Jembatan Rusia Korea Utara Selesai Lebih Cepat Picu Kekhawatiran

5 Agustus 2026, 16:16 WIB

Pembangunan jembatan jalan raya yang menghubungkan Rusia dan Korea Utara di kawasan Khasan dilaporkan hampir rampung lebih cepat dari jadwal. Dikutip dari Detikcom, rampungnya proyek darat ini memicu kekhawatiran besar dari pihak Ukraina terkait potensi eskalasi militer.

Khasan merupakan kawasan terpencil di ujung tenggara Rusia dengan populasi kurang dari 500 jiwa. Wilayah yang berjarak lebih dari 9.000 kilometer dari Moskow ini menjadi satu-satunya pemukiman Rusia yang berbatasan langsung sepanjang 17 kilometer dengan Korea Utara.

Sejak 1959, mobilitas antar kedua negara hanya mengandalkan Jembatan Kereta Api Persahabatan Korea-Rusia di atas Sungai Tumen. Kehadiran jembatan jalan raya baru yang dibangun sejajar beberapa ratus meter dari jembatan rel tersebut kini menambah aksesibilitas darat di antara kedua pihak.

Pengetatan sanksi komprehensif dari negara-negara Barat sejak invasi ke Ukraina pada 2022 mendorong hubungan diplomatik Moskow dan Pyongyang semakin erat. Pemimpin Rusia Vladimir Putin dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menandatangani perjanjian kemitraan strategis pada Juni 2024.

Kesepakatan tersebut mencakup perluasan kerja sama militer, pasokan persenjataan, hingga komitmen pembangunan infrastruktur perbatasan. Pemerintah Rusia mengeklaim pembangunan infrastruktur baru ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas perdagangan serta logistik kawasan.

"Peresmian jembatan baru ini akan meningkatkan perdagangan bilateral, mengoptimalkan logistik, memperkuat hubungan budaya, dan mengubah wilayah perbatasan menjadi pusat-pusat ekonomi yang tumbuh secara dinamis," kata Menteri Perhubungan Rusia, Andrei Nikitin, dalam sebuah pernyataan.

Lembaga CSIS di Washington menilai intensitas pembangunan dan tingginya lalu lintas di stasiun perbatasan menunjukkan peningkatan skala perdagangan antar kedua negara. Kendati demikian, sejumlah lembaga riset meragukan klaim fungsi ekonomi dan pariwisata dari proyek tersebut.

Data resmi menunjukkan total nilai perdagangan kedua negara pada 2024 hanya mencapai 34 juta dolar AS (Rp612 miliar). Angka ini jauh di bawah nilai investasi jembatan dan fasilitas pendukungnya yang diperkirakan menelan biaya hingga 100 juta dolar AS (Rp1,8 triliun).

Fasilitas Bea Cukai dan Logistik Militer

Citra satelit di lokasi pembangunan memperlihatkan berdirinya area pergudangan, gedung bea cukai berukuran besar, area parkir truk, hingga landasan helikopter. Lembaga hak asasi manusia asal Ukraina, Truth Hounds, menilai fasilitas tersebut tidak ditujukan untuk pariwisata sipil.

Truth Hounds mencatat lokasi Khasan tergolong sangat terisolasi, berjarak 125 jam perjalanan darat dari Moskow atau empat jam dari Vladivostok. Penerbangan langsung Moskow-Pyongyang yang disubsidi pemerintah Rusia sepanjang 2025 bahkan mencatat kurang dari 10.000 penumpang.

Analisis Truth Hounds menyimpulkan keberadaan jembatan jalan raya bertujuan mempermudah pergerakan pasukan dan logistik tempur. Pengerahan pasukan menggunakan truk via jalan raya dinilai jauh lebih sulit dipantau satelit dibandingkan jalur kereta api yang rutenya terbatas.

Berdasarkan laporan intelijen Korea Selatan, Ukraina, dan Amerika Serikat, Korea Utara sebelumnya telah mengerahkan sekitar 14.000 hingga 15.000 prajurit ke wilayah Kursk, Rusia. Korea Utara juga terus menyuplai amunisi dan persenjataan untuk kebutuhan perang Rusia.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memperingatkan bahwa potensi pengerahan pasukan tambahan dari Korea Utara dapat mencapai 30.000 tentara. Ia menekankan bahwa Pyongyang juga memperoleh imbalan berupa transfer teknologi militer dan pengalihan pengalaman tempur dari Rusia.

"Diduga, Korea Utara turut menerima imbalan atas keterlibatannya dalam teknologi nuklir Rusia," menurut pakar ilmu politik Ulrich Schmid dari Universitas St. Gallen dalam sebuah laporan di stasiun televisi Swiss SRF, baru-baru ini.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang