Pemberontakan Andi Azis Meletus di Makassar Akibat Penolakan Pasukan APRIS

6 Agustus 2026, 10:32 WIB

Aksi militer yang dipimpin Kapten Andi Azis mengguncang Makassar, Negara Indonesia Timur (NIT), pada Rabu, 5 April 1950. Mantan perwira KNIL tersebut bersama kelompok pasukannya mengambil alih kekuasaan di Makassar untuk menolak kedatangan Batalyon Worang dari Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS) yang berasal dari unsur TNI.

Pertanyaan mengenai "kenapa andi azis memberontak" menjadi sorotan utama dalam catatan sejarah perjuangan mempertahankan keutuhan bangsa. Latar belakang pemberontakan Andi Azis berakar pada tuntutan penolakan terhadap masuknya unsur TNI ke dalam pasukan APRIS di wilayah NIT. Kelompok bekas perwira Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL) yang bergabung dengan APRIS menginginkan agar keamanan di Negara Indonesia Timur sepenuhnya diserahkan kepada mereka tanpa campur tangan tentara luar.

Konflik Eks-KNIL dan Unsur TNI

Ketegangan bermula ketika pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS) berencana mengirimkan sekitar 900 prajurit TNI dari Batalyon Worang ke Makassar. Pengiriman pasukan tersebut bertujuan menjaga keamanan setempat yang kian memanas akibat demonstrasi kelompok pro-Republik dan pro-federalis.

Namun, Andi Azis bersama pasukannya menganggap kedatangan pasukan tentara dari Jawa tersebut sebagai ancaman terhadap kedudukan mereka. Mereka khawatir posisi bekas prajurit KNIL akan tersingkir oleh dominasi perwira TNI dalam tubuh APRIS.

Pertahanan Terhadap Negara Indonesia Timur

Selain masalah militer, aksi pemberontakan ini didorong oleh kepentingan politik penolakan terhadap pembubaran Negara Indonesia Timur. Andi Azis dan kelompoknya bertekad mempertahankan keberadaan negara bagian tersebut dari gelombang unifikasi kembali ke NKRI.

Apa Latar Belakang Terjadinya Pemberontakan Andi Azis di Makasar? | Intisari Online

Tindakan penolakan tersebut diwujudkan melalui aksi penyerangan mendadak ke markas APRIS di Makassar, menguasai tempat-tempat strategis, serta menawan Panglima Teritorium Indonesia Timur, Letkol A.J. Mokoginta.

Kronologi Aksi Militer dan Penumpasan

Eskalasi militer mencapai puncaknya saat pasukan Andi Azis menguasai kota Makassar hanya dalam kurun waktu beberapa jam. Pemerintah pusat di Jakarta bergerak cepat merespons aksi pembangkangan militer tersebut.

Ultimatum Pemerintah Pusat

Pemerintah RIS memberikan ultimatum tegas kepada Kapten Andi Azis pada 8 April 1950. Ultimatum tersebut memerintahkan Andi Azis melaporkan diri ke Jakarta dalam waktu 4×24 jam untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, serta mengembalikan semua senjata yang disita.

Karena laporan kedatangan melampaui batas waktu yang ditentukan, pemerintah mengutus pasukan militer skala besar di bawah pimpinan Kolonel Alex Kawilarang untuk menumpas pemberontakan di Sulawesi Selatan.

Penangkapan dan Akhir Gerakan

Pertanyaan publik mengenai "bagaimana akhir pemberontakan andi azis" terjawab saat Andi Azis akhirnya berangkat ke Jakarta setelah mendapat desakan dari Presiden NIT, Sukawati. Informasi mengenai "andi azis ditangkap kapan" tercatat secara resmi pada 15 April 1950 saat ia tiba di Jakarta dan langsung dijebloskan ke penjara militer.

Operasi militer di bawah Kolonel Kawilarang berhasil mengendalikan keadaan sepenuhnya di Makassar setelah pertempuran sengit melawan sisa-sisa pasukan pimpinan mantan perwira KNIL tersebut pada Agustus 1950.

Data Penumpasan dan Tokoh Kunci

Berikut ringkasan fakta dan tokoh yang terlibat dalam peristiwa pemberontakan Andi Azis di Makassar:

Unsur Parameter Detail Keterangan
Pimpinan Pemberontak Kapten Andi Azis (Eks-Perwira KNIL)
Pimpinan Pasukan Penumpas Kolonel Alex Kawilarang
Komandan Batalyon APRIS/TNI Mayor H.V. Worang
Lokasi Utama Peristiwa Makassar, Negara Indonesia Timur (NIT)
Waktu Pengeluaran Ultimatum 8 April 1950
Tanggal Penangkapan Andi Azis 15 April 1950

Persidangan militer terhadap Andi Azis digelar di Yogyakarta pada 1953, di mana ia dijatuhi hukuman penjara selama 14 tahun. Penumpasan gerakan ini mempercepat pembubaran Negara Indonesia Timur dan melapangkan jalan menuju kembalinya Negara Kesatuan Republik Indonesia secara utuh pada 17 Agustus 1950.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang