Timnas Indonesia U22 harus mengakui keunggulan Mali dengan skor 0-3 dalam laga uji coba pertama yang berlangsung di Stadion Pakansari, Bogor. Meski mengalami kekalahan lewat gol-gol dari Sekou Doucoure, Wilson Samake, dan Moulaye Haidara, skuad asuhan Indra Sjafri ini berhasil memetik total 5 pelajaran berharga untuk dievaluasi.
- Memperbaiki cara bertahan saat bola mati — Indonesia harus mengevaluasi pertahanan dalam mengantisipasi situasi bola mati seperti sepak pojok yang menjadi pemicu lahirnya gol pertama Mali.
- Memperbaiki permainan saat menguasai bola — Pemain tengah dituntut lebih cepat mengambil keputusan dalam membagi bola di ruang sempit agar tidak mudah direbut lawan saat menaikkan garis pertahanan, yang sebelumnya memicu gol kedua Mali lewat skema serangan balik cepat.
- Memperbaiki koordinasi di garis pertahanan — Lini belakang wajib segera mengambil keputusan untuk membagi atau melepas bola ke area lawan saat ditekan, demi meminimalisasi risiko bola direbut di area sensitif yang menjadi penyebab lahirnya gol ketiga lawan.
- Meningkatkan efektivitas serangan di kotak penalti — Koordinasi pemain di sepertiga akhir lapangan perlu ditingkatkan karena dari 7 tembakan (4 tepat sasaran) dan 8 umpan silang, hanya 2 umpan silang yang berhasil menemui sasaran.
- Meningkatkan kemampuan duel udara — Skuad Garuda Nusantara harus mengasah faktor timing dan kemampuan membaca arah bola setelah tercatat hanya memenangkan 1 dari 6 total duel udara (17% berbanding 83%) dalam pertandingan ini.
Laga uji coba kedua antara Indonesia vs Mali dijadwalkan akan kembali digelar pada Selasa (18/11) pukul 20.00 WIB di Stadion Pakansari. Pertandingan susulan ini akan menjadi pembuktian proses perbaikan performa Indonesia sebelum tampil di ajang SEA Games 2025.






