Kembalinya Doan Van Hau ke skuad Vietnam memicu ingatan publik menjelang laga Grup A Piala AFF 2026 menghadapi Timnas Indonesia. Dilansir dari Bola, bek kiri tersebut siap tampil di Stadion Pakansari pada Senin (3/8/2026) pukul 20.30 WIB. Persaingan kedua negara selalu berlangsung dalam tensi tinggi.
Selain perebutan tiga poin, persaingan sengit antarpemain kerap mewarnai alur pertandingan di lapangan. Van Hau kini dinyatakan pulih dari cedera tumit berkepanjangan yang sempat membuatnya absen. Masuknya sang pemain ke tim The Golden Star Warriors menghidupkan kembali deretan insiden masa lalu.
Nama Van Hau mulai memicu reaksi keras suporter Indonesia sejak partai final SEA Games 2019. Momen Aksi pelanggarannya membuat gelandang Evan Dimas mengalami cedera hingga tidak bisa tampil maksimal.
Kehilangan peran Evan Dimas di lini tengah terbukti memukul performa Garuda Muda. Skuad Indonesia akhirnya harus puas menyelesaikannya dengan raihan medali perak. Aksi keras sang bek kembali terlihat pada semifinal Piala AFF 2022 leg pertama. Pelanggaran keras bertubi-tubi menyasar Dendy Sulistyawan serta Ricky Kambuaya sepanjang laga.
Ketegangan tersebut meluas hingga melibatkan friksi dengan Marc Klok. Gesekan antar pilar tim terus mengiringi laga hingga peluit panjang dibunyikan. Pada leg kedua di Hanoi, aksi keras Van Hau berlanjut saat berbenturan dengan Asnawi Mangkualam. Situasi sempat memanas menjelang sepak pojok ketika Marc Klok menolak ajakan jabat tangan dari Van Hau sebelum direspons wasit.
Pembahasan di Luar Lapangan
Popularitas kontroversial Van Hau bahkan terbawa ke luar arena pertandingan. Bahasan mengenai sang pemain sempat hadir dalam tayangan siniar Sport77Official bersama komika Mamat Alkatiri menjelang Piala Asia 2023. Mamat sempat memberikan seloroh kepada bek Indonesia, Sandy Walsh, terkait tindakan di lapangan saat bersua Vietnam.
Walsh merespons gurauan tersebut dengan menyebut nama serta nomor punggung sang pemain lawan. "Dengan siapa, nomor 5 (Doan Van Hao) tim Vietnam?" ujar Sandy Walsh.
Percakapan tersebut mencerminkan bagaimana sosok Van Hau terus melekat dalam memori sepak bola nasional setiap kali bentrokan kedua tim bergulir.







