Penumpukan ribuan ton limbah kulit dan ampas jeruk terbukti mampu memulihkan ekosistem lahan gersang secara alami. Eksperimen ilmiah yang berlangsung di Kosta Rika mencatat kawasan bekas penggembalaan rusak berhasil bertransformasi menjadi hutan lebat hanya dalam rentang waktu 16 tahun, seperti dilansir dari Detik iNET.
Uji coba ini diinisiasi oleh perusahaan jus jeruk Del Oro bersama ahli ekologi Daniel Janzen dan Winnie Hallwachs. Melalui kerja sama tersebut, sebanyak 12.000 ton atau sekitar 1.000 truk ampas serta kulit jeruk ditumpahkan ke lahan seluas tiga hektare di Área de Conservación Guanacaste pada 1997.
Meski proyek dihentikan Mahkamah Agung Kosta Rika pada 1999 akibat gugatan perusahaan pesaing, proses restorasi alami tetap berjalan. Peneliti Princeton University, Timothy Treuer, menemukan lokasi tersebut telah berubah menjadi hutan sekunder yang dipenuhi pepohonan rimbun serta tanaman merambat saat dikunjungi kembali pada 2013.
"Lokasinya sudah ditumbuhi pohon dan tanaman rambat begitu lebat sehingga saya bahkan tidak bisa melihat papan penanda setinggi sekitar dua meter yang berada hanya beberapa meter dari jalan," kata Timothy Treuer, penulis utama penelitian, dikutip dari Economic Times, Senin (3/7/2026).
Hasil pengukuran lapangan yang telah dipublikasikan dalam jurnal Restoration Ecology menunjukkan adanya lonjakan kualitas ekosistem. Lahan yang dipasok limbah jeruk memiliki biomassa kayu 176% lebih tinggi, nutrisi tanah lebih kaya, jenis spesies pohon lebih beragam, serta tutupan kanopi yang jauh lebih rapat ketimbang lahan pembanding di sekitarnya.
Proses pembusukan ampas jeruk menyuplai bahan organik penting ke dalam tanah yang sebelumnya terdegradasi akibat aktivitas peternakan. Lapisan limbah organik yang tebal juga menekan pertumbuhan rumput invasif, sehingga benih-benih dari hutan sekitar dapat tumbuh tanpa hambatan.
Keberhasilan ini membuka peluang pemanfaatan sisa produksi pangan sebagai solusi murah pemulihan lingkungan dan penyerapan karbon atmosfer. Kendati demikian, para ahli menekankan bahwa efektivitas restorasi berbasis limbah pertanian tetap bergantung pada pengelolaan yang tepat, kondisi lahan, serta karakteristik ekosistem setempat.
"Ini adalah salah satu contoh yang pernah saya dengar di mana penyerapan karbon justru memberikan keuntungan ekonomi. Ini bukan hanya menguntungkan perusahaan dan taman nasional, tetapi menguntungkan semua pihak," ujar Treuer.
Penulis lain dalam studi tersebut, David Wilcove, menyampaikan pandangan serupa mengenai potensi pemanfaatan sisa industri pangan untuk pemulihan alam.
"Saya yakin kita akan menemukan lebih banyak peluang memanfaatkan 'sisa' industri pangan untuk mengembalikan hutan tropis. Itulah bentuk daur ulang yang terbaik," kata Wilcove.






