Dunia sepak bola dihebohkan oleh kondisi Tim Nasional Italia. Setelah merayakan gelar juara Euro 2020 dengan gemilang, Gli Azzurri justru kembali terpuruk, gagal melaju ke Piala Dunia secara berturut-turut.
Kegagalan ini menandai periode suram bagi salah satu raksasa sepak bola dunia. Sebelumnya, Italia juga absen di Piala Dunia 2018, membuat ketidakhadiran mereka di turnamen akbar ini menjadi yang pertama kalinya sejak 1958.
Situasi pelik ini menarik perhatian banyak legenda, termasuk mantan bintang AC Milan dan timnas Belanda, Ruud Gullit. Ia secara blak-blakan menyarankan Italia untuk kembali ke akar filosofi sepak bola mereka.
“Italia mesti balik ke DNA Catenaccio,” demikian pernyataan Ruud Gullit yang menjadi sorotan, merefleksikan keprihatinan mendalam terhadap identitas permainan Italia yang dianggap telah hilang.
Catenaccio: DNA Kuno yang Terlupakan?
Catenaccio, yang secara harfiah berarti “gerendel” atau “rantai”, adalah sistem taktis yang sangat identik dengan sepak bola Italia, terutama pada era 1960-an. Filosofi ini mengedepankan pertahanan yang kokoh dan disiplin tinggi sebagai fondasi permainan.
Pelopor utamanya adalah pelatih legendaris Helenio Herrera bersama Inter Milan. Dengan libero yang menyapu bola di belakang empat bek, Catenaccio sukses membawa Inter meraih kejayaan domestik dan Eropa.
Karakteristik Kunci Catenaccio
- Pertahanan Berlapis: Fokus utama adalah menjaga gawang agar tidak kebobolan, seringkali dengan menumpuk pemain di lini belakang.
- Man-Marking Ketat: Setiap pemain memiliki tanggung jawab khusus untuk menjaga lawan.
- Libero: Pemain bertahan bebas yang bertugas menyapu bola, mengorganisir pertahanan, dan kadang memulai serangan balik.
- Serangan Balik Cepat: Peluang mencetak gol biasanya datang dari transisi cepat setelah merebut bola dari lawan.
Gaya bermain ini dianggap pragmatis, efektif, dan seringkali menghasilkan kemenangan tipis. Ia membentuk citra sepak bola Italia yang ‘sulit dikalahkan’ dan penuh dengan ‘grinta’ (semangat juang).
Evolusi dan Pergeseran Identitas Italia
Selama bertahun-tahun, Italia telah mencoba beradaptasi dengan tren sepak bola modern. Pelatih seperti Arrigo Sacchi di AC Milan dengan zona marking dan tekanan tingginya, hingga Marcelo Lippi dengan tim juara Piala Dunia 2006 yang lebih seimbang, menunjukkan bahwa Italia tidak stagnan.
Era Roberto Mancini, yang membawa Italia juara Euro 2020, bahkan memperlihatkan gaya bermain yang lebih menyerang, mengandalkan penguasaan bola, dan kreativitas di lini tengah. Ini adalah bukti bahwa Azzurri bisa bermain indah sekaligus efektif.
Namun, kegagalan beruntun di kualifikasi Piala Dunia memunculkan pertanyaan: apakah pergeseran identitas ini justru membuat mereka kehilangan jati diri?
Mengapa Gullit Menyarankan Catenaccio Kembali?
Saran Gullit bisa diinterpretasikan sebagai refleksi atas kondisi sepak bola Italia saat ini. Mungkin, ia melihat bahwa saat ini Italia kekurangan pemain dengan kualitas individu yang mampu mendominasi pertandingan dengan gaya menyerang.
Dengan kembali ke Catenaccio, Italia bisa mengandalkan kekuatan tradisional mereka: bek-bek tangguh, gelandang pekerja keras, dan mental baja. Ini adalah cara untuk mencari stabilitas dan hasil, terutama ketika tim sedang dalam krisis kepercayaan diri.
Sistem ini juga dapat memaksimalkan potensi bek-bek Serie A yang terkenal kuat dalam bertahan. Dibandingkan mencoba bersaing dalam hal menyerang dengan tim-tim yang memiliki talenta ofensif lebih melimpah, mengandalkan pertahanan bisa jadi jalan pintas.
Pro Kontra Penerapan Catenaccio di Era Modern
Pihak yang Mendukung
- Stabilitas Pertahanan: Memberikan fondasi yang kuat untuk tim yang sedang rapuh.
- Memaksimalkan Talenta Lokal: Italia masih memiliki tradisi kuat dalam melahirkan bek-bek kelas dunia.
- Pragmatisme: Mengutamakan hasil di atas segalanya, yang mungkin dibutuhkan saat ini.
- Mentalitas Menang: Mengembalikan mental ‘grinta’ dan ‘tidak mudah menyerah’ yang melekat pada Italia.
Pihak yang Menolak
- Terlalu Defensif: Bisa membuat pertandingan menjadi membosankan dan kurang menarik bagi penonton.
- Tidak Relevan: Sepak bola modern lebih menuntut penguasaan bola, tekanan tinggi, dan fluiditas serangan.
- Ketergantungan pada Serangan Balik: Jika serangan balik tidak efektif, tim bisa kesulitan mencetak gol.
- Pengembangan Pemain: Bisa menghambat pengembangan pemain muda dengan mentalitas yang lebih menyerang.
Banyak pengamat berpendapat bahwa Catenaccio murni di era modern sudah usang. Namun, adaptasi dari prinsip-prinsip Catenaccio—seperti disiplin taktis tinggi, pertahanan solid, dan transisi cepat—mungkin masih relevan. Tim-tim seperti Atletico Madrid di bawah Diego Simeone sering menunjukkan efektivitas pertahanan kokoh yang mirip, namun dengan sentuhan modern.
Mencari Jalan Keluar dari Kemelut Azzurri
Kegagalan Italia saat ini adalah masalah kompleks yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengubah taktik. Ada faktor lain seperti pembinaan usia muda, kualitas liga domestik, hingga tekanan psikologis yang perlu diatasi.
Namun, saran dari legenda seperti Ruud Gullit patut dipertimbangkan. Mungkin bukan kembali ke Catenaccio secara harfiah, melainkan mengadopsi kembali mentalitas dan disiplin yang menjadi ciri khasnya, dikombinasikan dengan sentuhan modern.
Italia adalah negara yang selalu mampu beradaptasi dan bangkit dari keterpurukan. Entah dengan mengadopsi kembali DNA lama mereka atau menemukan identitas baru yang inovatif, yang jelas Gli Azzurri membutuhkan perubahan mendasar untuk kembali ke panggung sepak bola dunia.