Mahasiswa Unair Raih Juara Esai Berkat Solusi Kebuntuan Sekolah Rakyat

5 Agustus 2026, 17:46 WIB

Gagasan kritis mengenai implementasi program Sekolah Rakyat mengantarkan mahasiswa Universitas Airlangga (Unair), Daniel Trisakusumo, meraih Juara III dalam kompetisi Gema Literasi Nasional 2026. Seperti dilansir dari Detikcom, kejuaraan esai tersebut diselenggarakan oleh BEM Kampus II Institut Agama Islam Syaichona Mohammad Cholil (INSYA) Bangkalan.

Melalui karya bertajuk Membebaskan Sekolah Rakyat dari Operational Gridlock: Formulasi Trilogi sebagai Manifesto Gerakan Pemuda, Daniel membeberkan adanya kesenjangan antara tujuan kebijakan dengan realisasi di lapangan. Kondisi ini memicu ketidaksiapan sistem yang ia sebut sebagai kebuntuan operasional akibat percepatan program tanpa kesiapan tata kelola, regulasi, maupun sumber daya manusia.

Guna mengatasi hambatan operasional tersebut, Daniel merumuskan tiga langkah strategis yang saling terintegrasi dalam Formulasi Trilogi. Langkah pertama meliputi pilar Peer Mentorship untuk melibatkan mahasiswa sebagai pendamping psikososial sekaligus sarana penguatan kaderisasi guru lokal.

Langkah kedua yaitu Platform Civic-Tech Kawal Sekolah Rakyat yang berfungsi sebagai sistem pengawasan partisipatif berbasis teknologi demi menjamin transparansi program. Sementara pilar ketiga adalah Rekonstruksi Kurikulum Vokasi Kontekstual untuk menyelaraskan pendidikan dengan potensi ekonomi daerah agar lulusan memiliki keterampilan yang relevan.

"Ketiga pilar tersebut dirancang saling melengkapi untuk memperkuat keberlanjutan Program Sekolah Rakyat secara holistik," ungkapnya, dikutip dari laman Unair.

Gagasan ini berawal dari pengamatan Daniel terhadap fenomena pengunduran diri guru hingga masalah adaptasi siswa dalam sistem asrama. Kondisi nyata di lapangan tersebut mengalihkan fokus awalnya yang semula hendak mengkaji isu gerakan mahasiswa dalam menjaga demokrasi.

"Saya ingin menunjukkan bahwa gerakan pemuda pada era sekarang dapat terwujud melalui kontribusi nyata dan konstruktif sebagai problem solver. Gerakan mahasiswa bukan hanya tentang menyuarakan aspirasi, tetapi juga menghadirkan solusi konkret yang berdampak langsung bagi masyarakat," ungkapnya.

Selama proses penyusunan esai, keterbatasan data sekunder menjadi tantangan utama dalam membangun analisis yang objektif. Kendala data tersebut justru menegaskan krusialnya riset komprehensif berbasis data sebelum merumuskan sebuah solusi kebijakan.

Formulasi Trilogi ini diharapkan mampu menjadi rujukan bagi pembuat kebijakan program Sekolah Rakyat sekaligus memotivasi mahasiswa Unair lainnya untuk aktif berkarya.

"Tantangan data mengajarkan saya pentingnya riset yang kuat. Jangan takut ikut lomba walau belum berpengalaman. Mulailah dari isu yang terdekat dan tawarkan solusi orisinal karena menulis esai adalah sarana memberi kontribusi nyata bagi masyarakat," ucapnya.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang