Kenapa Lansia Makin Tua Makin Cerewet dan Cara Cerdas Menghadapinya

2 Juli 2026, 20:56 WIB

Menghadapi nenek yang cerewet sering kali memicu konflik batin yang menguras emosi dan kesabaran di dalam rumah. Saya sering mendengar keluhan tentang bagaimana susahnya menyikapi orang tua atau kakek nenek yang perilakunya berubah menjadi lebih sensitif. Pertanyaan seperti "kenapa orang tua makin tua makin cerewet?" menjadi pencarian yang sangat sering muncul dari anggota keluarga yang merasa frustrasi.

Dari kacamata medis dan psikologis, fenomena perubahan perilaku ini sebenarnya bukan tanpa alasan yang konkret.

Mari kita bedah secara mendalam apa yang sebenarnya terjadi pada fase lansia dan bagaimana strategi terbaik kita untuk meresponsnya tanpa merusak hubungan kekeluargaan. Seseorang dikategorikan sebagai lanjut usia atau lansia ketika mereka sudah memasuki usia 60 tahun ke atas.

Berdasarkan diskusi klinik KBR68H yang dilaksanakan di RSCM Jakarta, fase ini merupakan sebuah masa krisis yang membawa perubahan besar. Dr. Petrin Redayani LS, SpKJ, seorang dokter dari Divisi Geriatri Departemen Psikiatri FKUI-RSCM, menegaskan bahwa pada fase ini terjadi berbagai kemunduran yang signifikan.

Orang tua yang makin cerewet dan keras kepala kadang membuat bingung, mau dilawan tapi itu orangtua sendiri, kalau tidak dilawan bikin sakit hati. Untuk mengatasinya anggota keluarga sebaiknya yang lebih mengalah dan berusaha beradaptasi dengan kondisi orang tua tersebut.

Perubahan ini tidak terjadi begitu saja, melainkan dipicu oleh tiga faktor utama yang saling berkaitan.

1. Kemunduran Fungsi Fisik dan Biologis

Secara biologis, tubuh lansia mengalami penurunan performa yang drastis seiring bertambahnya usia. Dokter dari Divisi Geriatri Departemen Penyakit Dalam FKUI-RSCM, dr. Arya Govinda Rooesheroe, SpPD, FINASIM, menuturkan bahwa masalah lansia meliputi berbagai keluhan fisik. Otot mereka menjadi mudah kaku, muncul masalah tulang seperti keropos atau pengapuran, serta tubuh menjadi lebih rentan terhadap penyakit.

Kondisi fisik yang tidak nyaman ini membuat mereka sering kali mengekspresikan rasa sakit atau ketidakberdayaan melalui ucapan yang berulang-ulang.

Tidak jarang, akibat banyaknya keluhan medis tersebut, lansia akhirnya harus menerima banyak terapi obat yang juga memengaruhi kenyamanan harian mereka.

2. Perubahan Emosional dan Psikologis

Selain fisik yang melemah, Dr. Petrin Redayani LS, SpKJ juga menyoroti adanya perubahan emosional di mana lansia menjadi jauh lebih sensitif.

Mereka juga mengalami perlambatan dalam berpikir, yang sering kali membuat mereka merasa tertinggal atau tidak lagi dipahami oleh lingkungan sekitar. Kehilangan peran sosial setelah pensiun membuat mereka merasa kurang aktif dan kehilangan rutinitas yang biasa membanggakan mereka.

Rasa kesepian dan ketakutan akan diabaikan oleh anak cucu bermanifestasi menjadi sikap yang rewel atau cerewet sebagai bentuk mencari perhatian.

3. Penurunan Fungsi Kognitif

Penurunan fungsi kognitif atau pikun juga menjadi pemicu utama mengapa kakek atau nenek sering mengulang-ulang ucapan yang sama. Mereka mungkin lupa telah menanyakan suatu hal beberapa menit yang lalu, sehingga terus menanyakannya kembali. Kondisi ini sering kali disalahpahami oleh anggota keluarga muda sebagai sikap yang sengaja ingin memancing amarah atau menguji kesabaran.

Padahal, ingatan jangka pendek mereka memang sedang mengalami degradasi biologis yang nyata.

Panduan Praktis Menghadapi Lansia Keras Kepala

Menghadapi lansia keras kepala membutuhkan kombinasi antara empati yang mendalam dan teknik komunikasi yang taktis.

Jika kita meresponsnya dengan emosi tinggi, suasana rumah justru akan semakin memanas dan memicu stres bagi seluruh penghuni.

Berikut adalah beberapa langkah konkret yang bisa diterapkan di rumah berdasarkan rekomendasi para pakar geriatri.

Mengalah untuk Beradaptasi

Langkah pertama yang paling krusial adalah menurunkan ego kita sendiri di hadapan orang tua atau kakek nenek. Sesuai saran dari Dr. Petrin Redayani LS, SpKJ, anggota keluarga sebaiknya menjadi pihak yang lebih mengalah. Mencoba mendebat atau memenangkan argumen melawan lansia yang sedang emosional adalah tindakan yang sia-sia.

Mengalah di sini bukan berarti kita kalah, melainkan bentuk adaptasi sadar terhadap keterbatasan kapasitas emosional yang mereka miliki.

Menjaga Lansia Tetap Aktif

Untuk mencegah penurunan fungsi kognitif yang semakin parah, lansia tidak boleh dibiarkan melamun atau mengisolasi diri. Dr. Petrin Redayani LS, SpKJ menyatakan bahwa pikun bisa dilatih atau dicegah dengan cara menjaga mereka tetap aktif.

Ajaklah nenek untuk tetap bersosialisasi, berkomunikasi secara rutin, serta melakukan hal-hal ringan yang mereka senangi. Bagi lansia, kehadiran teman atau lawan bicara adalah hal yang sangat penting untuk menjaga kesehatan mental mereka.

Menyediakan Waktu untuk Mendengarkan

Sering kali, kecerewetan nenek akan berkurang secara signifikan ketika mereka merasa suara dan ceritanya benar-benar didengar.

Sediakan waktu khusus, misalnya saat minum teh di sore hari, untuk mendengarkan kisah masa lalu mereka tanpa memotong pembicaraan.

Validasi perasaan mereka dengan anggukan atau senyuman agar mereka merasa keberadaannya masih dihargai dan dianggap penting.

Manajemen Stres untuk Anggota Keluarga Perawat

Merawat dan tinggal bersama lansia yang rewel membutuhkan energi mental yang luar biasa besar setiap harinya. Fenomena kelelahan emosional ini memicu pencarian solusi mengenai mengatasi stres merawat lansia rewel di kalangan produktif. Kita tidak akan bisa merawat orang lain dengan sabar jika kesehatan mental kita sendiri sedang berada di ambang batas hancur.

Oleh karena itu, pembagian tugas menjaga lansia di antara anggota keluarga menjadi hal yang sangat wajib dilakukan.

Jangan ragu untuk mengambil jeda sejenak keluar rumah guna menyegarkan pikiran ketika situasi di dalam rumah mulai terasa menyesakkan. Ingatlah bahwa perubahan perilaku nenek Anda merupakan akibat dari proses penuaan biologis, bukan karena mereka membenci Anda.

Bagaimana Cara Menghadapi Orang tua yang Sudah Pikun dan cerewet | Murniati Supardi

Faktor Pendukung Perubahan Sikap Lansia

Untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif, berikut adalah tabel rangguman mengenai faktor-faktor yang memengaruhi perubahan sikap pada lansia.

Faktor Penyebab Perubahan Perilaku dan Emosi pada Fase Lansia
Kategori Faktor Manifestasi Klinis / Fisik Dampak pada Perilaku
Biologis Otot kaku dan pengapuran tulang Menjadi rewel karena rasa tidak nyaman
Psikologis Kehilangan peran sosial akibat pensiun Sering mengeluh karena merasa kesepian
Kognitif Penurunan daya ingat jangka pendek Mengulang pertanyaan yang sama
Medis Rentang terhadap penyakit kronis Ketergantungan pada terapi banyak obat

Data di atas memperlihatkan dengan jelas bahwa akumulasi dari berbagai masalah tersebut menciptakan tekanan berat bagi lansia.

Memahami tabel ini akan membantu kita melihat kecerewetan nenek dari sudut pandang medis yang lebih objektif dan penuh empati. Sebagai penutup, dalam mengelola komunikasi dengan lansia yang cerewet, pendekatan terbaik adalah menyeimbangkan ketegasan batas personal dengan kelembutan kasih sayang.

Menurut tim penyusun artikel wikiHow yang berkolaborasi dengan Sheena Hill, memastikan konten edukasi keluarga yang akurat sangat penting karena artikel panduan tersebut bahkan telah dilihat sebanyak 33.214 kali dan mengutip 7 referensi pada akhir halamannya, menunjukkan betapa banyak orang yang membutuhkan solusi ini. Perubahan fisik, emosional, dan kognitif adalah kepastian biologis yang kelak juga akan kita hadapi saat menginjak usia senja.

Menjadikan rumah sebagai ruang yang aman dan minim konflik bagi lansia adalah penghormatan tertinggi yang bisa kita berikan kepada mereka.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang