Gerhana Matahari Total 2027 Bakal Berlangsung 6 Menit Lebih

6 Agustus 2026, 21:31 WIB

Peristiwa astronomi langka bakal menyapa Bumi pada 2 Agustus 2027 mendatang. Gerhana Matahari Total 2027 diperkirakan berlangsung selama 6 menit 23 detik, seperti dilansir dari Detik iNET.

Durasi tersebut menjadikannya sebagai gerhana Matahari total paling lama yang bisa diamati dari daratan pada abad ke-21. Saat fase totalitas terjadi, suasana siang hari akan berubah gelap bagaikan malam.

Para pengamat yang berada di lintasan gerhana berpeluang menyaksikan korona Matahari, yakni lapisan atmosfer terluar yang biasanya terhalang oleh cemerlangnya cahaya fotosfer. Fenomena ini diprediksi menarik minat ribuan astronom, fotografer, hingga wisatawan dari berbagai negara.

Gerhana Matahari total ini akan membentang di jalur selebar ratusan kilometer yang mencakup wilayah Eropa, Afrika Utara, sampai Timur Tengah. Kawasan yang tepat berada di jalur totalitas bakal mengalami kegelapan di siang hari selama kurang lebih 6 menit 23 detik, jauh melebihi durasi gerhana umumnya yang hanya berlangsung 2 hingga 3 menit.

Sejumlah negara diprediksi menjadi perlintasan jalur totalitas fenomena alam ini:

  • Spanyol
  • Gibraltar
  • Maroko
  • Aljazair
  • Tunisia
  • Libya
  • Mesir
  • Arab Saudi
  • Yaman
  • Somalia

Masyarakat yang tinggal di luar lintasan utama tetap berkesempatan mengamati gerhana Matahari sebagian. Namun, piringan Matahari hanya akan tertutup sebagian oleh piringan Bulan.

Sayangnya, Indonesia tidak dilintasi oleh jalur totalitas fenomena ini. Masyarakat di Indonesia tidak dapat menyaksikan momen ketika Matahari tertutup secara sempurna oleh Bulan. Pencinta astronomi tanah air yang ingin melihatnya langsung perlu bepergian ke negara-negara di jalur lintasan.

Penyebab Durasi Totalitas Sangat Panjang

Panjangnya durasi gerhana ditentukan oleh konfigurasi posisi Matahari, Bulan, dan Bumi. Pada 2 Agustus 2027, posisi Bulan berada relatif dekat dengan Bumi sehingga ukurannya tampak lebih besar di langit.

Di saat bersamaan, posisi Bumi berada di dekat titik aphelion atau jarak terjauh dari Matahari dalam lintasan orbitnya. Faktor ini menjadikan piringan Matahari terlihat sedikit lebih kecil dibanding biasanya. Gabungan dua kondisi tersebut membuat Bulan sanggup menutupi Matahari dalam rentang waktu yang lebih lama.

Faktor lain yang turut memengaruhi adalah lintasan bayangan Bulan yang melintasi area dekat garis khatulistiwa. Kecepatan rotasi permukaan Bumi yang lebih tinggi di kawasan tersebut makin memperpanjang masa totalitas di beberapa lokasi pengamatan.

Dampak Fenomena dan Manfaat Sains

Kegelapan saat totalitas memicu penurunan suhu udara beberapa derajat Celsius serta memunculkan penampakan bintang dan planet terang. Selain memunculkan keindahan korona Matahari, fenomena ini turut memengaruhi perilaku satwa. Burung-burung kerap kembali ke sarangnya, sementara serangga malam mulai beraktivitas karena mengira hari telah berganti malam.

Bagi para peneliti, durasi lebih dari enam menit ini memberikan jendela observasi yang sangat berharga. Momen ini dimanfaatkan untuk meneliti struktur korona, aktivitas medan magnet, hingga semburan plasma yang sulit terdeteksi saat siang normal.

Meskipun menarik untuk disaksikan, pengamatan tidak boleh dilakukan secara telanjang mata. Penggunaan kacamata gerhana bersertifikat atau filter surya khusus sangat dianjurkan untuk mencegah kerusakan retina permanen hingga risiko kebutaan.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang