PT Freeport Indonesia (PTFI) merencanakan pengoperasian kembali Smelter Manyar di Kawasan Ekonomi Khusus JIIPE, Gresik, Jawa Timur secara bertahap mulai September 2026. Fasilitas pengolahan tersebut sempat terhenti beroperasi sejak Desember 2025 akibat terputusnya pasokan konsentrat tembaga, sebagaimana dilansir dari Detik Finance.
Penghentian operasional smelter sebelumnya dipicu oleh insiden longsor lumpur bijih basah di area tambang bawah tanah Grasberg Block Cave, Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah. Saat ini, pengiriman bahan baku dari Papua ke Gresik sudah mulai berjalan untuk mengumpulkan volume pasokan yang cukup sebelum proses pembakaran dimulai.
"Smelter nanti mulai bulan September sudah mulai akan produksi lagi," kata Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas.
Manajemen perusahaan menyampaikan bahwa pemulihan produksi tidak langsung dilakukan secara penuh pada tahap awal. Pengoperasian September 2026 diproyeksikan mulai dari kapasitas di bawah 50 persen sebelum ditingkatkan berjenjang.
"Sementara ini konsentrat sudah mulai masuk, dari Papua sudah mulai masuk ke Manyar. Jadi mungkin satu set, kan supaya volumenya cukup dulu baru kita bakar," jelas Tony Wenas.
Target peningkatan kapasitas pengolahan disiapkan hingga mencapai level maksimal pada periode berikutnya.
"Menuju 100% di tahun 2027 akhir," tegas Tony Wenas.
Fasilitas Smelter Manyar sebenarnya telah melakukan operasi terbatas sejak Juni 2024 dan memproduksi olahan konsentrat pada Agustus 2024. Namun, insiden kebakaran melanda unit gas cleaning plant pada Oktober 2024 yang berfungsi menangkap SO2 hasil furnace untuk diproses menjadi asam sulfat agar tidak mencemari udara.
"Namun demikian, pada tahun 2024 di bulan Oktober terjadi kebakaran di area smelter, yaitu di salah satu unit kecil yaitu gas cleaning plant. Yang tapi itu walaupun unitnya kecil, tapi itu sangat vital karena di gas cleaning plant ini yang akan menangkap SO2 dari hasil furnace yang kemudian SO2 ini ditangkap supaya tidak tercemar ke udara dan diproses menjadi asam sulfat," jelas Tony Wenas.
Perbaikan unit tersebut rampung pada Mei 2025, tetapi longsor di tambang Grasberg pada September 2025 kembali menghentikan pasokan bahan baku. Smelter kemudian hanya memurnikan sisa pasokan di gudang hingga habis pada Desember 2025.
"Tapi di satu sisi berhenti total itu menyebabkan kita mampu untuk melakukan pemeliharaan-pemeliharaan dan perbaikan-perbaikan untuk memastikan bahwa pada saatnya nanti smelter baru tersebut kemudian bisa sudah mendapat asupan konsentrat lagi dari upstream, dari hulu di Papua, itu untuk memastikan bahwa semua proses sudah dicek semuanya dan bisa beroperasi kembali," paparnya.







