Persyarikatan Muhammadiyah memperkokoh komitmennya dalam memajukan kesejahteraan sosial sebagai pilar utama dakwah Islam berkemajuan, dilansir dari Info. Penegasan tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi Regional I dan Seminar MPKS PP Muhammadiyah Leadership Series di Depok, Jawa Barat. Forum bertajuk "Think Bigger, Lead Better: Strategi Membangun Dampak dan Keberlanjutan Gerakan Kesejahteraan Sosial" ini berfokus pada penguatan tata kelola lembaga.
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Agus Taufiqurrahman, menegaskan bahwa seluruh kerja pelayanan sosial organisasi harus bersumber dari nilai-nilai pencerahan Surah Al-Ma'un.
Agus menjelaskan kepedulian terhadap kelompok rentan dan masyarakat kurang mampu merupakan identitas utama Muhammadiyah yang patut dipertahankan. "Islam tidak hanya mengajarkan ibadah, tetapi juga mendorong umat untuk menghadirkan kemajuan, membebaskan masyarakat dari berbagai persoalan, serta menciptakan kehidupan yang lebih tertib dan sejahtera," kata Agus Taufiqurrahman.
Aksi nyata bagi kaum dhuafa dinilai wajib memberi manfaat langsung agar mampu menyelesaikan persoalan kemiskinan di lapangan. Dalam kesempatan itu, Agus merujuk pemikiran Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla mengenai tantangan kemiskinan yang masih membayangi warga.
Ia membedakan amal usaha pendidikan dan ekonomi sebagai "amal usaha mata air" yang menghasilkan sumber daya pendorong kemajuan. Sebaliknya, amal usaha kesejahteraan sosial dikategorikan sebagai "amal usaha air mata" karena bertugas mendampingi warga dalam kondisi paling membutuhkan.
Akselerasi Akreditasi dan Tata Kelola
Ketua Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) PP Muhammadiyah, Dr. Mariman Darto, S.E., M.Si., menyatakan pihak internal terus menggenjot sepuluh program prioritas Muktamar.
Mariman mengungkapkan dari sekitar 250 lembaga kesejahteraan sosial Muhammadiyah di Indonesia, sebanyak 157 lembaga telah mengantongi akreditasi resmi.
Pencapaian akreditasi tersebut bertujuan meningkatkan standar tata kelola organisasi sekaligus mutu pelayanan publik secara menyeluruh.
Inspirasi dari LKSA Bayi Sehat Medan
Delegasi MPKS PWM Sumatera Utara yang diwakili Dr. Robie Fanreza, S.Pd.I., M.Pd.I., bersama Pengelola LKSA Bayi Sehat Muhammadiyah Medan, Buya Rafdinal, M.AP., turut membagikan pengalaman pengasuhan anak.
LKSA Bayi Sehat Muhammadiyah Medan dipercaya mempresentasikan praktik terbaik pengasuhan bayi dan balita terlantar yang diresmikan sejak 14 Oktober 2017. Lembaga ini mengoperasikan dua pola layanan, yaitu Temporer Shelter untuk pengasuhan sementara menuju reunifikasi keluarga, serta Permanent Shelter bagi perlindungan jangka panjang. Model pengasuhan terintegrasi dari Medan ini mendapatkan apresiasi para peserta rakor karena dinilai sukses mentransformasikan nilai Al-Ma'un menjadi dakwah sosial yang berdampak nyata.







