Bukan Cuma Pengrajin, Ini Panggilan Khusus Pembuat Kerajinan Bali hingga Jakarta

4 Agustus 2026, 02:17 WIB

Orang yang membuat benda-benda kerajinan sering kali kita sapa dengan sebutan umum seperti pengrajin, perajin, atau kriyawan. Namun, jika kita melihat lebih dalam pada tradisi lokal Indonesia, gelar bagi para pembuat karya seni tangan ini ternyata sangat spesifik dan kaya akan nilai budaya. Di Bali misalnya, orang yang membuat benda benda kerajinan khusus seperti instrumen musik logam dipanggil dengan sebutan Pande.

Penamaan ini bukan sekadar profesi, melainkan bentuk penghormatan atas keahlian bertahun-tahun dalam mengolah bahan mentah menjadi karya seni bernilai tinggi. Secara umum, istilah perajin merujuk pada seseorang yang memiliki keterampilan khusus untuk menciptakan benda-benda fungsional maupun hiasan menggunakan tangan. Di era modern, istilah artisan juga sering dipakai untuk menggambarkan pembuat kerajinan tangan independen yang mengedepankan kualitas ketimbang produksi masal.

Namun, di berbagai daerah di Indonesia, penamaan tersebut memiliki identitas lokal yang unik. Mari kita bedah bagaimana sebutan dan peran mereka berbeda di tiap wilayah.

1. Pande Gong di Desa Sawan Bali

Di Desa Sawan, Kabupaten Buleleng, Bali, para perajin yang menempa logam menjadi instrumen gamelan dikenal dengan sebutan Pande Gong. Mereka bukan sekadar pembuat alat musik biasa, melainkan seniman logam yang menguasai teknik pencampuran bahan dan penataan nada secara presisi.

Salah satu inovasi terkenal dari para Pande Gong di Desa Sawan adalah terciptanya gong Tridatu. Produk unggulan ini menawarkan kualitas suara yang setara dengan gong perunggu klasik, namun ditawarkan dengan harga yang jauh lebih terjangkau bagi masyarakat lokal maupun luar daerah.

2. Perajin Keramik dan Poter (Potter)

Untuk kerajinan berbasis tanah liat, pembuatnya biasa dipanggil perajin keramik atau potter. Kerja keras seorang perajin keramik membutuhkan ketelitian ekstra, mulai dari pembentukan di roda putar, pengeringan, pembakaran, hingga proses pengasahan estetika lewat glasir.

Perjalanan usaha Jinjit Pottery yang didirikan oleh Antin Sambodo sejak tahun 2000 menjadi contoh nyata ketekunan perajin keramik lokal. Belajar mengolah tanah liat sejak tahun 1998, Antin yang berusia 55 tahun (per 2024) mengelola studio di Jakarta Barat serta rumah produksi kecil di Bintaro untuk melahirkan karya-karya unik.

3. Kriyawan Bahan Alam dan Daur Ulang

Selain logam dan tanah liat, ada pula perajin yang memanfaatkan limbah organik atau tanaman lokal sebagai bahan dasar. Seniman kriya jenis ini mengandalkan kreativitas tinggi untuk mengubah barang yang tidak terpakai menjadi benda dekoratif bernilai ekonomis tinggi.

Di Kudus misalnya, Ranu berhasil menyulap limbah bonggol jagung yang tadinya dibuang menjadi aneka barang kerajinan unik. Sementara di Sumatra Selatan, masyarakat memanfaatkan tanaman purun yang tumbuh di lahan basah sebagai bahan baku anyaman untuk menjaga kelestarian ekonomi lokal.

Perbandingan Karakteristik Perajin Berdasarkan Media Karya

Setiap cabang kriya membutuhkan keahlian khusus dan ketekunan yang berbeda. Berikut adalah gambaran perbedaan material, teknik utama, serta sebutan bagi para pembuat kerajinan di tanah air:

Perbandingan Spesifikasi dan Karakteristik Perajin Berdasarkan Jenis Kerajinan
Jenis Kerajinan Sebutan Pembuat Material Utama Fokus Keahlian
Gamelan / Gong Pande Gong Logam / Perunggu Peneleburan, penempaan, dan pencelarasan nada
Keramik Perajin Keramik / Potter Tanah Liat (Clay) Pembentukan pembakaran tinggi dan pembentukan glasir
Kerajinan Limbah Organik Kriyawan / Perajin Daur Ulang Bonggol Jagung Ukir, perakitan, dan penyelesaian akhir dekoratif
Lukisan Kulit Kayu Pelukis Khombouw / Seniman Tradisional Kulit Kayu Khombouw Pewarnaan alami dan melukis pola etnik Sentani

Tantangan dan Dinamika Bisnis Kerajinan Tangan

Menjadi seorang perajin atau pembuat benda kerajinan tidak lepas dari pasang surut industri. Perubahan tren pasar, persaingan dengan barang buatan pabrik, serta fluktuasi ekonomi menjadi ujian nyata yang harus dihadapi para kriyawan.

Banyak perajin yang harus memutar otak agar produk mereka tetap relevan di mata konsumen modern. Mengikuti ajang pameran dan memanfaatkan jaringan bisnis menjadi langkah penting yang kerap diambil.

1. Pasang Surut Penjualan dan Pameran

Sebagai gambaran, Jinjit Pottery aktif mengikuti pameran kerajinan bergengsi seperti Inacraft sejak tahun 2001 hingga 2013. Momen pameran ini menjadi ajang krusial untuk memperkenalkan karya seni keramik handmade ke pasar yang lebih luas.

Puncak penjualan Jinjit Pottery sempat terjadi pada rentang tahun 2009-2010 sebelum akhirnya mengalami penurunan pasca-2013. Kondisi pasar yang tidak menentu bahkan memaksa Antin Sambodo untuk beristirahat penuh dari aktivitas produksi selama tahun 2014-2015 sebelum akhirnya bangkit kembali.

2. Jangkauan Pasar Produk Kerajinan Daerah

Di sisi lain, kerajinan logam dari Buleleng Bali membuktikan bahwa produk tradisional tetap memiliki pangsa pasar yang sangat luas. Melalui pelatihan terarah dari Kementerian Perindustrian RI serta dukungan dana BUMDes untuk pembelian mesin dan sarana prasarana, kapasitas produksi perajin lokal berhasil ditingkatkan.

Produk berbahan logam asal Desa Sawan ini tidak hanya dipasarkan untuk kebutuhan lokal Bali. Jangkauan penjualannya menembus wilayah Sumatra, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat (NTB), hingga Nusa Tenggara Timur (NTT), mencakup alat pendukung pertanian, peralatan dapur, hingga instrumen musik gong.

Produk Kerajinan Bahan Buatan – Prakarya | Kathleen Illustrated

Perlindungan Hukum dan Pelestarian Nilai Budaya

Di tengah pesatnya perkembangan industri kreatif, karya buatan tangan sangat rentan terhadap peniruan atau jiplakan desain. Oleh karena itu, pemahaman mengenai hak kekayaan intelektual (HKI) menjadi hal yang semakin krusial bagi para perajin lokal.

Menciptakan benda kerajinan bukan sekadar merangkai bahan mentah, melainkan menuangkan identitas, sejarah, serta ketelitian yang tidak bisa digantikan oleh mesin otomatis.

Langkah perlindungan hukum ini penting agar nilai ekonomis dan apresiasi terhadap karya asli tetap terjaga. Tanpa adanya perlindungan dan regenerasi pembuatnya, kekayaan warisan kriya Nusantara terancam punah digerus zaman.

Mendukung karya perajin lokal dengan membeli produk kerajinan tangan asli adalah langkah nyata untuk menjaga keberlanjutan ekonomi kreatif serta melestarikan profesi para kriyawan di Indonesia.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang