Langkah Inter Milan di ajang Piala Dunia Antar Klub 2025 resmi terhenti pada babak 16 besar yang berlangsung di Amerika Serikat. Klub raksasa Italia tersebut gagal melaju ke fase perempat final setelah mengalami kekalahan dari wakil Brasil, Fluminense. Pertandingan penentu tersebut dilaksanakan pada Senin (30/6) malam waktu setempat atau Selasa (1/7) dini hari waktu Indonesia.
Kegagalan sang finalis Liga Champions 2025 ini membuat mereka tidak mampu menyusul tim-tim unggulan Eropa lainnya.
Sebelumnya, klub besar seperti Chelsea, Paris Saint Germain (PSG), dan Bayern Munchen telah memastikan diri lolos ke babak delapan besar. Dikutip dari Papanskor, terdapat beberapa kendala krusial yang menyebabkan performa anak asuh Christian Chivu ini tidak maksimal.
Sektor lini belakang menjadi salah satu titik lemah Inter Milan sepanjang turnamen ini bergulir. Berdasarkan data dari fifa.com, tim ini hanya mencatatkan satu kali clean sheet dari total empat pertandingan yang dilakoni.
Gawang yang dijaga oleh kiper Yann Sommer harus rela kebobolan sebanyak empat kali dalam empat laga. Catatan tersebut meliputi hasil imbang 1-1 melawan Monterrey dan kemenangan 2-1 saat menghadapi Urawa Red Diamonds. Terakhir, gawang mereka kembali bergetar dua kali saat ditundukkan oleh Fluminense di babak gugur.
Dalam tiga pertandingan tersebut, Inter Milan selalu berada dalam posisi tertinggal lebih dahulu dari lawan-lawannya.
Saat melawan Urawa Red Diamonds, pertahanan mereka sudah bobol pada menit ke-11 meski akhirnya menang. Sementara pada laga kontra Fluminense, gawang Sommer bahkan sudah bergetar di menit ke-3 melalui gol German Ezequiel Cano.
Lini Depan Lambat Merespons di Babak Pertama
Selain masalah di sektor belakang, produktivitas barisan penyerang Inter Milan juga dinilai kurang tajam.
Sepanjang kompetisi, tim hanya mengoleksi 5 gol yang seluruhnya tercipta pada laga-laga fase grup. Dari lima gol tersebut, sebanyak empat gol baru bisa dihasilkan pada paruh kedua pertandingan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa skuad Nerazzurri sering kali terlambat panas dan lambat memberikan respons. Ketika berhadapan dengan Monterrey, gol penyama kedudukan 1-1 baru lahir melalui Lautaro Martinez di menit ke-42.
Saat melawan Urawa, tim yang tertinggal 0-1 di babak pertama baru membalikkan keadaan di menit ke-78 lewat Lautaro dan menit ke-90+2 via Carboni. Momen serupa terjadi saat menang 2-0 atas Boca Juniors, di mana gol baru tercipta pada menit ke-72 dan menit ke-90+3. Pada laga krusial melawan Fluminense, barisan depan Inter Milan buntu dan tidak mampu mengejar ketertinggalan skor.
Masa Transisi di Kursi Kepelatihan
Performa yang kurang solid ini juga dipengaruhi oleh perubahan struktur kepemimpinan di dalam tim.
Simone Inzaghi, yang musim sebelumnya membawa Inter Milan hampir meraih treble, memutuskan hengkang untuk melatih Al Hilal. Posisi yang ditinggalkan Inzaghi kemudian diambil alih oleh mantan pemain Inter Milan asal Rumania, Christian Chivu. Chivu yang sebelumnya mengarsiteki Parma dinilai masih memerlukan waktu adaptasi guna mengembalikan performa tim ke level tertinggi.







