan kata-kata kasar, memukul, menampar, dan tindakan fisik tidak pantas lainnya) merupakan tanda nyata bahwa pasangan tidak menghormati pasangannya. Jangan pernah berkompromi dengan tindakan semacam ini.

Sekali benteng fisik atau verbal tersebut ditembus, maka esensi dari menghargai perasaan wanita telah sepenuhnya sirna.

Perbandingan Statistik Kasus Kekerasan Berdasarkan Gender Tahun 2024
Kategori Korban Jumlah Kasus Faktual
Korban Perempuan 27.658
Korban Laki-laki 6.894
Total Kasus Nasional 31.947

Langkah Konkret Menghargai Perasaan Wanita dalam Keseharian

Menghargai wanita bukan konsep abstrak yang melayang-layang di awan, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan taktis harian Anda. Buku "Men Are from Mars and Women Are from Venus" menyebutkan bahwa apabila pria dan perempuan sanggup menghargai serta menerima perbedaan-perbedaan mereka, maka cinta mempunyai peluang untuk berkembang dan hubungan memiliki peluang untuk bertahan lama. Perbedaan cara berpikir jangan dijadikan bahan debat kusir, melainkan ruang untuk saling melengkapi.

Berikut adalah beberapa tindakan nyata yang dapat Anda terapkan sekarang juga:

  • Mendengarkan Tanpa Langsung Menghakimi: Saat wanita berbicara tentang perasaannya, dia sering kali hanya butuh divalidasi, bukan langsung dihujani solusi teknis yang kaku.
  • Menjaga Validitas Ucapannya di Depan Umum: Jangan pernah mengoreksi, menertawakan, atau menjatuhkan argumen pasangan Anda di depan keluarga atau teman-teman.
  • Melibatkan dalam Pengambilan Keputusan: Menghargai berarti menempatkan posisinya setara, terutama dalam urusan yang berdampak pada masa depan bersama.
ROSSA – PENTINGNYA UNTUK MENGHARGAI WANITA | ZERO TO HERO LESSONS | Merry Riana | SATELIT CINTA

Tindakan-tindakan sederhana ini memiliki dampak psikologis yang sangat masif bagi wanita.

Ketika mereka merasa didengar dan aman secara emosional, konflik-konflik besar dalam hubungan dapat diredam dengan jauh lebih mudah.

Menanamkan Rasa Hormat Sejak Dini pada Generasi Muda

Perilaku pria dewasa yang tidak tahu cara menghargai perasaan wanita sebenarnya berakar dari pola asuh masa kecil yang keliru. Coulson (2020) membagikan panduan bagi orang tua untuk mengajarkan anak laki-laki menghargai perempuan yang dikelompokkan berdasarkan fase usia tertentu. Pendidikan karakter ini tidak bisa instan dan harus dimulai dari lingkungan keluarga terkecil sejak anak masih belia.

Orang tua harus paham kapan waktu yang tepat untuk memasukkan pemahaman empati ini.

Dilansir dari KlikDokter, dr. Karin Wiradarma menyatakan bahwa seorang anak baru dapat memahami konsep menghormati dan berempati secara penuh saat menginjak usia 8–9 tahun. Namun, sejak usia 5 tahun, anak sebenarnya sudah mulai bisa memahami konsep timbal balik, yaitu "kalau saya ingin diperlakukan dengan baik, maka saya juga harus memperlakukan orang dengan baik".

Gunakan momentum usia emas tersebut untuk memberikan contoh nyata di rumah. Anak laki-laki yang melihat ayahnya memperlakukan ibunya dengan santun dan penuh hormat akan meniru perilaku tersebut secara otomatis hingga mereka dewasa.

Sebaliknya, pembiaran terhadap egoisme anak laki-laki di usia dini berpotensi melahirkan pelaku kekerasan baru di masa depan.

Akar Masalah Ego Pria dalam Hubungan Modern

Banyak pria modern gagal menghargai perasaan wanita karena terjebak dalam sindrom superioritas yang rapuh.

Saya sering mengamati pria yang merasa harga dirinya jatuh hanya karena sang wanita memberikan masukan atau memiliki pencapaian yang lebih tinggi. Ini adalah kesalahan fatal dalam berpikir yang justru menunjukkan kelemahan karakter pria itu sendiri. Kematangan emosional seorang pria diuji saat dia mampu berdiri setara tanpa merasa terancam oleh eksistensi pasangannya.

Menghargai perasaan wanita berarti Anda siap meredam ego pribadi demi keharmonisan bersama.

Jika Anda masih meletakkan gengsi di atas kenyamanan emosional pasangan, maka hubungan Anda sedang berjalan menuju jurang kehancuran.

Pandangan Kritis Terhadap Kegagalan Komunikasi Emosional

Kelemahan terbesar yang sering saya temukan pada pria adalah ketidakmampuan mereka untuk melakukan sinkronisasi emosi. Ketika wanita mengekspresikan kesedihan atau kecemasan, pria cenderung menganggapnya sebagai bentuk kelemahan atau sikap kekanak-kanakan.

Sikap meremehkan emosi seperti ini adalah racun yang secara perlahan membunuh rasa percaya dalam hubungan. Menghargai perasaan wanita menuntut Anda untuk memahami bahwa validitas emosi seseorang tidak ditentukan oleh logis atau tidaknya emosi tersebut di mata Anda. Setiap orang memiliki hak penuh atas apa yang mereka rasakan.

Tugas Anda sebagai pasangan adalah hadir, memahami, dan memberikan rasa aman, bukan menjadi hakim yang mengadili perasaan mereka.

Hubungan asmara yang sehat hanya bisa bertahan lama jika kedua belah pihak sepakat untuk membuang jauh-jauh segala bentuk kekerasan, baik verbal maupun fisik, serta berkomitmen penuh untuk saling menjaga kehormatan pasangannya setiap hari.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang