Kesultanan Demak Gempur Portugis di Malaka Demi Amankan Jalur Rempah

7 Agustus 2026, 16:16 WIB

Kesultanan Demak melancarkan perlawanan militer secara terbuka terhadap armada Portugis di Malaka sejak awal abad ke-16 demi merebut kembali kendali perdagangan dan membendung ekspansi barat di Nusantara. Langkah tegas kerajaan Islam pertama di Jawa ini dipicu oleh jatuhnya pelabuhan strategis Malaka ke tangan Portugis pada tahun 1511 yang merusak tatanan ekonomi regional.

Penguasaan Malaka oleh pasukan militer Portugis di bawah pimpinan Alfonso d’Albuquerque pada 1511 menjadi titik balik utama ketegangan di kawasan Selat Malaka. Portugis mengerahkan kekuatan penuh berisi 1.200 prajurit dan 18 kapal perang untuk menundukkan Kesultanan Malaka, yang berujung pada penerapan monopoli perdagangan secara ketat.

Sistem perdagangan monopolistik yang dipaksakan Portugis di Malaka secara langsung merugikan para pedagang Muslim dan jaringan niaga Nusantara. Dampaknya, para pedagang dari Persia, India, hingga Cina mulai menghindari pelabuhan Malaka. Kesultanan Demak yang berdiri sekitar tahun 1478 M di bawah kepemimpinan raja pertama Raden Patah (1478–1518) merasakan dampak ekonomi yang sangat signifikan.

Kedudukan Demak sebagai Penghubung Jalur Rempah

Secara geopolitik, Kerajaan Demak memegang peran sentral sebagai pusat perdagangan dan penyebaran Islam di Jawa. Demak bertindak sebagai penghubung utama dalam jalur distribusi rempah-rempah yang membentang dari Kepulauan Maluku hingga ke pelabuhan internasional Malaka.

Penguasaan Portugis di ujung barat Nusantara mengancam kelangsungan pasokan rempah dan stabilitas ekonomi Demak. Ancaman monopoli tersebut mendorong penguasa Demak merancang strategi militer balasan secara intensif guna memulihkan kebebasan jalur pelayaran regional.

Latar belakang perlawanan Demak terhadap Portugis | Ngestu DwiAnti Alannisa

Kronologi Serangan Militer Demak ke Malaka dan Sunda Kelapa

Langkah nyata perlawanan militer Demak sejatinya telah direncanakan sejak tahun 1509 ketika ancaman Portugis mulai membayangi kawasan. Serangan berskala besar pertama akhirnya terealisasi sekitar tahun 1513 di bawah komando panglima perang Pati Unus.

Tahun Peristiwa Kunci Perlawanan Demak Pemimpin / Tokoh Kekuatan / Detail
1511 Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis Alfonso d’Albuquerque 1.200 prajurit, 18 kapal
1513 Serangan militer pertama Demak ke Malaka Pati Unus 100 kapal, 5.000 pasukan
1521 Serangan militer kedua Demak ke Malaka Pati Unus Pati Unus gugur di pertempuran
1527 Perebutan Sunda Kelapa (22 Juni 1527) Fatahillah Mengubah nama menjadi Jayakarta

Pada gelombang serangan pertama tahun 1513, Pati Unus memimpin armada laut Demak yang berkekuatan 100 kapal perang beserta 5.000 prajurit. Meski belum berhasil mengusir Portugis dari kubu pertahanannya di Malaka, aksi keberanian ini membuat Pati Unus dianugerahi julukan pangeran sabrang lor.

Ekspansi sekutu dan Pertempuran Sunda Kelapa

Melihat ketangguhan Demak, pihak Portugis menjalin kerja sama militer dengan kerajaan-kerajaan lokal seperti Banten dan Kerajaan Syiwo-Budho Padjajaran untuk mengepung pengaruh Demak. Kerja sama Padjajaran dan Portugis tersebut diwujudkan dengan rencana pembangunan benteng di wilayah Sunda Kelapa.

Perlawanan Demak terus berlanjut pada pertempuran kedua di Malaka sekitar tahun 1521, di mana Pati Unus gugur dalam pertempuran hebat melawan benteng pertahanan Portugis. Tidak tinggal diam atas aliansi Portugis-Padjajaran di barat Jawa, armada Demak di bawah pimpinan Fatahillah bergerak cepat mengamankan kawasan pesisir Jawa Barat.

Pada tanggal 22 Juni 1527, Fatahillah bersama pasukannya berhasil menghancurkan kekuatan aliansi Portugis dan merebut pelabuhan Sunda Kelapa. Kemenangan mutlak ini ditandai dengan pergantian nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta, yang sekaligus menutup ruang gerak Portugis untuk menancapkan kekuasaan di Pulau Jawa.

Penegakan Dominasi Maritim Nusantara

Rangkaian perlawanan sengit Kesultanan Demak terbukti berhasil menggagalkan ambisi Portugis untuk menguasai jalur perdagangan rempah di sepanjang pantai timur dan barat Pulau Jawa. Perjuangan bersenjata tersebut menegaskan posisi Demak sebagai kekuatan maritim terdepan yang menjaga kedaulatan wilayah Nusantara dari dominasi kolonialisme Eropa pada awal abad ke-16.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang