Mpu Tantular Tulis Kitab Sutasoma, Wariskan Semboyan Bhinneka Tunggal Ika

8 Agustus 2026, 13:31 WIB

Pujangga ternama Kerajaan Majapahit, Mpu Tantular, mencatatkan warisan sejarah penting melalui penyusunan Kitab Sutasoma pada abad ke-14. Karya sastra kuno tersebut digubah antara tahun 1365 dan 1389 di bawah naungan Sri Ranamanggala pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk. Karya ini menjadi landasan historis lahirnya semboyan negara Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika.

Kitab Sutasoma memuat ajaran moral dan filosofi mendalam mengenai toleransi beragama. Dalam catatan sejarah Kerajaan Majapahit, naskah ini hadir sebagai bentuk respons sosial dan spiritual untuk merekatkan kehidupan masyarakat yang memiliki latar belakang kepercayaan berbeda.

Mpu Tantular hidup pada era keemasan Majapahit di bawah kepemimpinan Raja Hayam Wuruk. Sebagai seorang pujangga keraton, ia menyusun Kakawin Sutasoma menggunakan bahasa Jawa Kuno dengan susunan aksara Bali. Penulisan naskah asli dilakukan di atas media daun lontar berukuran 40,5 x 3,5 sentimeter.

Secara keseluruhan, karya sastra ini terdiri dari 1.210 bait yang terbagi ke dalam 148 pupuh. Berdasarkan riset literatur sejarah, kitab ini sempat ditulis ulang di atas daun lontar pada tahun 1851 oleh penulis yang tidak diketahui identitasnya, sehingga fisiknya dapat terus terlestarikan hingga era modern.

KITAB SUTASOMA, ASAL USUL BHINNEKA TUNGGAL IKA | Jasmerah | ASISI Channel

Pandangan Para Ahli Kebudayaan

Penulis buku Pesona & Sisi Kelam Majapahit, Sri Wintala Achmad, menjelaskan bahwa Kakawin Sutasoma memuat gagasan religius yang sangat kuat. Menurutnya, naskah tersebut merekam hubungan harmoni antara penganut Buddha Mahayana dan agama Siwa di lingkungan kerajaan.

"Kakawin Sutasoma berisi ide religius tentang hubungan Buddha Mahayana dan agama Siwa serta peringatan perseteruan antara keraton barat dan timur," kata Sri Wintala Achmad.

Kandungan Isi dan Asal-usul Bhinneka Tunggal Ika

Kisah utama dalam Kitab Sutasoma menceritakan perjalanan Pangeran Sutasoma, seorang calon raja yang memilih menempuh jalan bertapa demi mencapai kesempurnaan spiritual. Di dalam pengembaraannya, Sutasoma berhasil mengajar nilai-nilai kedamaian, menghentikan kejahatan tanpa kekerasan, serta menegakkan prinsip kasih sayang terhadap sesama makhluk.

Kutipan ikonik yang menjadi semboyan nasional Indonesia tercantum secara spesifik pada pupuh 139 bait ke-5. Kutipan lengkap berbahasa Jawa Kuno tersebut berbunyi:

"Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa Bhinneki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal, Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa."

Kutipan tersebut menegaskan bahwa meskipun ajaran Buddha dan Siwa terlihat berbeda, pada hakikatnya kebenaran tertinggi adalah satu, sebab tidak ada kebenaran yang mendua. Kalimat "Bhinneka tunggal ika" ini kemudian diangkat oleh para pendiri bangsa sebagai prinsip pemersatu keberagaman suku, ras, dan agama di Indonesia.

Rincian Struktur Fisik Naskah Sutasoma

Untuk memahami aspek teknis dan historis dari naskah peninggalan Mpu Tantular ini, berikut adalah rincian data fisik dan struktur Kitab Sutasoma:

Parameter Naskah Keterangan Faktual
Penulis / Pengarang Mpu Tantular
Pemerintahan / Era Prabu Hayam Wuruk (Kerajaan Majapahit)
Masa Pembuatan Antara Tahun 1365 – 1389
Media Penulisan Daun Lontar (Ukuran 40,5 x 3,5 cm)
Bahasa & Aksara Bahasa Jawa Kuno, Aksara Bali
Jumlah Komposisi 1.210 Bait dalam 148 Pupuh
Letak Kutipan Semboyan Pupuh 139 Bait ke-5
Penyalinan Ulang Lontar Tahun 1851

Pertanyaan warga seperti "bagaimana kitab sutasoma mengajarkan toleransi" terjawab melalui narasi filosofis dan ajaran kepemimpinan Pangeran Sutasoma. Hingga saat ini, naskah kuno tersebut tetap menjadi salah satu artefak literatur paling berharga dalam sejarah kebudayaan Nusantara.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang