Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW) akan dilakukan secara bertahap dengan tahap pertama dimulai di Bali.
Bahlil mengatakan peresmian tahap pertama proyek ini masih menunggu jadwal Presiden Prabowo Subianto.
"Nanti saya lagi usahakan meminta jadwal Bapak Presiden untuk kita peresmian tahap pertama terhadap PLTS 100 gigawatt tahap pertama. Mungkin kita akan buat di Bali," ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, dikutip Selasa (4/8/2026).
Bahlil menambahkan program PLTS 100 GW sudah masuk dalam revisi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034 sehingga proyek ini diyakini akan berjalan lancar berkat perencanaan matang dan pembuatan masterplan.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menjelaskan percepatan pembangunan PLTS 100 GW dilakukan dengan mempersiapkan regulasi dasar dan memprioritaskan penyediaan lahan sebagai faktor utama keberhasilan proyek.
"Terkait dengan kelistrikan, kita berusaha untuk memperkuat sistem kelistrikan secara nasional, dan di antaranya adalah eksekusi arahan Presiden untuk PLTS 100 gigawatt. Jadi kalau proyek PLTS 100 gigawatt kita akan lakukan percepatan dengan mempersiapkan basic regulasi dan segera mengeksekusi ketersediaan lahan," kata Yuliot dalam keterangan tertulis, dikutip Senin (1/6/2026).
Kementerian ESDM bersama instansi terkait sudah berkoordinasi dengan Kementerian ATR/BPN untuk ketersediaan lahan. Hasil identifikasi menunjukkan ada sekitar 24.000 hektare lahan di Pulau Jawa yang berpotensi digunakan untuk proyek ini.
Pada tahap awal, pembangunan akan dimulai dengan kapasitas 17 GW dan didukung fasilitas battery energy storage system (BESS) sekitar 33 GW.
"Percepatan akan kita mulai dengan membangun 17 gigawatt terlebih dahulu. Dan juga ada battery energy storage atau BASE yang kita bangun sekitar 33 gigawatt," tutur Yuliot.
Pemerintah menargetkan pada 2026 penambahan 17 gigawatt energi terbarukan melalui PLTS secara nasional, termasuk mengurangi penggunaan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD), dilansir dari Detik Finance.






