Eddy Soeparno Dorong Transformasi BUMN Berorientasi ESG dan Dampak Sosial

8 Agustus 2026, 05:46 WIB

Transformasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) didorong untuk terus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, kelestarian lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan. Upaya ini dinilai penting agar kinerja korporasi tidak hanya berfokus pada keuntungan finansial belaka. Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menyampaikan bahwa perjalanan BUMN dari era Perusahaan Negara (PN) hingga menjadi entitas global menunjukkan kemajuan besar.

Seperti dikutip dari Detik Finance, perubahan tersebut mencakup perbaikan tata kelola serta peningkatan kinerja bisnis secara menyeluruh. Meski begitu, Eddy menekankan pentingnya memasuki tahapan baru dalam proses transformasi perusahaan plat merah. Orientasi bisnis perlu diperluas dari sekadar shareholder value menjadi penciptaan nilai bagi publik atau stakeholder value.

"Keberhasilan BUMN memang tercermin dari meningkatnya nilai perusahaan, harga saham, dividen kepada negara, maupun pangsa pasar. Namun pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apakah keberhasilan tersebut juga menghadirkan kontribusi nyata dalam menyelesaikan persoalan sosial, mengurangi kesenjangan, menciptakan lapangan kerja, serta menjaga kelestarian lingkungan hidup," ujar Eddy, Jumat (7/6/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan saat Eddy memberikan sambutan sebagai Ketua Dewan Juri Kehormatan TJSL & CSR Award BUMN Track 2026. Menurutnya, konsep Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) saat ini bukan lagi sekadar aksi hibah atau bantuan sosial sesaat. Ia menilai TJSL telah menjadi elemen strategis yang melekat pada model bisnis berkelanjutan. BUMN diharapkan dapat bertindak sebagai motor perubahan sekaligus penegak keadilan sosial di tengah masyarakat.

"BUMN harus tampil sebagai agent of change sekaligus agent of social justice. Kehadiran BUMN harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat melalui program-program yang mampu meningkatkan kesejahteraan, memperkuat ekonomi rakyat, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan," tegasnya. Doktor Ilmu Politik Universitas Indonesia itu menjelaskan bahwa kriteria keputusan investasi global saat ini telah mengalami pergeseran paradigma. Faktor Environmental, Social, and Governance (ESG) kini menjadi pertimbangan utama di samping indikator keuangan tradisional.

Isu lingkungan seperti efisiensi energi, transisi energi bersih, pemanasan global, hingga penanganan limbah menjadi poin krusial bagi para investor. Jejak karbon korporasi kini dipantau secara ketat sebagai tolok ukur daya saing perusahaan. "Hari ini investor tidak hanya melihat besarnya earning per share, tetapi juga bagaimana perusahaan mengelola carbon footprint-nya.

Kinerja lingkungan kini menjadi faktor yang memengaruhi nilai perusahaan, daya saing, bahkan keputusan investasi," jelas Eddy. Pelaksanaan program TJSL yang terpadu dengan kerangka ESG diyakini mampu memberi manfaat ekonomi sekaligus dampak sosial yang konsisten. Langkah ini dipandang sebagai investasi jangka panjang demi menjaga kepercayaan pasar dan reputasi korporasi.

"Program TJSL adalah investasi jangka panjang yang memperkuat reputasi perusahaan, meningkatkan kepercayaan investor, menjaga keberlanjutan bisnis, sekaligus memperbesar nilai perusahaan di masa depan," ujarnya.

Apresiasi juga diberikan terhadap gelaran TJSL & CSR Award BUMN Track 2026 sebagai sarana berbagi praktik terbaik di lingkungan BUMN. Ke depan, penilaian performa BUMN perlu mencakup tiga dimensi utama secara seimbang. "Ke depan, keberhasilan BUMN harus diukur melalui tiga dimensi sekaligus, yaitu kinerja ekonomi yang sehat, manfaat sosial yang nyata, dan kualitas lingkungan yang terus terjaga. Ketiga aspek tersebut merupakan fondasi utama bagi BUMN untuk terus tumbuh secara berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi bangsa dan negara," tutup Eddy.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang