Meta dan Google Jadi Perusahaan Paling Rakus Data Pengguna

21 Agustus 2026, 00:45 WIB

Laporan terbaru dari perusahaan keamanan siber Surfshark mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai praktik pengumpulan data oleh raksasa teknologi dunia. Dalam riset tersebut, Meta, induk perusahaan Facebook dan Instagram, dinobatkan sebagai perusahaan yang paling rakus dalam mengumpulkan data pengguna. Posisi kedua ditempati oleh Google, yang juga dikenal memiliki ekosistem layanan digital sangat luas di seluruh dunia.

Mengapa Meta Berada di Posisi Puncak?

Meta, yang menaungi platform media sosial raksasa seperti Facebook, Instagram, Messenger, dan Threads, mengandalkan model bisnis periklanan yang sangat bertarget. Untuk menyajikan iklan yang relevan bagi miliaran penggunanya, Meta membutuhkan profil data yang sangat mendalam. Data yang dikumpulkan tidak hanya terbatas pada nama dan alamat email, melainkan mencakup riwayat pencarian, lokasi presisi, daftar kontak, riwayat transaksi keuangan, hingga interaksi pengguna dengan konten tertentu.

Pengumpulan data yang masif ini memungkinkan Meta untuk memetakan perilaku, minat, dan kebiasaan pengguna secara real-time. Meskipun Meta berargumen bahwa pengumpulan data ini bertujuan untuk meningkatkan pengalaman pengguna dan memberikan konten yang lebih personal, para ahli privasi menilai bahwa volume data yang diambil sudah melampaui batas kewajaran. Hal ini memicu kekhawatiran besar mengenai kedaulatan data pribadi dan potensi penyalahgunaan informasi sensitif.

Google Menguntit di Posisi Kedua

Sebagai mesin pencari terbesar di dunia, Google berada di posisi kedua dalam daftar perusahaan paling rakus data. Melalui berbagai layanannya seperti Google Search, YouTube, Google Maps, Gmail, dan sistem operasi Android, Google memiliki akses langsung ke hampir seluruh aktivitas digital penggunanya. Setiap pencarian yang dilakukan, video yang ditonton, rute perjalanan yang dilewati, hingga isi email yang dikirimkan berpotensi untuk dianalisis oleh algoritma Google.

Sama seperti Meta, Google memanfaatkan data ini untuk memperkuat imperium bisnis periklanan digital mereka. Dengan mengetahui preferensi pengguna secara mendetail, Google dapat menjual ruang iklan dengan harga tinggi kepada para pengiklan yang ingin menyasar audiens yang sangat spesifik. Meskipun Google menyediakan opsi bagi pengguna untuk membatasi pelacakan data, pengaturan tersebut sering kali tersembunyi di balik menu konfigurasi yang rumit bagi pengguna awam.

Dampak Terhadap Privasi dan Keamanan Pengguna

Praktik pengumpulan data skala besar yang dilakukan oleh Meta dan Google ini membawa dampak signifikan terhadap privasi digital masyarakat global, termasuk di Indonesia. Ketika satu atau dua perusahaan menguasai sebagian besar data pribadi populasi dunia, risiko keamanan siber menjadi sangat tinggi. Jika terjadi kebocoran data atau serangan siber pada server raksasa teknologi ini, jutaan data sensitif pengguna dapat jatuh ke tangan pihak yang tidak bertanggung jawab.

Selain risiko keamanan, monopoli data ini juga memengaruhi kebebasan berpendapat dan menciptakan fenomena “filter bubble” atau gelembung informasi. Pengguna hanya akan disajikan informasi yang sesuai dengan profil data mereka, sehingga membatasi perspektif dan memperlebar polarisasi di ruang digital. Di Indonesia sendiri, kesadaran akan pentingnya perlindungan data pribadi kini semakin mendesak, terutama setelah disahkannya Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP).

Langkah yang Bisa Diambil Pengguna

Meskipun sulit untuk sepenuhnya menghindari pelacakan oleh Meta dan Google, pengguna tetap dapat mengambil beberapa langkah preventif untuk meminimalkan data yang diambil. Salah satu cara paling efektif adalah dengan memeriksa dan memperketat pengaturan privasi pada masing-masing akun. Pengguna disarankan untuk menonaktifkan pelacakan lokasi jika tidak diperlukan, menghapus riwayat aktivitas secara berkala, dan membatasi izin aplikasi pihak ketiga yang terhubung dengan akun utama.

Selain itu, beralih ke alternatif layanan yang lebih menghargai privasi juga bisa menjadi solusi. Misalnya, menggunakan mesin pencari yang tidak melacak data pengguna, atau menggunakan aplikasi pesan instan dengan enkripsi ujung-ke-ujung yang lebih ketat. Dengan meningkatkan literasi digital dan kesadaran akan privasi, pengguna dapat lebih bijak dalam mengelola jejak digital mereka di era modern ini.

TagS

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang