Misteri 4 Rakaat Bada Isya yang Setara Lailatul Qadar Bagaimana Cara Sholat yang Benar

20 Juni 2026, 10:56 WIB

Artikel ini akan mengupas tuntas cara sholat ba'diyah isya 4 rakaat yang sering kali dianggap memiliki keutamaan luar biasa setara malam lailatul qadar. Banyak umat Muslim yang masih bingung mengenai jumlah rakaat yang benar dan bagaimana teknis pelaksanaannya sesuai petunjuk fikih. Saya akan membedah landasan hukum, variasi rakaat, hingga panduan praktisnya agar Anda tidak salah melangkah.

Sebagai seorang umat yang ingin memaksimalkan pahala harian, bahasan mengenai

sholat sunnah setelah isya

ini sangat krusial. Sering kali kita hanya mencukupkan diri dengan dua rakaat saja tanpa mengetahui ada opsi lain yang dianjurkan. Mari kita bedah secara kritis dan detail bagaimana amalan ini semestinya dikerjakan dalam kehidupan sehari-hari.

Pertanyaan mengenai "berapa rakaat sholat ba'diyah isya yang benar" kerap muncul di lingkungan pengajian maupun ruang diskusi digital. Untuk menjawab hal ini secara objektif, kita harus merujuk pada beberapa riwayat hadis yang muktabar. Ternyata, para ulama membagi jumlah rakaat rawatib ini ke dalam dua kelompok besar berdasarkan kebiasaan Rasulullah SAW.

Melalui penelusuran teks keagamaan, jumlah rakaat sholat sunnah rawatib harian bisa dikerjakan dalam skema 10 rakaat atau 12 rakaat. Kedua opsi ini sama-sama memiliki landasan dalil yang kuat dari para sahabat nabi. Saya melihat fleksibilitas ini sebagai ruang kemudahan bagi umat Islam dalam beribadah.

Pembagian 10 Rakaat Menurut Ibnu Umar r.a

Berdasarkan kesaksian dari sahabat Ibnu Umar r.a, Rasulullah SAW senantiasa menjaga 10 rakaat sholat sunah rawatib harian. Jumlah ini terbagi ke dalam beberapa waktu pelaksanaan dari subuh hingga malam hari. Dalam riwayat ini, pengerjaan setelah Isya dibatasi pada jumlah minimal.

Menurut catatan riwayat tersebut, rincian 10 rakaat harian yang dijaga oleh Nabi Muhammad SAW adalah:

  • 2 rakaat sebelum Zuhur
  • 2 rakaat setelah Zuhur
  • 2 rakaat setelah Magrib
  • 2 rakaat setelah Isya (yang dikerjakan di rumah beliau)
  • 2 rakaat sebelum Subuh

Fakta ini didukung kuat oleh HR Al Bukhari No. 117 dan No. 665, serta HR Soheh al-Bukhari No. 1180. Di sini terlihat jelas bahwa standar minimal untuk ba'diyah Isya yang bersifat muakkad (sangat dianjurkan) adalah dua rakaat.

Pembagian 12 Rakaat Menurut At-Tirmidzi & Muslim

Opsi kedua yang tidak kalah populer adalah menggenapkannya menjadi total 12 rakaat dalam sehari semalam. Jika Anda mengambil jalur ini, maka ada tambahan rakaat pada beberapa waktu sholat tertentu. Saya pribadi menilai opsi ini sangat cocok bagi Anda yang memiliki waktu luang lebih luas.

Hadis riwayat At-Tirmidzi dan Muslim merinci total 12 rakaat sunah rawatib harian sebagai berikut:

  • 4 rakaat sebelum Zuhur
  • 2 rakaat sesudah Zuhur
  • 2 rakaat sesudah Magrib
  • 2 rakaat sesudah Isya
  • 2 rakaat sebelum Subuh

Dari kedua pendapat di atas, bisa disimpulkan bahwa secara umum batasan rawatib ba'diyah Isya yang mengiringi sholat fardhu adalah 2 rakaat. Namun, mengapa ada anjuran untuk melaksanakan

cara sholat ba'diyah isya 4 rakaat

? Di sinilah letak pembahasan menarik yang melibatkan atsar sahabat.

Keutamaan 4 Rakaat Setelah Isya dan Kemiripan dengan Lailatul Qadar

Misteri mengenai pelaksanaan empat rakaat setelah Isya ini bersumber dari keterangan beberapa sahabat Nabi, salah satunya Abdullah bin Amru bin Al ‘Ash. Terdapat sebuah pernyataan yang sangat mashur mengenai besarnya ganjaran bagi orang yang mengamalkannya. Hal ini membuat banyak orang memburu amalan tersebut demi mengejar pahala besar.

Siapa yang sholat (sunnah) 4 roka’at setelah (Sholat) Isya’, maka 4 roka’at tersebut seperti keutamaannya 4 ROKA’ATNYA malam Laitul Qodar.

Pernyataan tersebut tercantum dalam HR Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushonnaf pada beberapa nomor hadis, yaitu No. 7273, No. 7274, dan No. 7275. Ketiga nomor hadis tersebut dinyatakan memiliki sanad yang shahih, bahkan beberapa di antaranya memenuhi syarat akurasi Bukhari dan Muslim. Menurut saya, informasi ini menjadi alasan kuat mengapa umat Islam tidak boleh meremehkan amalan ini.

Meskipun ada juga jalur periwayatan lain seperti HR Abu Daud No. 1303, namun statusnya telah dilemahkan oleh Al-Albany dalam Dhaif Abi Daud. Kendati demikian, kekuatan sanad dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah Vol. 2 Halaman 127 dinilai memiliki isnad yang baik. Oleh karena itu, esensi dari

keutamaan sholat 4 rakaat setelah isya

tetap diakui keberadaannya dalam khazanah hukum Islam.

Imam Ibnu Qudamah dalam kitab al-Mughni (2/96) menggunakan istilah khusus untuk fenomena ibadah tambahan seperti ini. Beliau menyebutnya sebagai Tatawwu’ ma’a al-rawatib, yaitu sholat sunat mandiri yang dikerjakan bersamaan atau beriringan dengan waktu sholat rawatib resmi. Jadi, dua rakaat pertama berfungsi sebagai rawatib, dan dua rakaat berikutnya menjadi sholat sunnah mutlak tambahan.

Pandangan lain dikemukakan oleh Imam al-Syaukani dalam kitab karangannya yang berjudul Nailul Autar (3/24). Beliau menyebutkan bahwa pengerjaan salat sebanyak 4 atau 6 rakaat setelah isya itu sebenarnya sudah tergolong ke dalam lingkup salat malam (qiyamul lail). Dari sini kita bisa melihat aspek kritis bahwa pelaksanaannya memiliki fleksibilitas tinggi.

4 Rakaat Ba'da Isya Seperti Shalat Lailatul Qadar? – Syaikh Sa'ad bin Turki Al-khotslan | IRSSAT Official

Panduan Teknis Cara Sholat Ba'diyah Isya 4 Rakaat

Bagi Anda yang berniat mengamalkan ibadah ini, mekanisme pengerjaannya harus dipahami secara tepat agar sah secara fikih. Secara garis besar, ada dua metode utama yang bisa dipilih oleh seorang muslim dalam mengamalkannya. Pilihan metode ini tergantung pada kenyamanan dan preferensi ibadah masing-masing individu.

Berikut adalah tabel penjelasan perbandingan dua metode pengerjaan empat rakaat setelah Isya untuk mempermudah pemahaman Anda.

Perbandingan Metode Pelaksanaan Sholat Sunnah Empat Rakaat Setelah Isya
Aspek Perbandingan Metode Dua Salam (2+2) Metode Satu Salam (4 Sekaligus)
Jumlah Niat Dua kali niat terpisah Satu kali niat di awal
Jumlah Tasyahud Tasyahud akhir di tiap 2 rakaat Tasyahud awal dan akhir
Tingkat Keutamaan Lebih dianjurkan (Sesuai sunnah malam) Boleh dilakukan sebagai variasi
Kemudahan Praktik Sangat umum dan minim kekeliruan Butuh konsentrasi ekstra pada rakaat

Metode Pertama: Dua Rakaat + Dua Rakaat (Dua Salam)

Metode pertama ini adalah cara yang paling aman dan paling sesuai dengan anjuran umum sholat malam, yaitu dikerjakan setiap dua rakaat salam. Anda melakukan sholat dua rakaat pertama dengan niat

ba'diyah isya

seperti biasa. Setelah salam, Anda berdiri lagi untuk mendirikan sholat dua rakaat tambahan.

Langkah-langkah praktisnya meliputi:

  1. Berdiri tegak menghadap kiblat dan membaca niat sholat sunnah bada isya dua rakaat.
  2. Melakukan takbiratul ihram hingga membaca surat pendek.
  3. Rukuk, iktidal, sujud dua kali, dan berdiri kembali untuk rakaat kedua.
  4. Setelah tasyahud akhir pada rakaat kedua, lakukan salam.
  5. Berdiri kembali, lalu membaca niat sholat sunnah tambahan dua rakaat lagi, kemudian ulangi prosesnya hingga salam kedua.

Metode Kedua: Empat Rakaat Sekaligus (Satu Salam)

Metode kedua adalah melaksanakan keempat rakaat tersebut secara langsung tanpa terputus oleh salam di rakaat kedua. Tata caranya mirip dengan pelaksanaan sholat fardhu Isya atau Zuhur, di mana terdapat tasyahud awal di rakaat kedua dan tasyahud akhir di rakaat keempat. Namun, pengerjaannya dilakukan tanpa membaca doa iqamah atau sejenisnya di tengah-tengah sholat.

Kekurangan dari metode ini menurut saya adalah potensi timbulnya rasa bingung atau ragu-ragu mengenai jumlah rakaat yang sedang dijalani, terutama bagi yang belum terbiasa. Oleh karena itu, jika Anda memilih metode satu salam ini, pastikan fokus dan kekhusyukan Anda tetap terjaga penuh dari awal hingga akhir rakaat.

Kritik dan Catatan Penting Mengenai Hadis Lailatul Qadar

Sebagai catatan kritis yang objektif, status hadis mengenai

sholat sunnah setelah isya pahala lailatul qadar

ini memang berbentuk atsar atau perkataan sahabat, bukan sabda langsung dari Nabi Muhammad SAW. Meskipun jalur sanadnya dinilai shahih oleh sebagian ulama terkemuka dalam kitab klasik, kita harus tetap proporsional dalam menyikapinya. Menyamakan pahala di sini bukan berarti kita bisa meninggalkan ibadah berburu Lailatul Qadar di bulan Ramadan.

Nilai kesetaraan pahala tersebut merupakan bentuk motivasi besar dari para sahabat agar umat Islam konsisten menjaga ibadah di malam hari. Jangan sampai konsistensi beribadah malam hanya muncul saat bulan puasa saja, sementara di bulan-bulan lainnya waktu setelah Isya dihabiskan untuk hal-hal yang kurang produktif.

Saya memandang amalan empat rakaat ini sebagai investasi pahala harian yang sangat menjanjikan untuk menutup segala kekurangan dalam sholat wajib kita. Menggabungkan dua rakaat rawatib muakkad dengan dua rakaat sunnah mutlak tambahan adalah formula terbaik untuk menggapai keutamaan yang disebutkan oleh Abdullah bin Amru bin Al ‘Ash tersebut.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang