Pemain tim nasional Maroko Brahim Diaz menjadi sorotan publik setelah gagal mengeksekusi penalti krusial pada pertandingan final Piala Afrika (AFCON) 2025 melawan Senegal di Rabat, Maroko, Senin (19/1) dini hari WIB. Dilansir dari Papanskor, kegagalan tersebut terjadi pada menit ke-90+8 ketika wasit Jean Jacques Ndala menunjuk titik putih dalam situasi babak kedua yang menyisakan tambahan waktu delapan menit. Brahim Diaz melepaskan tendangan cungkil atau teknik panenka ke tengah gawang, namun kiper Senegal Edouard Mendy tidak terkecoh dan berhasil menangkap bola dengan erat.
Melesetnya eksekusi penalti penyerang Real Madrid tersebut memaksa pertandingan berlanjut ke babak tambahan waktu 2×15 menit, hingga akhirnya Senegal mencetak gol kemenangan dan mengunci gelar juara.
Momen kegagalan ini memicu reaksi emosional di tepi lapangan, di mana pelatih Maroko Walid Regragui tertangkap kamera menunjukkan gestur ketidakpuasan kepada Diaz saat jeda sebelum babak tambahan dimulai. Sejumlah rekan setim seperti Youssef En Nesyri dan mantan pemain Manchester United Sofyan Amrabat langsung menghampiri untuk merangkul dan menenangkan Diaz yang tampak terguncang serta berkaca-kaca.
Aksi panenka Diaz memicu kritik dari warganet di media sosial karena dianggap terlalu berisiko untuk dilakukan pada momen yang menentukan nasib juara di kandang sendiri. Teknik cungkilan ini pertama kali dipopulerkan oleh legenda Republik Ceko Antonin Panenka yang sukses mengecoh kiper Jerman Barat Sepp Maier pada final Piala Eropa 1976 untuk membawa negaranya meraih trofi.
Berdasarkan catatan statistik, Antonin Panenka memiliki tingkat keberhasilan eksekusi penalti mencapai 97 persen dengan mencetak gol dalam 34 dari 35 percobaan sejak laga final Euro 1976 tersebut. Kekalahan di Prince Moulay Abdellah Stadium ini memastikan Maroko gagal menyamai kisah sukses Cekoslovakia, dan kini publik menanti respons mental Diaz dalam menghadapi sisa kompetisi ke depan.






