Di tengah kehancuran akibat perang dan tingkat pengangguran yang tinggi, semakin banyak warga Gaza bertahan hidup melalui ekonomi digital dengan bekerja secara daring untuk klien di luar negeri, dilansir dari Detikcom.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut tingkat pengangguran di Gaza telah melampaui 80%, sangat meningkat dari sekitar 22% sebelum perang. Sebagian besar dari dua juta penduduk Gaza kini bergantung pada bantuan kemanusiaan dan menghadapi keterbatasan besar dalam mencari penghasilan.
Walaa Volidis, insinyur perangkat lunak berusia 24 tahun, menceritakan pengalamannya berjuang mempertahankan karier di sektor teknologi meski tinggal di tenda dan menghidupi keluarganya yang mengungsi.
"Saya seperti terpuruk, tenggelam dalam ketidakpastian," ujar Walaa. "Namun jauh di lubuk hati, saya membuat keputusan: ini tidak akan menjadi akhir, seberat apa pun situasinya. Saya akan terus memperjuangkan impian saya."
Walaa mengikuti pelatihan daring dari mentornya di Silicon Valley dan bertekad memperbarui keterampilan di bidang kecerdasan buatan (AI). Ia menjadi bagian dari ribuan warga Gaza yang membangun karier di ekonomi digital sebagai sumber penghasilan utama.
Nicole Hark dari Mercy Corps, organisasi kemanusiaan asal AS, menyebut pekerjaan digital di Gaza sebagai "penyambung hidup digital." Menurutnya, jika warga memiliki laptop dan koneksi internet yang berfungsi, mereka masih dapat bekerja dan memperoleh penghasilan tanpa bergantung sepenuhnya pada bantuan kemanusiaan.
Tarik Zaeem, mantan chief technology officer yang kini bekerja sebagai pemrogram lepas, mengatakan memulai kariernya kembali dari nol dan menggunakan penghasilan untuk menghidupi keluarga di Mesir. Ia menghadapi kesulitan menerima pembayaran karena keterbatasan layanan perbankan dan uang tunai yang langka di Gaza.
"Jumlahnya tidak cukup untuk hidup layak," ujar Tarik. "Hanya cukup untuk kebutuhan dasar."
Mahran Bayed, pekerja teknologi lain di Gaza, menjelaskan bahwa timnya selalu meyakinkan klien bahwa pekerjaan akan selesai secara daring walaupun risiko serangan terus mengancam.
"Jika kami mendapatkan proyek teknologi yang membutuhkan waktu tiga hingga empat bulan, kami biasanya mengatakan kepada klien: 'Harap diketahui bahwa seluruh pekerjaan akan dilakukan secara online. Jika kami terbunuh, pekerjaan Anda tetap akan selesai dan diserahkan kepada Anda'," kata Mahran.
Mahran kini tinggal di tenda setelah rumahnya hancur akibat serangan dan bekerja menggunakan monitor eksternal karena layar laptopnya rusak. Bengkel perbaikan di Gaza berusaha memanfaatkan suku cadang dari perangkat rusak untuk memperbaiki komputer yang masih bisa digunakan.
Otoritas pertahanan Israel mengategorikan komputer dan komponen sebagai barang dengan "penggunaan ganda" sehingga impor barang tersebut ke Gaza dilarang, membatasi perbaikan dan pengadaan perangkat teknologi.
Walaa kini mendapat dukungan dari TAP, perusahaan rintisan sosial Palestina-Belanda, yang membantu menghubungkannya dengan mentor dan pemberi kerja. Ia baru saja memperoleh pekerjaan penuh waktu di perusahaan berbasis Dubai dan fokus memperbaiki kehidupan keluarganya serta mencari perawatan medis untuk adiknya yang mengalami limfedema.
"Harapan pertama saya adalah membantu keluarga saya memiliki kehidupan yang lebih baik dan membantu adik saya keluar dari Gaza agar bisa mendapatkan pengobatan," ujar Walaa.
Meski konflik dan serangan masih berlangsung, para pekerja teknologi di Gaza menunjukkan ketahanan dan memberikan harapan masa depan yang lebih cerah melalui ekonomi digital, walau situasi masih penuh tantangan.







