Harga Bitcoin hari ini terperosok sebesar 1,62 persen ke level US$ 63.758,41 atau setara Rp 1,14 miliar pada perdagangan Jumat (17/7/2026) pagi pukul 06.45 WIB. Penurunan harga ini dipicu aksi jual di Wall Street yang ikut menyeret pasar kripto.
Berdasarkan data pasar terkini dengan kurs Rp 17.985 per dolar AS, koreksi ini terjadi setelah Bitcoin sempat menyentuh titik tertinggi mingguan di level US$ 65.600 sebelum akhirnya kembali tertekan di bawah level psikologis.
Sebelum penurunan hari ini terjadi, harga Bitcoin hari ini sempat mencatatkan pergerakan yang fluktuatif sepanjang pekan. Pada Kamis (16/7/2026) pukul 06.57 WIB, Bitcoin diperdagangkan di level US$ 64.724,78 atau sekitar Rp 1,17 miliar.
Dilansir dari laporan Kompas, nilai kapitalisasi pasar Bitcoin pada tengah pekan tersebut sempat bertahan kokoh di angka US$ 1,29 triliun atau setara dengan Rp 23.324 triliun dengan pelemahan harian yang sangat tipis.
Informasi ini bukan saran investasi. Konsultasikan dengan penasihat keuangan sebelum mengambil keputusan investasi di pasar kripto.
Pada perdagangan Rabu (15/7/2026) pukul 22.35 WIB, Bitcoin bahkan sempat menunjukkan kekuatannya dengan melonjak hingga menyentuh US$ 65.467,42. Sayangnya, momentum penguatan tersebut tidak bertahan lama akibat tekanan pasar eksternal yang meningkat.
Investor kini bertanya-tanya "kenapa bitcoin turun hari ini" setelah sebelumnya sempat menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Pelemahan ini juga mengundang beragam analisis mengenai arah pergerakan aset digital utama ini ke depan.
Berdasarkan laporan FXStreet, pergerakan teknis Bitcoin saat ini berada di bawah beberapa indikator penting. Posisi harga tercatat berada di bawah Exponential Moving Average (EMA) 50-hari yang berada di level US$ 65.119.
Selain itu, harga Bitcoin juga masih tertahan di bawah garis EMA 100-hari pada level US$ 68.446 serta EMA 200-hari yang berada di angka US$ 74.480. Ini menunjukkan tekanan turun jangka menengah yang masih kuat bagi para pelaku pasar.
Meskipun demikian, indikator Relative Strength Index (RSI) saat ini berada di angka 53. Angka ini menunjukkan momentum pasar yang relatif netral dan belum memasuki wilayah jenuh beli maupun jenuh jual.
Di sisi lain, indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) masih bertahan di atas nol dengan garis positif sekitar 431. Kondisi ini memberikan sedikit angin segar bagi pergerakan harga ke depan.
Pergerakan teknis lainnya menunjukkan level Parabolic SAR berada di US$ 62.272. Level ini menjadi batas krusial untuk memperhatikan apakah Bitcoin akan mengalami pemulihan atau justru kembali tertekan lebih dalam.
Penurunan Open Interest Kontrak Berjangka
Faktor lain yang memengaruhi pasar adalah penurunan aktivitas perdagangan berjangka. Data internal menunjukkan Open Interest (OI) kontrak berjangka perpetual Bitcoin mengalami penyusutan yang cukup signifikan pada pertengahan pekan ini.
Jumlah kontrak berjangka perpetual Bitcoin turun menjadi 747.000 BTC pada hari Kamis. Padahal, pada hari sebelumnya posisi Open Interest masih bertahan di angka 755.000 BTC, menandakan mendinginnya aktivitas pembelian ritel.
Penurunan minat ini menjadi salah satu indikasi adanya sikap hati-hati dari para trader. Sebagian pelaku pasar memilih untuk merealisasikan keuntungan atau membatasi paparan risiko di tengah ketidakpastian pasar finansial global.
Fluktuasi Harga Sepanjang Pekan Juli 2026
Sebelum terperosok ke kisaran US$ 63.000, Bitcoin sempat mengalami dinamika yang menarik. Pada tanggal 13 Juli 2026, harga Bitcoin sempat jatuh dari level US$ 64.570 ke titik terendah mingguan di level US$ 61.900.
Sehari setelahnya, aset kripto dengan kapitalisasi terbesar ini berhasil pulih kembali ke atas level US$ 64.000. Bahkan, harga sempat melesat hingga menyentuh US$ 65.740 menurut data analisis pasar.
Pergerakan fluktuatif ini juga terekam pada 14 Juli 2026 ketika harga sempat turun ke US$ 62.300 sebelum akhirnya berhasil rebound kembali ke level US$ 64.700 pada keesokan harinya.
Media Pintu mencatat volume transaksi perdagangan Bitcoin dalam 24 jam sempat melebihi US$ 13,3 miliar pada penutupan hari Rabu waktu Amerika Serikat dengan harga penutupan di level US$ 65.049,10.
Sementara itu, data dari CoinGecko pada periode yang sama mencatat Bitcoin bertengger di level US$ 64.973. Angka tersebut mencerminkan kenaikan sebesar 3,70 persen dalam 24 jam dan 3,50 persen dalam sepekan.
Dinamika ini melahirkan beragam prediksi bitcoin terbaru 2026 di kalangan analis. Salah satunya adalah analisis dari Investing Live yang memberikan Bitcoin Prediction Score sebesar +3 dari skala maksimal +10.
Tabel Perbandingan Harga Bitcoin Juli 2026
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai volatilitas pasar, berikut adalah rangkuman pergerakan harga Bitcoin dalam beberapa hari terakhir berdasarkan data historis yang dihimpun dari berbagai sumber terpercaya.
| Tanggal (2026) | Harga Bitcoin (US$) | Keterangan Pergerakan |
|---|---|---|
| 13 Juli | US$ 61.900 | Turun dari level US$ 64.570 |
| 14 Juli | US$ 62.300 | Mengalami penurunan sebelum pulih kembali |
| 15 Juli | US$ 65.467,42 | Menguat signifikan pada perdagangan malam |
| 16 Juli | US$ 64.724,78 | Koreksi tipis dalam perdagangan harian |
| 17 Juli | US$ 63.758,41 | Turun akibat aksi jual di pasar global |
Level Teknis Kunci Jangka Pendek
Para pelaku pasar kini memantau dengan cermat level-level teknis penting untuk menentukan arah pergerakan selanjutnya. Berdasarkan analisis teknis Indodax, terdapat beberapa area kunci yang harus diperhatikan oleh para investor.
- Resistance Utama: Berada di kisaran US$ 65.700 hingga US$ 65.750 yang menjadi pembatas pemulihan harga.
- Zona Konfirmasi Breakout: Berada di kisaran US$ 65.300 hingga US$ 65.400 sebagai syarat penguatan lanjutan.
- Batas Dukungan Terdekat: Terpantau di level US$ 62.272 yang dijaga oleh indikator Parabolic SAR.
Berbagai faktor teknis dan aktivitas transaksi berjangka ini terus memengaruhi volatilitas harga harian Bitcoin. Pergerakan pasar kripto ke depan akan sangat bergantung pada kemampuan aset ini bertahan di atas level dukungan terdekatnya.







