Memahami literatur sejarah masa lampau sering kali membingungkan bagi pengkaji pemula. Pertanyaan seperti "apa itu historiografi tradisional" kerap muncul ketika seseorang mulai meneliti manuskrip kuno Nusantara. Membedakan antara fakta sejarahm murni dengan legenda pujangga memerlukan pendekatan khusus yang praktis dan sistematis.
Historiografi tradisional adalah pola penulisan sejarah tertua di Indonesia. Penulisannya berkembang pesat sebelum hadirnya historiografi kolonial, nasional, dan modern. Tradisi penulisan ini dimulai pada era kerajaan Hindu-Buddha dan berlanjut hingga masa kerajaan Islam di Indonesia.
Penulisan sejarah pada zaman kerajaan sangat terikat oleh legitimasi kekuasaan penguasa. Para pujangga istana mendapat tugas khusus untuk mencatat silsilah raja serta peristiwa penting kerajaan.
Media yang digunakan sangat beragam bergantung pada era dan wilayahnya. Media penulisan historiografi tradisional meliputi batu prasasti, lontar, kulit binatang, hingga kertas.
Prasasti pada masa Hindu-Buddha biasanya ditulis dengan huruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta. Seiring masuknya pengaruh Islam, penggunaan kertas dan aksara Arab-Melayu atau Pegon mulai mendominasi penulisan babad serta hikayat.
Proses pencatatan sejarah tradisional bukan sekadar mendokumentasikan fakta, melainkan sarana memperkuat legitimasi moral dan spiritual sang penguasa di mata rakyatnya.
Penulisan ini terus berlangsung selama berabad-abad hingga akhirnya meredup. Historiografi tradisional berakhir sekitar abad ke-20 dengan kemunculan kajian sejarah modern dan metodologi ilmiah.
Langkah Praktis Mengidentifikasi Karya Historiografi Tradisional
Dalam kasus yang sering saya temui saat mengkaji teks-teks Nusantara, peniti sering terkecoh antara mitos dan catatan kronik. Anda memerlukan langkah-langkah terstruktur untuk menelaah manuskrip ini secara objektif.
Berikut adalah panduan bertahap untuk menganalisis dan mengidentifikasi teks sejarah tradisional:
- Periksa Istanasentrisme Teks: Amati fokus utama narasi. Teks tradisional hampir selalu berkisar pada kehidupan istana, silsilah raja, atau kebesaran dinasti yang berkuasa.
- Identifikasi Unsur Magis dan Mitos: Cari keberadaan mitologi, sakralisasi raja, atau klaim keturunan dewa. Kesalahan umum yang saya lihat adalah menganggap seluruh unsur magis ini sebagai fakta sejarah mentah, padahal itu adalah alat legitimasi politik.
- Analisis Penggunaan Aksara dan Bahasa: Perhatikan bahasa yang digunakan. Teks era Hindu-Buddha umumnya menggunakan bahasa Jawa Kuno atau Sansekerta, sedangkan era Islam menggunakan bahasa Melayu atau Jawa dengan aksara Pegon.
- Uji Aspek Regiosentrisme: Kenali sudut pandang lokal yang mendominasi. Cerita biasanya sangat berpusat pada wilayah atau suku tertentu tanpa memperhatikan daerah di luarnya.
- Lakukan Verifikasi Lintas Dokumen: Bandingkan isi teks dengan catatan asing atau prasasti lain untuk memisahkan mitos dari fakta kronologis.
Deretan Contoh Karya Historiografi Tradisional di Indonesia
Nusantara menyimpan banyak peninggalan tulisan sejarah yang monumental. Mpu Prapanca adalah sejarawan yang menulis Kitab Negarakertagama, dianggap sebagai awal penulisan historiografi tradisional dalam bentuk tulisan di Indonesia.
Setiap era dan kerajaan menghasilkan karya sastra sejarah dengan karakteristik tersendiri. Memahami variasi karya ini memberi gambaran jelas mengenai bentang sejarah Nusantara.
Kitab Negarakertagama dan Kitab Pararaton
Kitab Negarakertagama tulisan Mpu Prapanca menjadi uraian paling terperinci mengenai tata negara dan kehidupan Majapahit pada masa Hayam Wuruk. Teks ini ditulis pada daun lontar dengan ketelitian tinggi.
Sementara itu, Kitab Pararaton berfokus pada riwayat raja-raja Singhasari dan Majapahit. Karya ini sarat dengan unsur mitologis, termasuk kisah kelahiran Ken Arok.
Babad Tanah Jawi, Babad Pajajaran, dan Babad Majapahit
Babad Tanah Jawi merupakan salah satu contoh karya historiografi tradisional di Indonesia yang paling populer dari mataram Islam. Karya ini memuat silsilah raja-raja Jawa mulai dari nabi hingga penguasa Mataram.
Terdapat pula Babad Pajajaran, Babad Majapahit, Babad Kartasura, serta Babad Tanah Pasundan. Keseluruhan babad ini menggunakan bentuk tembang macapat yang indah namun kaya pesan politik.
Hikayat Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, dan Hikayat Aceh
Di wilayah Sumatra dan Semenanjung Melayu, tradisi penulisan hadir dalam bentuk hikayat. Hikayat Raja-Raja Pasai mendokumentasikan masuknya Islam dan silsilah kesultanan Pasai.
Sejarah Melayu dan Hikayat Aceh menjadi contoh penting bagaimana penulisan sejarah pada masa kerajaan Islam dikemas. Teks-teks ini menggabungkan tradisi lisan, adat istiadat, dan kronik politik kerajaan.
Membedakan Historiografi Tradisional dan Modern
Banyak pembaca menanyakan pertanyaan seperti "bagaimana penulisan sejarah pada masa kerajaan" jika dibandingkan dengan standar penelitian saat ini. Memahami "perbedaan historiografi tradisional dan modern" sangat penting agar kita tidak menghakimi karya masa lalu dengan standar ilmiah hari ini.
Dari pengalaman saya menganalisis berbagai literatur sejarah, perbedaan utama terletak pada metodologi dan subjektivitas penulisan. Sejarawan Indonesia, Kuntowijoyo, menyebut historiografi sebagai tahap terakhir dalam metodologi penelitian sejarah yang menghasilkan karya sejarah.
Pada masa tradisional, kriteria kebenaran bergantung pada perintah penguasa. Sebaliknya, historiografi modern menuntut fakta yang terverifikasi melalui kritik sumber yang ketat.
| Elemen Pembeda | Historiografi Tradisional | Historiografi Modern |
|---|---|---|
| Fokus Utama | Istanasentris dan Raja | Multidimensional dan Masyarakat |
| Pendekatan Metodologi | Subjektif dan Legitimatif | Kritis dan Ilmiah |
| Unsur Mitologi | Dominan dan Menyatu | Dieliminasi melalui Verifikasi |
| Sifat Penulisan | Regiosentris (Lokal) | Nasionalsentris atau Global |
| Media Utama | Lontar, Prasasti, Kertas | Buku, Jurnal, Digital |
Titik Peralihan Menuju Metodologi Sejarah Modern
Masa peralihan dari tradisi penulisan lama menuju metode ilmiah ditandai oleh karya-karya kritis para peneliti awal abad ke-20. Salah satu tonggak terpenting lahir dari akademisi pribumi. Buku "Critische beschouwing van de sedjarah Banten" disusun oleh Hoesein Djajadiningrat tahun 1913 sebagai disertasi doktor di Universitas Leiden. Karya ini dikenal sebagai tonggak akhir historiografi tradisional dan awal metodologi penelitian sejarah Indonesia.
Hoesein Djajadiningrat, sejarawan asal Banten dan dikenal sebagai Bapak Metodologi Penelitian Sejarah Indonesia, menyusun karya penting tahun 1913 tersebut untuk menguji teks Babad Banten secara kritis. Beliau memisahkan antara fakta sejarah yang dapat dibuktikan dengan mitos yang menyertainya. Langkah penulisan kritis ini mengubah lanskap penelitian sejarah Indonesia.
Memahami sejarah kerajaan Indonesia tidak lagi sekadar menghafal silsilah sakral, melainkan menguji setiap bukti dokumen secara sistematis. Menelaah contoh karya historiografi tradisional memerlukan kejelian dalam memisahkan legitimasi politik kerajaan dari fakta kronologis. Menggunakan pendekatan kritis yang dirintis oleh para ahli membantu kita menghargai karya sastra masa lalu sekaligus mendapatkan konstruksi sejarah masa lalu secara akurat.






