Pelatih Indra Sjafri resmi mengundurkan diri sebagai nakhoda Timnas Indonesia U22 pada Selasa (16/12) setelah timnya gagal meraih medali pada ajang SEA Games 2025. Langkah pengunduran diri tersebut disampaikan secara terbuka melalui sebuah konferensi pers resmi yang diselenggarakan oleh Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Dilansir dari Papanskor, perubahan struktural ofisial tim nasional tidak berhenti pada posisi pelatih saja.
Pada waktu yang bersamaan, Sumardji juga memutuskan mundur dari jabatannya sebagai manajer Timnas Indonesia senior dan U23.
Pengunduran diri ini dilakukan agar Sumardji dapat memusatkan fokusnya menjalankan tugas sebagai Kepala Badan Tim Nasional (BTN) Indonesia. Selanjutnya, tugas sebagai manajer tim nasional akan diserahkan kepada sosok lain.
Perombakan besar-besaran di jajaran manajemen dan kepelatihan ini dipicu oleh hasil minor yang mengejutkan para penggemar sepak bola nasional. Timnas Indonesia U22 dipastikan gagal melaju ke babak semifinal SEA Games 2025.
Hasil buruk tersebut menjadi catatan kelam karena Indonesia pertama kali gagal lolos ke semifinal sejak tahun 2009 atau dalam 16 tahun terakhir. Kegagalan ini sekaligus memperpanjang puasa medali bagi cabang olahraga sepak bola putra Indonesia di SEA Games setelah terakhir kali diraih pada tahun 2015. Situasi ini menjadi sorotan tajam mengingat tim putra selama ini selalu menjadi tulang punggung utama dalam perolehan medali bagi kontingen Indonesia.
Hasil buruk yang didapat oleh Ivar Jenner dan kawan-kawan menjadi kejutan besar bagi publik sepak bola tanah air.
Pasalnya, tim nasional datang ke turnamen ini dengan dipimpin oleh pelatih yang sama saat berhasil memenangkan medali emas pada edisi 2023. Prestasi tahun 2023 tersebut merupakan medali emas ketiga sepanjang sejarah, sekaligus yang pertama sejak regulasi kelompok umur berlaku pada 2001. Selain faktor pelatih, komposisi skuad Indonesia untuk edisi 2025 ini juga mencetak sejarah baru karena diperkuat oleh lima pemain keturunan jalur naturalisasi.
Kehadiran lima pemain naturalisasi ini merupakan jumlah terbanyak yang pernah ada dalam sejarah keikutsertaan Indonesia di SEA Games.
Pada edisi-edisi sebelumnya, kekuatan tim nasional lebih banyak bertumpu pada maksimal empat pemain didikan lokal yang berkarier di luar negeri. Skuad Indonesia edisi 2021 diisi oleh Witan Sulaeman dan Egy Maulana Vikri di Senica, Saddil Ramdani di Sabah, serta Asnawi Mangkualam di Ansan Greeners.
Sementara itu, edisi 2023 mengandalkan Marselino Ferdinan yang bermain di Deinze dan Pratama Arhan di Tokyo Verdy. Sejarah mencatat Indonesia juga pernah menggunakan jasa pemain naturalisasi non-keturunan seperti Marc Klok pada edisi 2021.
Marc Klok saat itu mengisi kuota pemain senior bersama Ricky Kambuaya dan Fachruddin Aryanto. Terdapat pula pemain keturunan non-naturalisasi seperti Elkan Baggott dan Ronaldo Kwateh pada 2021, serta Ryuji Utomo pada 2017. Adapun pemain naturalisasi keturunan pertama yang ikut SEA Games adalah Diego Michiels pada 2011 dan 2013, disusul Ezra Walian pada 2017.
Sebelum berlaga, PSSI telah memfasilitasi Timnas U22 dengan program persiapan matang melalui rangkaian uji coba intensif selama dua bulan terakhir.
Fokus PSSI terhadap persiapan skuad SEA Games ini bahkan membuat Timnas senior harus melewati kalender FIFA Matchday tanpa menggelar pertandingan uji coba.







