Sirkuit Motegi di Jepang menjadi saksi bisu kembalinya sang raja ke takhta tertinggi. Marc Marquez berhasil mengunci gelar juara dunia ketujuh di kelas MotoGP setelah finis di posisi kedua pada balapan utama hari Minggu. Tambahan poin berharga ini membuatnya mengumpulkan total 541 poin dalam 17 seri yang telah berjalan sepanjang musim ini.
Pembalap asal Spanyol berusia 32 tahun tersebut kini unggul jauh dengan selisih 201 poin atas Alex Marquez, yang tidak lain adalah adik kandungnya sendiri. Meski kalender balap musim ini masih menyisakan lima seri lagi, posisi Marc di puncak klasemen sudah tidak mungkin lagi terkejar.
Secara matematis, hanya ada maksimal 185 poin yang bisa diperebutkan dalam lima seri tersisa. Keunggulan mutlak ini diraih Marc lewat performa yang sangat dominan: 11 kemenangan balap utama, 14 kemenangan balap sprint, empat podium di balap utama, serta dua podium di balap sprint. Sepanjang musim, ia tercatat hanya sekali kehilangan poin di balap utama dan sekali di balap sprint.
Di sisi lain, sang adik juga mencatatkan performa yang cukup impresif. Alex Marquez mengemas dua kemenangan balap utama, satu kemenangan balap sprint, tujuh podium balap utama, dan 11 podium di balap sprint. Namun, konsistensinya terganggu setelah lima kali finis di luar podium dan tiga kali gagal finis pada balapan utama.
Walau musim ini tampak begitu mendominasi, jalan yang dilalui Marc Marquez untuk kembali ke puncak sama sekali tidak mudah. Pembalap berjuluk The Baby Alien ini datang ke kompetisi musim ini dengan membawa beban puasa gelar juara dunia selama lima tahun beruntun, terhitung sejak 2020 hingga 2024.
Badai dalam kariernya bermula saat ia mengalami cedera patah tulang lengan kanan yang parah pada balapan pembuka di Jerez musim 2020. Saat itu, ia masih setia membela Repsol Honda, tim yang membesarkan namanya sejak debut di kelas para raja pada tahun 2013. Cedera tersebut memaksanya melewatkan seluruh sisa seri musim 2020 yang kala itu dipangkas menjadi 14 seri akibat pandemi Covid-19.
Memasuki musim 2021, perjuangan Marc belum usai. Ia terpaksa absen di dua seri pertama karena kondisi fisiknya belum bugar sepenuhnya. Seri Portimao di Portugal menjadi momen emosional kembalinya Marc ke lintasan balap, di mana ia menyentuh garis finis di posisi ketujuh. Langkahnya berlanjut dengan finis kesembilan di Jerez, sebelum akhirnya dihantam nasib buruk gagal finis dalam tiga seri beruntun setelahnya.
Secercah harapan muncul saat Marc secara dramatis memenangkan balapan di Sachsenring, Jerman. Itu menjadi kemenangan pertamanya bagi Honda sejak terakhir kali berdiri di podium tertinggi Valencia 2019. Mengakhiri musim dengan koleksi tiga kemenangan dan satu podium kedua, Marc lagi-lagi harus menepi dan absen pada dua seri pamungkas.
Awal musim 2022 sebenarnya sempat memberikan sinyal positif bagi pembalap yang belum pulih 100 persen ini, setelah ia berhasil finis kelima di Lusail, Qatar. Sirkuit tersebut merupakan tempat yang terakhir kali ia taklukkan bersama Honda pada tahun 2014, sebuah masa di mana ia menguasai MotoGP selama enam musim sebelum petaka cedera datang.
Namun, nasib malang kembali mengetuk pintu. Kecelakaan hebat alias highside menimpa Marc di Sirkuit Mandalika, Indonesia, yang membuatnya batal mengaspal di musim perdana GP Indonesia era baru tersebut. Setelah melewatkan GP Argentina, ia kembali di Austin, Amerika Serikat, dan merangkai lima balapan dengan hasil sekali finis di lima besar serta tiga kali di sepuluh besar.
Keputusan mengejutkan akhirnya diambil Marc setelah seri Mugello, Italia. Ia memilih untuk naik ke meja operasi demi menyembuhkan lengan kanannya untuk keempat kalinya. Akibatnya, ia harus absen dalam enam seri balap dan baru kembali di Aragon, Spanyol, meski harus berakhir dengan gagal finis. Di musim 2022 yang melelahkan itu, Marc hanya melakoni 12 dari total 20 seri dengan pencapaian terbaiknya finis kedua di Phillip Island, Australia.
Penderitaan juara dunia kelas 125cc dan Moto2 ini semakin bertambah parah setelah tim medis mendiagnosisnya mengalami gangguan pandangan ganda atau diplopia. Masalah kesehatan ini memaksanya kembali beristirahat total demi pemulihan.
Tahun 2023, yang menandai era baru dengan diperkenalkannya balap sprint setiap hari Sabtu, juga tidak ramah bagi Marc. Usai mengamankan finis ketiga pada sesi sprint pembuka di Portimao, ia justru gagal finis di balapan utama hari Minggu. Rentetan cedera membuatnya absen lagi di Argentina, COTA, dan Jerez.
Ketika mencoba kembali di Le Mans dan Mugello, Marc hanya mampu mendulang poin dari sesi sprint, sementara balapan utamanya selalu berakhir di posisi gagal finis. Situasi pelik ini membuatnya absen di Sachsenring dan Assen, Belanda, sebelum akhirnya mampu bertahan dan menyelesaikan 12 seri terakhir musim.
Di tengah keterpurukan itu, pengumuman besar dibuat saat sirkus MotoGP singgah di Mandalika. Tempat yang sekali lagi gagal ia taklukkan karena gagal finis itu menjadi saksi pengumuman bahwa kebersamaan panjangnya dengan Honda akan berakhir setelah musim 2023 tuntas.
Menemukan Kembali Senyuman di Gresini
Usai berpisah dengan pabrikan Jepang yang telah membesarkan namanya, Marc Marquez mengambil langkah berani dengan berlabuh ke tim satelit Ducati, Gresini Racing. Di tim barunya ini, ia kembali bersanding dengan sang adik, Alex Marquez.
Momen krusial terjadi saat tes pramusim. Di garasi Gresini, Marc tertangkap kamera mulai melemparkan senyum lebarnya yang khas kepada para kru tim setelah menjajal motor Desmosedici GP23, motor dengan setelan peninggalan Johann Zarco. Kenyamanan di atas motor tersebut langsung membuahkan hasil nyata sepanjang musim.
Bersama motor GP23, Marc Marquez merajut kembali kedigdayaannya dengan meraih tiga kemenangan balap utama, satu kemenangan balap sprint, tujuh podium di balap utama, dan sembilan podium tambahan di balap sprint. Pada akhir musim, ia bertengger di peringkat ketiga klasemen akhir pembalap dengan 392 poin. Ia hanya kalah dari duo penunggang Desmosedici GP24, yakni sang juara dunia Jorge Martin dan pembalap pabrikan Ducati, Francesco Bagnaia.
Aksi memukau di tim satelit tersebut langsung memikat manajemen Ducati pabrikan. Tanpa ragu, mereka memboyong Marc Marquez ke tim utama Ducati Lenovo untuk menjadi tandem Bagnaia pada musim 2025. Langkah ini terbukti jitu hingga akhirnya Marc sukses kembali berdiri di puncak dunia dan mematri lagi plat namanya di trofi 'Tower of Champions MotoGP' di Motegi.
Sebuah kebangkitan yang sangat inspirasional, seperti yang diungkapkan langsung oleh sang adik melalui media sosial.
"Hanya kita yang tahu apa yang telah kamu lalui selama lima tahun terakhir. Kamu adalah inspirasiku dan aku sangat bangga menjadi saudaramu! Selamat," tulis Alex Marquez, Pembalap Gresini Racing.
Di balik gemerlap takhta juara dunia musim ini, peran Alex Marquez ternyata sangat krusial dalam membantu sang kakak bangkit dari titik terendah dalam hidupnya.
Marc mengungkapkan bahwa adiknya lah yang membujuk dan mengajaknya untuk bergabung dengan Gresini, meskipun tim satelit tersebut bukanlah tim dengan kekuatan finansial yang melimpah. Demi membuktikan sesuatu, Marc bahkan rela membalap tanpa menerima bayaran sepeser pun. Ia hanya ingin meyakinkan dirinya sendiri apakah ia masih layak bersaing di level tertinggi atau sudah waktunya untuk gantung helm.
"Kemungkinan itu–pensiun–ada dan cukup dekat. Tapi, saya masih ingin membuktikan diri, bahwa saya masih kompetitif. Jadi, kenapa harus sekarang," ujar Marc Marquez, Pembalap Ducati Lenovo.
Kini, penantian panjang itu telah berakhir. Marc Marquez resmi kembali menjadi penguasa tertinggi MotoGP setelah dalam lima musim terakhir ia hanya bisa menyaksikan takhta tersebut digilir oleh Joan Mir, Fabio Quartararo, Francesco Bagnaia yang juara dua kali, dan Jorge Martin.
Meski status juara dunia sudah aman di tangan, Marc masih dihadapkan pada tantangan menarik di sisa balapan musim ini. Ia berambisi untuk bisa finis pertama kali di balapan utama sirkuit Mandalika serta memecahkan rekor sebagai pembalap Ducati dengan jumlah kemenangan terbanyak dalam satu musim balap utama.
Sejauh ini, catatan terbaik Marc di Mandalika barulah finis ketiga di sesi balap sprint. Sementara itu, koleksi 11 kemenangan balap utamanya bersama Ducati musim ini telah menyamai rekor luar biasa milik Francesco Bagnaia musim lalu, melampaui rekor 10 kemenangan milik legenda Casey Stoner pada musim 2007 silam. Marc Marquez kini hanya perlu mengamankan finis di posisi mana pun saat berlaga di Mandalika, serta mencuri minimal satu kemenangan lagi dari lima seri tersisa untuk menasbihkan dirinya sebagai pembalap paling sukses dalam sejarah satu musim Ducati.







