Pemerintah menghadirkan Sekolah Rakyat untuk memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu. Dikutip dari Detikcom, penerimaan siswa baru dalam program ini tidak memakai skema Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) layaknya sekolah umum.
Proses seleksi Sekolah Rakyat menggunakan mekanisme penjangkauan langsung ke lapangan. Sesuai instruksi Presiden, pelaksanaan penjangkauan wajib berjalan transparan tanpa praktik titipan, suap, maupun KKN.
Penetapan sasaran program ini berpatokan pada Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Kementerian Sosial bekerja sama dengan Dinas Sosial dan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam memverifikasi data di lapangan.
Kriteria utama calon peserta didik Sekolah Rakyat meliputi:
- Terdaftar dalam kelompok desil 1 (10% terendah) atau desil 2 (20% terendah) DTSEN.
- Mempunyai semangat belajar tinggi dan komitmen kuat untuk berkembang.
- Mendapat dukungan serta keterlibatan aktif dari orang tua atau wali.
Prioritas penerimaan diberikan kepada anak-anak dari keluarga berpenghasilan terendah. Kelompok ini mencakup anak yang belum pernah sekolah, anak putus sekolah, hingga anak yang berisiko berhenti sekolah.
Mekanisme Penjangkauan dan Pemutakhiran Data
Petugas akan mendatangi pemukiman warga secara langsung guna mengecek kelayakan serta meminta persetujuan orang tua. Jika ada warga yang memenuhi syarat namun belum tercantum dalam data, mekanisme pemutakhiran data dapat ditempuh melalui dua cara:
- Jalur Resmi Pemerintah Daerah: Warga berkoordinasi dengan pengurus RT atau RW untuk pengajuan pembaruan data melalui operator SIKS-NG di tingkat desa, kelurahan, atau Dinas Sosial setempat.
- Jalur Usulan Mandiri: Warga menyampaikan laporan secara mandiri melalui aplikasi Cek Bansos, Layanan Command Center 171, WhatsApp Center 08877171171, atau melapor ke pendamping sosial wilayah.
Seluruh usulan yang masuk akan diverifikasi ulang oleh tim gabungan di lapangan. Data yang lolos verifikasi diusulkan melalui pemerintah daerah sebelum ditetapkan masuk ke sistem resmi Kementerian Sosial.
Skema Perbedaan dengan Sekolah Negeri
Sekolah Rakyat memiliki beberapa perbedaan fundamental mendasar jika dibandingkan dengan sekolah negeri biasa:
- Target Peserta: Sekolah Rakyat khusus diperuntukkan bagi keluarga miskin, sedangkan sekolah negeri terbuka bagi seluruh lapisan ekonomi.
- Pembiayaan: Seluruh biaya operasional Sekolah Rakyat ditanggung penuh pemerintah. Pada sekolah negeri, jenjang SMA/SMK masih memungkinkan adanya biaya dari siswa.
- Sistem Pembelajaran: Siswa Sekolah Rakyat wajib tinggal di asrama dengan fokus penguatan karakter, sementara sekolah negeri menerapkan sistem pulang pergi.






