Pasangan ganda campuran muda Indonesia, Jafar dan Felisha, menorehkan prestasi gemilang dengan menembus peringkat 10 besar dunia. Berdasarkan informasi yang dikutip dari Papanskor, pencapaian performa Jafar yang berusia 22 tahun dan Felisha yang berumur 20 tahun ini bahkan telah melampaui para senior mereka di pelatnas. Secara peringkat, posisi Jafar/Felisha kini berada di atas ganda campuran senior Indonesia seperti Adnan Maulana/Indah Cahaya Sari Jamil serta Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah.
Posisi di barisan 10 besar dunia tersebut sekaligus menjadikan mereka sebagai ganda campuran dengan ranking tertinggi di tanah air saat ini. Kendati demikian, stabilitas performa mereka di sepanjang tahun 2025 masih dinilai fluktuatif. Masalah inkonsistensi ini menjadi rintangan utama bagi duet Merah Putih tersebut, terutama sewaktu berhadapan dengan jajaran pemain papan atas dunia.
Kelemahan tersebut terlihat jelas saat mereka berlaga dalam turnamen BWF World Tour Finals (WTF) 2025 yang berlangsung di Hangzhou, China. Pada turnamen penutupan musim yang berakhir pekan lalu itu, Jafar/Felisha menyudahi fase grup di peringkat ketiga dengan hasil satu kali menang dan dua kali kalah.
Pasangan Merah Putih ini harus mengakui keunggulan wakil tuan rumah sekaligus peringkat satu dunia, Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping. Selain itu, mereka juga menelan kekalahan dari juara dunia 2025 asal Malaysia, Chen Tang Jie/Toh Ee Wei. Meski begitu, Jafar/Felisha sempat mengamankan kemenangan dalam debutnya di turnamen tersebut. Mereka sukses menumbangkan ganda campuran Malaysia lainnya, Goh Soon Huat/Lei Shevon Jemie, lewat permainan dua game langsung dengan skor kembar 21-17, 21-17.
"Setelah berkenalan dengan atmosfer BWF World Tour pada semua level tahun ini, saatnya Jafar/Felisha memperkuat semua aspek kemampuan untuk menembus kekuatan elite dunia," begitu tulisan Kompas pada Jumat (26/12) dikutip dari djarumbadminton.com. "Faktor itu menjadi kesulitan mereka sepanjang 2025. Jafar/Felisha belum bisa mengalahkan empat pasangan terbaik dunia asal China, Thailand, dan Malaysia, karena belum bisa tampil konsisten selama pertandingan," demikian dituliskan media ternama tersebut.
Persoalan mengenai stabilitas permainan ini juga diakui langsung oleh Felisha setelah menganalisis performa mereka dalam tiga pertandingan di BWF World Tour Finals. Menurut Felisha, aspek konsistensi saat memasuki masa-masa krusial menjadi poin utama yang harus segera diperbaiki demi meningkatkan kualitas permainan mereka di lapangan. "Evaluasi terbesar menurut saya adalah konsistensi, terutama saat menghadapi pasangan-pasangan top four. Dari segi permainan, sebenarnya kami bisa mengimbangi, tetapi di poin-poin akhir sering kali konsistensinya menurun sehingga lawan bisa langsung menjauh," papar Felisha melalui keterangan pers Humas dan Media PP PBSI, seusai merampungkan turnamen penutup musim tersebut.
Catatan Kompetisi dan Target Musim Depan
Sebelum tampil di BWF WTF 2025, Jafar/Felisha juga dipercaya memperkuat tim Indonesia dalam ajang SEA Games Thailand 2025. Pada babak pembuka, mereka mengalahkan wakil Singapura, Eng Keat Wesley Koh/Zheng Yan Li, lalu mendepak utusan Myanmar, Hein Htut/Thet Htar Thuzar.
Langkah mereka kemudian terhenti di babak semifinal setelah takluk dari ganda andalan tuan rumah, Dechapol Puavaranukroh/Supissara Paewsampran. Pasangan Thailand yang kini menduduki peringkat 3 dunia tersebut memang tampil lebih matang pada level kompetisi tinggi. Sepanjang musim 2025, Jafar/Felisha tercatat mengoleksi satu gelar juara BWF World Tour lewat ajang Taipei Open 2025 Super 300 pada Mei lalu.
Pada laga puncak, mereka mengalahkan rekan senegara, Dejan Ferdinansyah/Siti Fadia Silva. Peluang meraih gelar kedua sempat terbuka di ajang Australia Open 2025 Super 500 pada akhir November silam. Sayangnya, dalam laga final tersebut mereka dipaksa menyerah oleh pasangan Malaysia, Chen Tang Jie/Toh Ee Wei.
Menghadapi musim balap tahun 2026, Jafar/Felisha yang berada di bawah naungan pelatnas Cipayung dituntut untuk menajamkan kemampuan melalui program latihan dan turnamen yang intensif. Langkah ini krusial agar potensi besar yang mereka miliki dapat terus berkembang dan membuahkan gelar juara.







