Memakai baju adat Solo sering kali menjadi tantangan tersendiri karena detail kelengkapannya yang rumit dan membutuhkan ketelitian tinggi agar tidak keliru.
Baju adat Jawa Tengah Solo merupakan simbol identitas masyarakat yang menyimpan makna mendalam serta menjadi bagian tak terpisahkan dari berbagai upacara adat dan tradisi masyarakat setempat. Memahami urutan pemakaian yang benar akan membuat penampilan Anda terlihat gagah atau anggun secara proporsional.
Banyak orang merasa bingung saat harus menyusun kain jarik atau mengancingkan beskap dengan benar. Melalui panduan praktis ini, Anda akan dituntun langkah demi langkah untuk mengenakan pakaian adat tersebut sesuai dengan pakem aslinya.
Sebelum kita masuk ke langkah-langkah pemakaian, Anda harus tahu dulu apa saja baju adat solo yang wajib disiapkan di atas meja. Pakaian adat Solo untuk pria adalah beskap, sedangkan pakaian adat untuk wanita adalah kebaya.
Jangan sampai ada komponen yang tertinggal karena setiap elemen saling mengunci penampilan satu sama lain. Aksesoris pelengkap untuk menyempurnakan penampilan dan menambah nilai filosofis baju adat Solo di antaranya adalah blangkon dan keris.
- Kain jarik (batik) yang sudah diwiru (dilipat rapi pada bagian ujungnya).
- Stagen atau korset kain untuk melilit pinggang.
- Epek, timang, dan lerep (sabuk kulit khas Jawa).
- Beskap (untuk pria) atau kebaya (untuk wanita).
- Blangkon gaya Surakarta (Solo).
- Keris dan untaian bunga melati (untuk pria).
- Selop atau alas kaki tradisional.
Jika Anda tidak memiliki koleksi pribadi di rumah, jangan khawatir. Menyewa pakaian adat menjadi pilihan yang praktis dan ekonomis bagi masyarakat yang membutuhkan pakaian adat Solo tanpa harus membelinya.
Panduan Langkah demi Langkah Memakai Pakaian Adat Solo Pria
Memakai busana pria atau jangkep memerlukan bantuan orang lain pada beberapa langkah, terutama saat melilitkan kain dan memasang keris di bagian belakang tubuh.
Dari pengalaman saya menangani persiapan busana pengantin dan acara resmi, kesalahan umum yang saya lihat adalah arah lipatan wiru jarik yang terbalik antara gaya Solo dan gaya Yogyakarta.
1. Memasang Kain Jarik Kebat
Mulailah dengan mengenakan celana kolor pendek atau celana kain tipis sebagai dasar. Ambil kain jarik yang sudah diwiru kelipatannya.
Untuk gaya Solo, lipatan wiru harus menghadap ke arah kanan saat dipakai oleh pria. Lilitkan kain melingkari pinggang dengan kencang, pastikan ujung wiru jatuh tepat di tengah-tengah kaki depan.
Ikat bagian pinggang menggunakan tali kasur atau langsung kunci dengan stagen kain secara memutar. Lilitan stagen ini berfungsi menjaga perut tetap tegap selama acara berlangsung.
2. Memasang Sabuk Epek dan Timang
Setelah stagen terpasang rapi, pasang epek (sabuk kulit lebar) di atas lilitan stagen tersebut. Kancingkan menggunakan timang dan lerep.
Pastikan posisinya simetris di depan perut. Sabuk ini bukan sekadar hiasan, melainkan penopang utama untuk menyisipkan keris nantinya.
3. Mengenakan Beskap
Pakaikan beskap secara perlahan ke tubuh. Desain beskap Solo memiliki potongan kancing yang menyamping atau asimetris di bagian depan.
Kancingkan semua bagian dengan benar. Perhatikan potongan bagian belakang beskap yang melengkung ke atas; desain ini dibuat khusus agar gagang keris tidak tertutup kain.
4. Menyisipkan Keris dan Memakai Blangkon
Minta bantuan rekan Anda untuk menyisipkan keris ke dalam epek bagian belakang. Keris harus dipasang miring ke arah kanan atas.
Terakhir, kenakan blangkon di kepala. Ciri khas blangkon Solo adalah bagian belakangnya yang datar atau trepes, berbeda dengan gaya Yogyakarta yang memiliki tonjolan (mondolan).
Panduan Langkah demi Langkah Memakai Pakaian Adat Solo Wanita
Untuk wanita, pakaian adat solo pria dan wanita jelas memiliki perbedaan mendasar pada bagian atasan serta arah lipatan kain jarik.
Kesalahan yang paling sering saya temui di lapangan adalah lilitan jarik wanita yang terlalu longgar, sehingga membuat ruang gerak menjadi tidak nyaman dan kain mudah melorot.
1. Melilitkan Kain Jarik Wanita
Berbeda dengan pria, lipatan wiru pada kain jarik wanita gaya Solo harus menghadap ke arah kiri. Lilitkan kain dari kanan ke kiri dengan tingkat kekencangan yang pas.
Pastikan bagian bawah kain menutupi mata kaki tetapi tidak sampai menyentuh lantai agar Anda tidak tersandung saat berjalan. Kunci menggunakan stagen atau korset modern di sekeliling perut hingga pinggang.
2. Mengenakan Kebaya Solo
Kenakan kebaya Solo yang umumnya terbuat dari kain bludru atau brokat memanjang. Pasang kancing atau peniti jepret di bagian depan.
Jika menggunakan kebaya kutubaru, pasang juga kain penutup dada (bef) di bagian tengah dengan menggunakan peniti kecil yang disembunyikan di balik lipatan kain.
3. Menyematkan Aksesoris Pelengkap
Pasang bros bertingkat di bagian dada tengah atau pada sambungan kebaya. Gunakan perhiasan subang pada telinga dan tata rambut dengan sanggul pegunungan khas Solo yang anggun.
Daftar Perbandingan Komponen Utama Busana Solo
Aksesoris pelengkap pada baju adat Jawa Tengah Solo berfungsi sebagai bagian penting dari warisan budaya yang perlu dilestarikan, bukan sekadar hiasan. Setiap komponen membedakan peran serta fungsi pemakainya.
Berikut adalah rincian perlengkapan baju adat jawa tengah khusus gaya Surakarta untuk mempermudah Anda dalam mengecek kelengkapan sebelum acara dimulai.
| Komponen Busana | Gaya Pria (Jangkep) | Gaya Wanita (Kebaya) |
|---|---|---|
| Atasan Utama | Beskap | Kebaya |
| Arah Wiru Jarik | Kanan | Kiri |
| Penutup Kepala | Blangkon Trepes | Sanggul Solo |
| Senjata Tradisional | Keris | – |
| Alas Kaki | Selop Pria | Selop Wanita |
Sentuhan Akhir untuk Memastikan Kenyamanan Bergerak
Setelah seluruh komponen terpasang, lakukan uji coba gerakan kecil. Berjalanlah beberapa langkah, cobalah untuk duduk dan berdiri kembali untuk memastikan lilitan stagen tidak terlalu mencekik dada atau membuat Anda kesulitan bernapas.
Pastikan posisi blangkon tegak lurus dan simetris dengan garis hidung Anda. Untuk wanita, pastikan peniti pada kebaya dan kain tidak ada yang menusuk kulit saat tubuh berputar.
Merawat penampilan busana adat ini memerlukan postur tubuh yang tegap. Cara berjalan yang perlahan dan tenang tidak hanya menjaga ikatan kain tetap rapi, tetapi juga memancarkan aura wibawa dan keanggunan sejati masyarakat Jawa.







