Banyak Guru Bingung Ini Langkah Mendesain Profil Pelajar Pancasila

21 Juni 2026, 03:22 WIB

Langkah mendesain profil pelajar pancasila sering kali membuat para pendidik di berbagai daerah merasa kewalahan dan bingung saat menyusun modul projek yang tepat. Saya melihat langsung bagaimana penyesuaian kurikulum ini menuntut kreativitas tinggi yang kadang justru membebani administrasi sekolah jika tidak dipahami dengan benar sejak awal. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila atau yang akrab disebut P5 merupakan bagian tidak terpisahkan dari struktur kurikulum saat ini.

Saya mengamati bahwa esensi utama dari program ini adalah membentuk karakter murid, bukan sekadar menghasilkan produk akhir yang megah atau pameran seni yang mahal. Banyak satuan pendidikan terjebak dalam rutinitas membuat kerajinan tangan atau produk fisik tanpa mendalami maknanya. Menurut pandangan saya, kesalahan fatal ini terjadi karena sekolah langsung melompat ke penentuan produk tanpa merancang kompetensi sasaran terlebih dahulu.

Kemendikbudristek meluncurkan terobosan Kurikulum Merdeka sebagai salah satu usaha pemulihan pembelajaran akibat terbatasnya proses belajar-mengajar pada masa pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu. Landasan historis ini menegaskan bahwa fleksibilitas dan kedalaman karakter adalah kunci utama dalam pemulihan mutu pendidikan kita.

Mendesain P5 bukan tentang seberapa meriah festival panen hasil belajar yang bisa dipamerkan sekolah, melainkan tentang transformasi perilaku nyata siswa dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Mengenal Enam Dimensi Utama Karakter Pancasila

Sebelum masuk ke teknis perancangan, Anda wajib memahami enam pilar utama yang menjadi sasaran akhir dari seluruh proses pembelajaran berbasis projek ini. Berdasarkan data dari Kumparan, karakteristik utama ini harus diintegrasikan ke dalam kegiatan belajar yang kontekstual dan interaktif.

Ketuhanan dan Akhlak Mulia sebagai Fondasi

Dimensi pertama adalah beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia. Pelajar tidak hanya memahami ajaran agama secara teoritis melainkan mampu mempraktikkannya dalam akhlak pribadi, akhlak kepada manusia, alam, serta negara.

Kebinekaan Global dan Gotong Royong dalam Sosial

Dimensi berikutnya mencakup berkebinekaan global dan bergotong royong. Siswa dilatih untuk mempertahankan budaya luhur mereka namun tetap berpikiran terbuka dalam berinteraksi dengan budaya lain, serta memiliki kepedulian tinggi untuk bekerja sama.

Kemandirian Nalar Kritis dan Kreativitas

Tiga dimensi terakhir yang harus diwadahi dalam desain projek adalah mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. Siswa diharapkan mampu mengambil tanggung jawab atas proses belajarnya, memproses informasi secara objektif, serta menghasilkan gagasan yang orisinal.

Tahapan Sistematis Mendesain Projek P5 di Sekolah

Saya menyarankan sekolah untuk mengikuti langkah terstruktur agar tidak tersesat dalam proses administrasi yang rumit. Langkah-langkah awal ini menjadi penentu apakah projek Anda akan berjalan berdampak atau hanya sekadar formalitas pengisian rapor. Langkah pertama yang wajib dilakukan oleh kepala satuan pendidikan adalah membentuk tim fasilitator projek. Tim ini berisi kolaborasi guru yang bertugas merencanakan modul, memfasilitasi aktivitas, hingga melakukan asesmen sepanjang projek berjalan.

Setelah tim terbentuk, langkah kedua adalah mengidentifikasi tingkat kesiapan sekolah. Anda harus jujur menilai apakah sekolah berada di tahap awal, berkembang, atau sudah mahir dalam menjalankan pembelajaran berbasis projek. Langkah ketiga adalah memilih tema umum beserta topik spesifik yang relevan dengan isu lingkungan sekitar sekolah. Pemerintah melalui Kemendikbud-Dikti telah menetapkan jumlah tema umum yang ditetapkan untuk projek P5 berjumlah 7 tema.

