Pancasakti Run 2026 Beri Dampak Ekonomi Rp 18 Miliar di Banten

8 Agustus 2026, 17:04 WIB

Ajang lari rekreasi Pancasakti Run 2026 yang digelar di BSD City, Tangerang, terbukti memberikan dampak finansial yang signifikan bagi perekonomian lokal. Perhelatan olahraga tersebut diperkirakan menyumbang dampak ekonomi hingga Rp 18 miliar bagi Provinsi Banten, seperti dilansir dari Detik Sport.

Hasil riset Katadata Insight Center (KIC) bertajuk "Lebih dari Sekadar Lari: Menakar Dampak Ekonomi Pancasakti Run 2026" menunjukkan adanya dorongan nyata terhadap peningkatan omzet, jumlah pelanggan, hingga modal usaha para pelaku UMKM setempat.

Studi yang dilakukan tiga pekan pasca-event melalui survei tatap muka pada 19 Juli terhadap 68 responden ini mencatat kontribusi ajang tersebut terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) lima subkategori lapangan usaha terkait di Banten mencapai sekitar 0,006% dari total Rp 171,6 triliun.

Deputy Head Katadata Insight Center, Satria Triputra memaparkan bahwa pengeluaran langsung dari sekitar 5.000 pelari dengan rata-rata belanja Rp 788 ribu per orang menghasilkan dampak langsung sebesar Rp 3,9 miliar dan dampak lanjutan (multiplier) sebesar Rp 10,4 miliar.

Selain itu, partisipasi sekitar 8.500 pengunjung dengan rata-rata belanja Rp 338 ribu per orang menyumbang dampak langsung Rp 2,9 miliar serta dampak multiplier Rp 7,6 miliar. Nilai multiplier sebesar 2,63 mengindikasikan setiap Rp 1 belanja peserta dan pengunjung berpotensi menaikkan pendapatan ekonomi lokal sebesar Rp 2,63.

Sektor kuliner menjadi penerima manfaat paling dominan. Porsi belanja makanan dan minuman mencapai 30,9% dari total pengeluaran pelari serta 54,0% dari total pengeluaran pengunjung selama di Tangerang.

Di luar sektor kuliner, para peserta lari mengalokasikan dana mereka untuk akomodasi penginapan (24,7%), hiburan wisata (16,5%), dan transportasi lokal (15,9%). Sementara itu, kelompok pengunjung lebih banyak membelanjakan uang untuk transportasi (29,0%) serta pembelian merchandise (16,8%).

"Hasil riset ini menegaskan bahwa event lari seperti Pancasakti Run bukan sekadar ajang olahraga, melainkan juga penggerak ekonomi daerah yang nyata. Uang yang dibelanjakan pelari dan pengunjung berputar di sektor kuliner, akomodasi, dan transportasi lokal, lalu memberi efek berganda bagi pelaku usaha di sekitarnya. Ini menjadi bukti bahwa sport tourism dapat menjadi salah satu instrumen strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di tingkat lokal," kata Satria.

Survei KIC mencatat sebanyak 75,0% atau 7 dari 10 pelaku usaha di sekitar lokasi acara mengalami peningkatan omzet rata-rata sebesar 20,0%. Seluruh pelaku usaha yang disurvei (100%) juga melaporkan kenaikan jumlah pelanggan dengan rata-rata mencapai 150,5%.

Dampak positif ini turut memperkuat permodalan dan penyerapan tenaga kerja lokal. Sebanyak 62,5% pelaku usaha mengalami kenaikan modal usaha rata-rata 22,8%, dan 62,5% di antaranya menambah tenaga kerja baru dengan rata-rata peningkatan sebesar 26,7%.

Tingkat pengenalan masyarakat terhadap Pancasakti Run mencapai 93,3%, menjadikannya sebagai ajang lari dengan awareness tertinggi di antara beberapa event lari nasional yang menjadi pembanding dalam survei KIC.

CEO Pancasakti Group Suwandy Tasmadi menjelaskan bahwa ajang ini dihadirkan sebagai wadah gaya hidup aktif, sarana kolaborasi, serta komitmen lingkungan melalui aksi penanaman pohon.

"Melalui setiap langkah para peserta, kami ingin mengajak masyarakat menjadi bagian dari semangat transformasi Pancasakti menuju masa depan yang lebih kuat dan berkelanjutan. Kami percaya bahwa perusahaan yang sehat berawal dari manusia yang sehat," kata Suwandy.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang