Nelayan Cirebon Temukan Harta Karun Keramik Senilai Rp720 Miliar

20 Juni 2026, 04:46 WIB

Sebuah penemuan bersejarah besar di awal abad ke-21 berawal dari ketidaksengajaan seorang nelayan asal Cirebon. Pada tahun 2003, jaring ikannya justru mengangkat benda-benda kuno berharga dari dasar Laut Jawa.

Seperti dikutip dari Papanskor, nelayan tersebut awalnya berlayar hingga radius 70 kilometer dari garis pantai untuk mencari ikan. Lokasi perairan tersebut memiliki kedalaman sekitar 50 meter dan menjadi jalur melintasnya kawanan ikan.

Saat menarik jaring yang terasa amat berat, ia terkejut karena melihat bongkahan keramik tua bercampur dengan hasil tangkapannya. Kabar mengenai temuan tersebut langsung menyebar luas setelah ia kembali ke daratan.

Pemerintah bersama pihak swasta kemudian menginisiasi operasi pencarian lanjutan di titik koordinat tersebut. Eksplorasi ini berhasil mengungkap keberadaan situs kapal karam yang menyimpan ratusan ribu benda purbakala.

Berdasarkan catatan dari Pusat Arkeologi Nasional, situs tersebut memuat sebanyak 314.171 barang antik. Komoditas purba itu berupa porselen, piring, hingga mangkuk kuno.

"Kapal karam di Cirebon terdapat 314.171 keramik yang terdiri dari porselen, piring, mangkuk, dan sebagainya," tulis peneliti Eka Asih dalam studinya yang bertajuk "Keramik Muatan Kapal Karam Cirebon (2016)".

Akumulasi nilai dari seluruh objek purbakala tersebut diperkirakan menembus angka Rp720 miliar. Mayoritas dari muatan keramik itu diidentifikasi berasal dari masa pemerintahan Dinasti Tang di China sekitar abad ke-9 sampai ke-10 Masehi.

"Pada masa Dinasti Tang, keramik dianggap seperti harta berharga yang diperdagangkan ke berbagai belahan dunia," terang Eka Asih dalam studi yang sama.

Kendati bermuatan barang dari China, para arkeolog menyimpulkan bahwa kapal yang tenggelam itu bukan milik saudagar Arab atau China. Struktur fisik dan bukti analisis mengarah pada dugaan bahwa kapal tersebut dibuat di wilayah Nusantara.

Indikasi ini diperkuat oleh kesamaan karakteristik antara barang pecah belah di Cirebon dengan artefak yang ditemukan di Sumatera Selatan. Lokasi tersebut dikenal sebagai wilayah kekuasaan maritim masa lalu.

"Hasil penelitian menunjukkan temuan keramik di Cirebon sama dengan di Palembang, pusat Kerajaan Sriwijaya," jelas Eka.

Selain barang pecah belah, tim peneliti yang dipimpin oleh Michael S. Krzemnick juga mendeteksi keberadaan objek berharga lainnya. Mereka menemukan sekitar 12.000 butir mutiara, emas, serta ribuan batu permata.

"Temuan ini luar biasa karena menunjukkan jejak perdagangan global yang sudah berlangsung seribu tahun lalu," jelas Michael dalam jurnal Radiocarbon Age Dating of 1,000-Year-Old Pearls from the Cirebon Shipwreck (2017).

Situs penemuan monumental ini kini dikenal secara global dengan nama Cirebon Wreck. Dokumentasi ini mempertegas eksistensi jaringan niaga kuno yang menghubungkan Nusantara dengan dinasti besar di Asia.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang