Pada 1895, Wilhelm Roentgen membuat penemuan penting ketika menguji coba sinar katoda menembus kaca, yang kemudian dikenal sebagai sinar-X. Penemuan ini membawa dampak besar bagi bidang kedokteran, fisika, dan keamanan. Berita tentang sinar-X sampai ke Thomas Alfa Edison, sang penemu bola lampu, yang kemudian mulai bereksperimen dengan teknologi ini.
Namun, dalam prosesnya, asistennya, Clarence Madison Dally, menjadi korban paparan sinar berbahaya. Dally bukan ilmuwan, melainkan peniup kaca yang membantu Edison memproduksi tabung sinar katoda dan mencari lampu fluoresen pengganti bola lampu. Ia menggunakan metode sederhana dengan menempatkan tangannya langsung ke jalur sinar untuk menguji tabung, yang menyebabkan luka bakar dan kerusakan pada kulitnya.
Meski sudah ada peringatan dari fisikawan lain tentang potensi efek buruk sinar-X, termasuk pada mata manusia, dan rekomendasi untuk melindungi diri, Edison dan timnya cenderung mengabaikan risiko tersebut.
Kerusakan akibat paparan sinar-X pada Dally semakin parah, dengan luka di tangan yang kemudian menyebar, menyebabkan amputasi pada lengan kirinya dan beberapa jari di tangan kanan. Meski sudah tidak mampu bekerja, Dally tetap dipekerjakan oleh Edison hingga akhir hayatnya. Pada 1901, Dally diminta untuk mengoperasikan mesin sinar-X di Buffalo, New York, untuk membantu dalam kasus penembakan Presiden William McKinley. Sayangnya, presiden meninggal dan Dally pun kemudian mengalami komplikasi serius hingga meninggal pada 1904 akibat dermatitis radiasi, yang dipercaya sebagai kematian manusia pertama akibat sinar-X.
Edison menghentikan eksperimennya dengan sinar-X setelah menyadari dampak buruknya, termasuk kerusakan penglihatannya dan kondisi Dally yang memburuk. Ia juga menyatakan rasa takutnya pada radium dan polonium dan tidak ingin melanjutkan eksperimen dengan zat-zat tersebut.






