Pakar IPB Soroti Pola Asuh Terkait Ketahanan Mental Gen Alfa

8 Agustus 2026, 08:16 WIB

Pakar Pengasuhan dan Perkembangan Anak IPB University Prof Dwi Hastuti menilai label 'Anak AC' atau tak tahan panas pada Gen Alfa sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan serta pola asuh, dilansir dari Detikcom pada Jumat (7/8/2026).

Generasi yang lahir pada kurun 2010–2025 tersebut tumbuh di tengah pesatnya teknologi digital dan ketercukupan fasilitas kenyamanan sejak dini, termasuk pendingin udara. Ketersediaan sarana yang serba praktis ini memicu kebiasaan berpikir instan, seperti langsung menyalakan pendingin ruangan tanpa berupaya mencari alternatif lain saat merasa kegerahan.

Di samping itu, gaya hidup minim aktivitas fisik atau sedentary life turut membentuk kepribadian mereka. Budaya kepraktisan di lingkungan keluarga dan sekolah mengubah kebiasaan mobilitas anak, misalnya peralihan dari berjalan kaki menjadi terbiasa diantar jemput menggunakan kendaraan motor atau mobil.

"Dari perspektif psikologis, kondisi tersebut membuat anak-anak gen Alfa cenderung terbiasa memperoleh kemudahan sehingga karakter kegigihan, ketahanan mental, dan daya juang mereka berpotensi tidak sekuat generasi sebelumnya," ujar Prof Dwi Hastuti, Pakar Pengasuhan dan Perkembangan Anak IPB University.

Untuk mengatasi fenomena tersebut, pembentukan ketangguhan anak memerlukan peran aktif orang tua melalui pemberian teladan serta penjelasan logis atas setiap tindakan. Langkah ini bertujuan agar anak terlatih berpikir kritis dan mampu mengambil keputusan secara mandiri.

"Ajak anak untuk mengalami juga bagaimana jika ia harus jalan kaki, bagaimana jika tiba-tiba tidak punya uang, tidak punya aneka fasilitas yang membantu mereka. Hal ini agar anak terbiasa dengan manajemen risiko, sehingga ia tidak bermental 'lembek', mudah menyerah serta mudah putus asa," jelas Prof Dwi Hastuti.

Pengenalan realitas sosial di lingkungan sekitar juga penting dilakukan guna menumbuhkan rasa empati dan melatih kemampuan berdiskusi anak saat menghadapi berbagai dinamika kehidupan. Ketergantungan berlebih pada fasilitas dan pelayanan orang tua berisiko menyulitkan anak dalam menghadapi tantangan masa depan.

"Hal ini karena salah satu kunci keberhasilan anak di masa depan adalah individu yang agile, mudah beradaptasi, dan menyelesaikan masalah serta kreatif," jelas Prof Dwi Hastuti.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang