Keketatan Likuiditas Bank Rusia Ancam Pembiayaan Defisit Perang

6 Agustus 2026, 05:31 WIB

Sektor perbankan Rusia sedang menghadapi tekanan likuiditas mata uang rubel yang berdampak pada keterbatasan kemampuan bank menyerap obligasi pemerintah. Sebagaimana dilansir dari Detik Finance, kondisi ini berpotensi menyulitkan pemerintah Rusia dalam membiayai pembiayaan defisit anggaran negara yang membengkak akibat melonjaknya beban belanja perang. Defisit anggaran federal Rusia tercatat menyentuh angka 5,7 triliun rubel atau setara US$ 71,82 miliar pada semester I-2026.

Pembengkakan ini dipicu oleh pengeluaran sektor pertahanan yang melampaui alokasi awal, dengan perkiraan total belanja militer melebihi anggaran tahunan sebesar 4 triliun hingga 5 triliun rubel. Lonjakan pengeluaran tersebut memaksa Kementerian Keuangan Rusia memerlukan dana pinjaman tambahan sebesar 2 triliun hingga 3 triliun rubel. Padahal, target pinjaman domestik dalam rencana anggaran 2026 sebelumnya ditandai pada angka 4,4 triliun rubel.

Vice President sekaligus Chief Financial Officer Sberbank, Taras Skvortsov, memberikan keterangan terkait kondisi penarikan dana di sistem perbankan.

"Saat ini, bank hanya memiliki dana yang cukup untuk dipinjamkan kepada nasabah. Itulah bisnis inti mereka," kata Taras Skvortsov, Vice President sekaligus Chief Financial Officer Sberbank. Penarikan dana tunai dari sistem perbankan Rusia telah mencapai sekitar 2 triliun rubel sejak awal tahun. Hal ini membuat ketersediaan likuiditas yang tersisa di pasar domestik menjadi sangat terbatas.

"Anda dapat membeli obligasi OFZ, terutama tanpa premi yang signifikan, ketika Anda memiliki likuiditas berlebih dan yakin bahwa likuiditas tersebut akan tetap tersedia. Saat ini, situasinya justru sebaliknya," kata Taras Skvortsov, Vice President sekaligus Chief Financial Officer Sberbank. Lelang obligasi pemerintah dalam mata uang rubel atau OFZ sempat ditangguhkan oleh Kementerian Keuangan pada Juli akibat penurunan harga dan kenaikan imbal hasil. Penurunan nilai pasar dari surat utang yang dipegang perbankan memicu kerugian hingga sekitar 200 miliar rubel.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang