Ajang Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya yang dijadwalkan berlangsung pada 19 September hingga 3 Oktober 2026 mendatang menjadi panggung internasional terakhir bagi Maria Natalia Londa. Atlet lompat jauh dan lompat jangkit Indonesia tersebut mengusung ambisi pribadi untuk menyumbang medali sebelum memutuskan pensiun dari kompetisi tingkat Asia, dilansir dari Bola. Kontingen Indonesia sendiri dijadwalkan mengirimkan 420 atlet dari 32 cabang olahraga.
Pihak NOC Indonesia menetapkan target realistis berupa perolehan empat medali emas pada pesta olahraga multievent tingkat Asia tersebut. Faktor usia yang melampaui 36 tahun menjadi pertimbangan utama Maria Londa untuk segera beristirahat dari dunia atletik. Namun, peraih emas lompat jauh pada Asian Games 2014 di Incheon ini bertekad menutup kariernya dengan capaian prestasi.
Proses latihan kini telah memasuki tahap intensif menjelang bergulirnya kejuaraan tersebut. Persiapan fisik maupun teknis terus dimaksimalkan demi menjaga peluang meraih medali di panggung terakhirnya.
"Sekarang persiapan sudah 80 persen dan sudah masuk dalam persiapan fase khusus," kata Maria Londa. "Saya tinggal perlu memperbaiki teknik lagi dan terus melatih mentalitas dalam pertandingan. Apalagi saya belum mendapatkan jadwal yang pasti untuk bertanding," ujar Maria Londa.
Langkah Maria Londa untuk fokus di nomor lompat jangkit didasari oleh hasil kurang memuaskan pada edisi Asian Games 2023 di Hangzhou. Kala itu, lompatan ketiganya dianulir oleh dewan juri meski ia merasa posisi kakinya masih berada tepat di papan tumpu. Keputusan dewan juri tersebut membuat Maria Londa harus puas mengakhiri lomba di urutan ke-10 dengan catatan lompatan sah sejauh 5,98 meter pada nomor lompat jauh. Sementara pada nomor lompat jangkit, atlet asal Bali tersebut absen berlaga.
Pada Asian Games 2026 kelak, ia dipastikan turun di dua nomor kompetisi sekaligus. Namun, sasaran utama untuk merebut medali diprioritaskan pada nomor lompat jangkit. "Ini menjadi pertandingan terakhir saya di kejuaraan internasional.
Di Indonesia juga saya sudah tidak boleh bertanding lagi karena batas maksimal di cabor atletik itu 35 tahun," tutur Maria Londa. Catatan lompatan terbaik milik pengoleksi enam medali emas SEA Games ini berada di angka 14,17 meter untuk nomor lompat jangkit. Jarak tersebut masih berjarak dari rekor atlet Uzbekistan, Sharifa Davnorova, yang mengukir lompatan 14,27 meter saat menyabet emas di Asian Games 2024.
Soroti Masalah Regenerasi Atlet Muda
Hingga saat ini, pemegang rekor nasional di dua nomor atletik tersebut masih dipegang oleh Maria Londa. Kondisi ini membuat PB PASI menghadapi tantangan besar dalam merealisasikan regenerasi atlet yang berkelanjutan.
Dominasi rekor yang bertahan lama menimbulkan perasaan dilematis bagi sang atlet. Ia bangga atas prestasinya, namun di sisi lain prihatin karena belum ada atlet penerus yang sanggup melampaui capaian rekornya. "Secara prestasi kan, rekor itu sudah lama diciptakan.
Rekor kan dibuat untuk dipecahkan. Semoga atlet-atlet muda Indonesia juga memiliki semangat kedepannya untuk memecahkan rekor-rekor yang ada saat ini," kata Maria Londa. Proses regenerasi atlet nasional dinilainya sudah menunjukkan perkembangan yang cukup baik.
Meski demikian, kemampuan teknis para atlet muda Indonesia di tingkat regional Asia Tenggara masih memerlukan peningkatan signifikan.
"Lompat jangkit itu rata-rata di 13-14 meter. Sedangkan lompat jauh selama ini di atas 6 meter. Untuk atlet muda Indonesia, sejauh ini belum ada yang menginjak angka tersebut," ujar Maria Londa.