Cara Mudah Membuat Modul Proyek P5 Penguatan Profil Pelajar Pancasila | Catatan Guru Muda

Aturan Ketentuan Jumlah Tema yang Wajib Dipilih

Pihak manajemen sekolah tidak boleh sembarangan dalam menentukan jumlah tema dalam satu tahun ajaran. Terdapat ketentuan regulasi ketat dari Pusat Informasi Rumah Pendidikan Kemendikdasmen mengenai batasan minimal tema yang harus dijalankan.

Untuk tingkat sekolah dasar yang meliputi Fase A, B, dan C, sekolah diwajibkan memilih minimal 2 tema dalam satu tahun ajaran. Aturan ini berbeda dengan jenjang yang lebih tinggi karena menyesuaikan dengan kapasitas adaptasi psikologis anak. Sementara itu, untuk tingkat SMP hingga SMA atau SMK yang meliputi Fase D, E, dan F, ketentuan minimalnya adalah 3 tema dalam satu tahun ajaran.

Fleksibilitas pemilihan ini disesuaikan dengan kebutuhan analisis masalah remaja yang lebih kompleks. Berikut adalah visualisasi data terstruktur mengenai pembagian tema umum beserta sasaran jenjang pendidikannya agar Anda lebih mudah melakukan pemetaan kurikulum di sekolah.

Aturan Pemilihan Tema Umum P5 Berdasarkan Jenjang Sasaran Kurikulum
Nama Tema Umum Projek P5 Jenjang Sasaran Sekolah Ketentuan Minimal Per Tahun
Gaya Hidup Berkelanjutan SD‒SMA/SMK Fase A-C: Minimal 2 Tema
Kearifan lokal SD‒SMA/SMK Fase A-C: Minimal 2 Tema
Bhinneka Tunggal Ika SD‒SMA/SMK Fase A-C: Minimal 2 Tema
Bangunlah Jiwa dan Raganya SMP‒SMA/SMK Fase D-F: Minimal 3 Tema
Suara Demokrasi SMP‒SMA/SMK Fase D-F: Minimal 3 Tema

Kekurangan dan Tantangan Nyata Desain P5 di Lapangan

Meskipun konsep desain ini terdengar ideal di atas kertas, saya harus mengkritisi bahwa implementasinya di lapangan masih memiliki banyak kelemahan berat. Masalah utama terletak pada kompetensi guru yang belum merata dalam melakukan asesmen formatif.

Banyak guru mengeluhkan waktu pengerjaan administrasi modul yang menyita waktu mengajar utama mereka. Akibatnya, modul projek sering kali hanya berupa hasil salin-tempel dari internet tanpa ada penyesuaian dengan kondisi riil murid di kelas.

Selain itu, beban biaya sering kali menjadi kendala bagi sekolah di daerah pelosok. Ketika tema yang dipilih membutuhkan alat atau bahan tertentu, orang tua murid sering kali menjadi pihak yang dibebankan untuk membeli material pameran.

Solusi Praktis dari Riset Pengabdian Masyarakat

Tantangan nyata tersebut sebenarnya bisa dimitigasi jika sekolah mau membuka diri terhadap pelatihan terpadu. Kita bisa melihat contoh nyata yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah melalui portal resmi Universitas Negeri Makassar.

Berdasarkan publikasi riset OJS UNM, pelaksanaan kegiatan PKM berupa pelatihan P5 sukses dijalankan di SD Negeri 55 Deteng-deteng, Kabupaten Majene. Pelatihan ini membuktikan bahwa bimbingan intensif mampu mengurai keruwetan guru dalam menyusun modul. Para peneliti yang terlibat dalam pengabdian tersebut adalah Ila Israwaty, Natriani Syam, dan Andi Fajar Asti dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Makassar. Mereka merumuskan bahwa kunci keberhasilan desain projek terletak pada penyederhanaan indikator ketercapaian siswa.

Rekomendasi terbaik saya untuk Anda adalah mulailah dari projek berskala kecil dengan memanfaatkan limbah atau potensi lokal sekitar sekolah. Fokuslah pada observasi perubahan perilaku murid seperti peningkatan rasa hormat, kemandirian membuang sampah, atau kemampuan mendengarkan pendapat temannya saat berdiskusi kelompok.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang