Ilmuwan Ungkap Penyebab Kebakaran Hutan Sulit Padam

22 Agustus 2026, 15:05 WIB

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap melanda wilayah Kalimantan kembali menjadi sorotan publik dan para ilmuwan global. Fenomena tahunan ini mengingatkan kita semua akan betapa sulitnya mengendalikan kobaran api ketika kondisi lingkungan mendukung penyebaran secara masif. Para peneliti kini mulai mengungkap berbagai faktor ilmiah di balik keganasan api yang kian sulit dijinakkan oleh satuan tugas pemadam kebakaran di lapangan.

Karakteristik Unik Lahan Gambut yang Menyimpan Bara

Salah satu alasan utama mengapa kebakaran hutan di Kalimantan sangat sulit dikendalikan adalah karakteristik tanahnya yang didominasi oleh lahan gambut. Lahan gambut merupakan ekosistem unik yang terbentuk dari tumpukan bahan organik setengah membusuk dalam kondisi basah selama ribuan tahun. Ketika lahan ini dikeringkan untuk dialihfungsikan menjadi area perkebunan atau pertanian, kandungan air di dalamnya menyusut drastis, meninggalkan material organik kering yang sangat mudah terbakar.

Kebakaran di lahan gambut memiliki keunikan yang sangat menyulitkan proses pemadaman, yaitu kebakaran bawah permukaan. Api tidak hanya berkobar di atas permukaan tanah, melainkan merayap di bawah tanah hingga kedalaman beberapa meter. Hal ini membuat upaya pemadaman dari udara menggunakan helikopter pengebom air sering kali tidak efektif, karena air hanya membasahi permukaan atas sementara bara api di bawah tanah tetap menyala dan terus menyebar tanpa terlihat.

Selain itu, tiupan angin kencang di area terbuka mempercepat pasokan oksigen yang memicu api untuk melompat dari satu titik ke titik lainnya. Fenomena lompatan api ini sering kali menciptakan titik api baru di area yang sebelumnya dianggap aman, sehingga menyulitkan petugas pemadam kebakaran untuk melakukan lokalisasi area terdampak secara cepat.

Dampak Perubahan Iklim Global yang Memperparah Keadaan

Para ilmuwan juga menyoroti peran perubahan iklim global yang memperparah intensitas dan frekuensi kebakaran hutan. Peningkatan suhu rata-rata bumi menyebabkan musim kemarau menjadi lebih panjang dan ekstrem. Fenomena cuaca seperti El Nino turut memperburuk situasi dengan menekan curah hujan di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sehingga menciptakan kondisi kekeringan yang sangat ekstrem.

Kondisi udara yang sangat kering dan suhu yang tinggi membuat vegetasi hutan kehilangan kelembapannya dengan cepat. Daun-daun kering, ranting, dan semak belukar berubah menjadi bahan bakar potensial yang siap tersulut bahkan oleh percikan api terkecil sekalipun. Dalam kondisi lingkungan yang sangat mendukung seperti ini, api dapat menyebar dengan kecepatan luar biasa, melampaui kemampuan respons manusia untuk memadamkannya secara manual.

Perubahan iklim juga mengacaukan pola cuaca lokal, membuat prediksi arah angin dan datangnya musim hujan menjadi semakin sulit. Ketidakpastian ini menyulitkan otoritas terkait dalam merencanakan strategi pencegahan dan penanggulangan bencana secara efektif sejak dini.

Tantangan Logistik dan Solusi Jangka Panjang

Tantangan di lapangan tidak hanya terbatas pada faktor alam, tetapi juga kendala logistik yang dihadapi oleh tim penyelamat. Banyak titik kebakaran berada di lokasi yang sangat terpencil, jauh dari akses jalan darat, dan minim sumber air. Petugas sering kali harus berjalan kaki berjam-jam sambil membawa peralatan berat hanya untuk mencapai lokasi api, yang pada saat mereka tiba, skalanya sudah terlanjur membesar.

Dampak dari sulitnya mengendalikan kebakaran hutan ini sangat luas, mulai dari kerusakan keanekaragaman hayati, hilangnya habitat satwa langka seperti orangutan, hingga pelepasan emisi karbon dalam jumlah masif ke atmosfer yang mempercepat pemanasan global. Selain itu, kabut asap tebal yang dihasilkan menimbulkan krisis kesehatan bagi jutaan warga yang menghirup udara beracun tersebut setiap harinya.

Untuk mengatasi masalah sistemik ini, para ilmuwan menekankan pentingnya beralih dari strategi pemadaman yang bersifat responsif ke strategi pencegahan yang bersifat preventif. Restorasi lahan gambut melalui pembasahan kembali dan penyekatan kanal menjadi langkah krusial yang harus diakselerasi. Hanya dengan menjaga ekosistem tetap basah dan lestari, kita dapat mencegah alam menyediakan bahan bakar bagi bencana kebakaran di masa depan.

TagS

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang