Sektor jasa keuangan Indonesia tetap menunjukkan stabilitas pada Selasa (4/8/2026) di tengah dinamika geopolitik global dan gejolak inflasi, sebagaimana dilansir dari Detik Finance. Kinerja intermediasi sektor perbankan mencatat pertumbuhan kredit yang melonjak hingga 12,67 persen secara tahunan (yoy) pada Juni 2026 dengan nilai Rp9.081 triliun.
Peningkatan tersebut lebih tinggi dibanding posisi Mei 2026 yang tumbuh 11,51 persen yoy. Pendorong utama kenaikan ditopang oleh Kredit Investasi yang melesat 24,9 persen yoy, Kredit Modal Kerja naik 8,94 persen yoy, serta Kredit Konsumsi yang tumbuh 5,75 persen yoy.
Dari kriteria debitur, kredit korporasi mencetak pertumbuhan tertinggi sebesar 20,45 persen yoy, sementara kredit UMKM tumbuh 1,05 persen yoy. Bank BUMN mendominasi penyaluran berdasarkan kepemilikan dengan pertumbuhan 16,54 persen yoy, sedangkan baki debet Buy Now Pay Later (BNPL) perbankan mencapai Rp30,7 triliun atau naik 33,54 persen yoy melalui 32,77 juta rekening.
Di tengah dinamika perekonomian dunia dan melandainya inflasi domestik sebesar 2,88 persen yoy pada Juli 2026, pihak berwenang menilai ketahanan industri jasa keuangan domestik terus menopang pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.
"Berdasarkan perkembangan tersebut, stabilitas sektor keuangan tetap terjaga didukung oleh bauran kebijakan fiskal dan moneter yang memadai," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi dalam keterangannya, Selasa (4/8/2026).
Adapun Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan pada Juni 2026 tercatat tumbuh 10,21 persen yoy menjadi Rp10.282 triliun, dengan rincian giro naik 9,95 persen, deposito 8,25 persen, dan tabungan 12,16 persen. Pertumbuhan kredit yang melampaui ekspansi DPK menyebabkan rasio likuiditas sedikit menyesuaikan, namun tetap berada aman di atas kriteria minimum.
Rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit (AL/NCD) berada di tingkat 101,92 persen dan Alat Likuid/Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 23,08 persen, sementara Liquidity Coverage Ratio (LCR) berada di posisi 182,75 persen. Kualitas kredit juga membaik dengan rasio NPL gross sebesar 2,09 persen, NPL net 0,82 persen, Loan at Risk (LaR) 8,47 persen, tingkat profitabilitas (ROA) 2,47 persen, serta ketahanan permodalan (CAR) yang kuat di level 23,70 persen.







